Hasto Suprayogo
Hasto Suprayogo

indonesian creative designer & online social media consultant | astayoga@gmail.com | http://www.hastosuprayogo.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Mengapa Hidup di Kota Buruk untuk Kita?

5 Desember 2017   02:05 Diperbarui: 5 Desember 2017   16:06 1875 6 1
Mengapa Hidup di Kota Buruk untuk Kita?
Kemacetan Jakarta. Sumber: tempo.co

Mereka yang tinggal di kota semacam Jakarta pasti pernah mengeluh tentang betapa buruk dan menyebalkannya hidup di ibu kota. Jika tidak sering, bisa jadi malah selalu mengeluh. Saya termasuk satu di antaranya, mungkin begitu pula dengan Anda, dan jutaan Jakartans lainnya.

Namun, dengan berbagai alasan--serta lebih sering pembenaran--banyak dari kita berbondong-bondong menyesakinya. Sehingga keluhan satu berlanjut keluhan berikutnya, berlanjut keluhan lainnya, bagaikan siklus tak berawal apalagi berakhir.

Ada sebuah artikel menarik di Business Insider yang mencatat daftar berbagai alasan mengapa hidup di kota buruk bagi kita. Berikut saya sarikan untuk Anda. Silahkan cocokkan dengan kondisi di kota tempat tinggal Anda, siapa tau benar adanya.

1. City life literally makes us crazy

Yep, kehidupan kota membuat kita gila. Penelitian National Institute of Health (NIH), Amerika Serikat, pada 2010 menyebut, mereka yang tinggal di perkotaan mempunyai resiko 21% lebih tinggi mengalami anxiety disorder serta 39% lebih tinggi mengalami mood disorder dibanding warga pedesaan.

Coba tengok sekitar kita, apakah Anda, kerabat, kawan atau kolega di kantor menunjukkan kepanikan berlebihan dan atau perubahan mood tiba-tiba? Kalau di Jakarta, khususnya di jalanan--khususnya saat macet--kedua hal ini menemukan wujudnya secara nyata.

2. Semua hal memburu di kota

Pernahkah Anda merasakan kalau hidup terasa berjalan cepat saat di kota besar, sementara waktu Anda pulang kampung atau berlibur ke luar kota segalanya terasa lebih lamban?

Hal ini terkait dengan apa yang disebut sebagai pace of life. Di mana di perkotaan, alur kehidupan bergerak lebih cepat dibanding pedesaan. Alur yang cepat ini, menjadi salah satu pemicu berbagai problem mental sebagaimana disebut sebelumnya.

3. Polusi di kota membunuh

Adalah rahasia umum, bahwa udara di perkotaan dipenuhi polusi, yang ujungnya buruk untuk kesehatan warganya. Tengok sendiri di Jakarta dengan jutaan kendaraan bermotor bersliweran setiap harinya. 

Studi yang sama menunjukkan korelasi kuat antara polusi udara perkotaan dengan berbagai penyakit mematikan, seperti penyumbatan arteri, jantung dan kanker paru-paru. 

4. Warga kota lebih gampang alergi

Ditemukan pula dalam riset tadi, warga perkotaan cenderung lebih gampang mengalami alergi dibandingkan mereka yang tinggal di pedesaan. Selain itu, anak-anak yang tinggal di perkotaan jauh lebih banyak mengalami masalah pernapasan, khususnya asma. Hal ini terkait erat dengan berbagai faktor, seperti stress, berbagai polutan, mikroba, dan allergen.

5. Polusi suara ternyata mematikan

Jangan kaget ya, ternyata tingginya polusi suara di perkotaan bisa menyebabkan kematian. Hal ini diketahui dari riset NIH pada tahun 2015 terhadap 8,6 juta warga London di mana ditemukan korelasi kuat antara polusi suara di ibukota Inggris tersebut dengan tingkat kematian.

Sementara, riset sama menunjukkan pula hubungan antara tingginya polusi suara di perkotaan dengan tingginya resiko serangan stroke pada warga lanjut usia.

6. Polusi cahaya menyebabkan Social Jetlag

Kota tak pernah tidur karena benderang lampu terdengar positif. Namun, riset NIH tahun 2014, menunjukkan cahaya berlebihan di kota buruk bagi kesehatan manusia. 

Sebagaimana buruknya lampu menyala saat kita tidur, dalam jangka panjang, warga perkotaan mengalami social jetlag, kencenderungan gangguan fisik karena tubuh bekerja keras menyesuaikan perubahan jam tidur di hari kerja dan hari libur.

Kondisi ini, ternyata memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas hingga resiko penyakit kronik seperti diabetes.

7. Kota dipenuhi masyarakat yang tak acuh

Yes, ini adalah kondisi umum di hampir semua kota. Mungkin karena mereka yang hidup di dalamnya adalah pendatang, individualisme dan acuh tak acuh adalah norma yang mengatur.

Daftar ini bisa kita lanjutkan hingga belasan halaman. Apalagi kalau kita mau bicara kasus spesifik seperti Jakarta, di mana problem sosial, ekonomi, hukum, budaya dan lain sebagainya menghampar di setiap sudut. 

Kemacetan, buruknya transportasi publik, fasilitas umum yang minim, kejahatan dan buruknya keamanan, premanisme, birokrasi yang lamban, hingga problem tawuran siswa dan warga adalah beberapa di antaranya.

Hidup di Desa. Sumber: goodmorningfun.com
Hidup di Desa. Sumber: goodmorningfun.com

Dengan berbagai kondisi buruk seperti di atas, pertanyaan besar yang mustinya kita sampaikan adalah, mengapa masih saja hidup di kota? Kenapa tak pindah atau kembali ke desa, ke kampung halaman--buat yang punya--dan menjalani hidup yang 'lebih nyaman' di sana?

Tak usah Anda jawab ke saya. Cukup jawab untuk diri Anda sendiri. Mungkin, luangkan waktu untuk memikirkannya. Toh pada akhirnya, apa yang kita kejar dalam hidup selain kebahagiaan hidup itu sendiri. Dan pastinya, kebahagiaan macam apa yang didapat dari berdesak-desakkan di kota semacam Jakarta.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip slogan kampanye seorang mantan Gubernur Jawa Tengah; Bali Ndeso, Mbangun Deso. Ayo kembali ke desa, Ayo membangun desa.