Hasto Suprayogo
Hasto Suprayogo

indonesian creative designer & digital marketing consultant | astayoga@gmail.com | http://www.hastosuprayogo.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Pelajaran Berharga dari Meningkatnya Ateisme di Turki

11 Januari 2019   22:27 Diperbarui: 15 Januari 2019   00:23 1503 14 8
Pelajaran Berharga dari Meningkatnya Ateisme di Turki
dw.com

Sebuah kabar mengejutkan bagi banyak orang datang dari Turki. Kantor berita Deutsche Welle (DW) menyebut jumlah penduduk Turki yang mengaku atheis meningkat tiga kali lipat dalam 10 tahun belakangan, sebaliknya jumlah yang mengaku menganut Islam turun dari 55 menjadi 51 pesen.

Berita tersebut didasarkan laporan Konda, sebuah lembaga riset dan konsultasi di Turki yang didirikan oleh Tarhan Erdem, mantan Menteri Industri dan Teknologi di era 70-an.

Apa sebab trend semacam ini?

Menurut Cemil Kilic, seorang tokoh agama sekaligus pendiri lembaga Atatrk, Cumhuriyeti lahiyatlar (Kemalist Republican Theologians), peningkatan warga yang mengaku atheist merupakan reaksi dari kuatnya penggunaan agama Islam dalam politik di Turki dalam 16 tahun belakangan, utamanya sejak Recep Tayyip Erdogan berkuasa.

"People reject the predominant interpretation of Islam, the sects, religious communities, the directorate of religious affairs and those in power. They do not want this kind of religion and this official form of piousness." ujar Kilic sebagaimana dikutip dari halaman berita DW tersebut.

Laporan yang tentunya mengejutkan banyak pihak, salah satunya di Indonesia, khususnya mereka yang menggandrungi Turki sebagai barometer negara muslim panutan.

Berita Atheisme di Turki Karena Erdogan (Deutsche Welle) | tangkapan layar pribadi
Berita Atheisme di Turki Karena Erdogan (Deutsche Welle) | tangkapan layar pribadi
Turki dan Indonesia mempunyai banyak kesamaan. Sama-sama negara demokrasi, sama-sama mempunyai mayoritas penduduk muslim, dan belakangan sama-sama merasakan meningkatnya tendensi islamisasi di berbagai bidang, khususnya sosial dan politik.

Tak perlu berupaya keras untuk melihat bukti penggunaan Islam dan simbol-simbolnya dalam ranah perebutan kekuasaan. Tak susah menemukan narasi dan justifikasi berlabel agama di sana. Dan tak susah mencari pro kontra terhadapnya, khususnya di internal komunitas muslim sendiri.

Apa pelajaran bagi kita, umat muslim tanah air atas fenomena di Turki ini? Apa yang bisa kita petik dan mungkin kita hindarkan?

Satu hal yang saya pikir bisa kita pelajari adalah, satu pandangan dan pendekatan ekstrim dalam berkehidupan akan melahirkan penolakan berupa pandangan ekstrim sebaliknya. Pemaksaan penggunaan agama dan simbol-simbolnya dalam politik akan melahirkan reaksi kontra penolakan ekstrim terhadap agama dalam politik dan bahkan dalam kehidupan personal penganutnya.

Pendulum itu ada dan selalu bergerak menuju keseimbangan. Ketika dia ditarik terlalu keras ke satu arah, dia akan berayun ke arah sebaliknya.

Pertanyaanya, apakah kita mau mengalami efek tarikan pendulum seekstrim Turki untuk sadar bahwa hal itu bisa dihindari dengan mengaplikasikan pendekatan moderat dalam beragama dan berpolitik?

Tabik!