Mohon tunggu...
Mohamad Asruchin
Mohamad Asruchin Mohon Tunggu... -

Pemerhati masalah sosial-politik, \r\ntinggal di Bekasi, Jawa Barat - Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

"Honour Killing" di Pakistan

9 Januari 2018   18:07 Diperbarui: 9 Januari 2018   18:18 1442
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Naluri kaum lelaki nampaknya selalu ingin melebihi kaum wanitanya karena beranggapan bahwa manusia pertama yang diciptakan Tuhan adalah Adam, kemudian disusul Hawa yang berasal dari tulang rusuknya. Dominasi pria atas wanita (male dominated societies) merupakan bentuk budaya yang hidup di kalangan banyak suku bangsa di dunia dengan berbagai latar belakang kepercayaan atau agama. Bagian budaya dominasi pria dalam masyarakat atau kelompoknya yang sangat menghentak rasa kemanusiaan kita dan bertentangan dengan prinsip-prinsip universal hak azasi manusia adalah terjadinya honour killing.

Hampir di semua agama besar seperti Hindu, Yahudi, Kristen dan Islam terdapat penganut maupun tokohnya yang mendukung dilaksanakannya honour killing terhadap seseorang yang dianggap telah mengancam kehormatan keluarga. Perbuatan tersebut ternyata juga menyebar di seluruh dunia tidak terbatas pada suku atau kelompok tertentu baik yang tinggal di pelosok pedesaan bahkan masih ditemukan juga di tengah perkotaan. Diruntut dari sejarahnya, perbuatan honour killing sebenarnya sudah tumbuh dan berkembang sebelum agama-agama besar ada.

Praktek mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang lahir sudah lazim dijalankan oleh kaum kafir Qurais di zaman Jahiliyah sebelum Islam disiarkan oleh Nabi Muhammad di Jazirah Arab. Hal serupa juga ditemukan pada bangsa Aztec dan Inca di Benua Amerika. Pada bangsa Roma dan Yunani kuno, perempuan yang kedapatan atau dituduh berzina harus dienyahkan sebagai tindakan penyucian diri pelaku. Hukuman pendosa oleh bangsa Mesir adalah mutilasi, bangsa Cina menghukum mati melalui injakan gajah, dan bangsa Babilon menyuruh pelaku menyebur ke sungai. Dalam cerita Ramayana, Shinta harus membuktikan kesuciannya dari noda Rahwana dengan cara membakar diri.

Di jaman modern pun praktek honour killing masih dilestarikan oleh masyarakat tertentu. Komisi HAM PBB mengumpulkan laporan-laporan dari sumber terbuka maupun laporan lisan, mencatat bahwa berbagai bentuk honour killingmasih tetap dilakukan di antara masyarakat bangsa di dunia dari benua Afrika, Asia, Eropa dan Amerika. Secara umum, budaya honour killingmerupakan kegiatan penghukuman termasuk pembunuhan seorang (wanita) oleh ayah, saudara laki-laki atau anggota keluarga lainnya karena dianggap mencemarkan kehormatan keluarga: seperti menolak menikah pilihan keluarga (arranged marriage), menikah dengan pilihan sendiri, berselingkuh, dan berperilaku sex menyimpang (homo atau lesbian), dll.

Sejalan dengan perkembangan jaman, ketika emansipasi wanita sudah menjalar dari Benua Eropa dan Amerika ke bagian dunia lainnya, budaya dominasi pria atas wanita tetap subur di negara-negara berkembang, termasuk di wilayah Asia Selatan. Adanya jabatan publik termasuk Perdana Menteri di India dan Pakistan pernah diduduki oleh kaum perempuan hanya populer di wilayah perkotaan dan kalangan terpelajar. Di pedesaan dan daerah-daerah pedalaman yang hidup dari hasil pertanian atau perkebunan, struktur masyarakat feodal yang menempatkan dominasi pria atas wanita dalam masyarakat (male dominated society) tetap tumbuh subur.

 

Honour Killing (Karo-Kari) di Pakistan

Kelompok kaum tuan tanah versus kaum buruh kasar di Pakistan sebagaimana golongan Rajput dan Dalitdi India merupakan dua komunitas yang sangat berbeda, bagaikan air dan minyak yang tidak mungkin disatukan. Artinya interaksi kehidupan terutama penyatuan antara dua keluarga dalam bentuk perkawinan hanya bisa berlangsung antara kelompok yang sama. 

Penyimpangan atau pengingkaran terhadap perbedaan dua komunitas ini, seperti love affair antara muda-mudi dari komunitas yang berbeda bisa berakibat fatal dalam bentuk honour killing -- biasanya dilakukan oleh pihak tuan tanah terhadap wanita yang terlibat asmara baik dari keluarga sendiri atau pasangannya maupun kedua-duanya.

Honour Killing dalam bahasa Urdu (Pakistan) disebut Karo-Kari yang arti harfiahnya adalah Pria Pendosa (Karo) dan Wanita Ternoda (Kari) -- yang asal mulanya dikaitkan dengan keterlibatan pria-wanita dalam hubungan asmara sebelum atau di luar ikatan perkawinan. Apabila seorang wanita berbuat Kari, yaitu melakukan hubungan asmara dengan lelaki yang bukan suaminya, maka ia merupakan "aib" atau noda bagi keluarganya yang harus dihukum termasuk dilenyapkan/dibunuh oleh ayah, saudara lelakinya atau suaminya yang bisa dilakukan sendiri atau dengan menyewa orang lain.

Sejumlah peristiwa honour killing (karo-kari) yang sangat menghebohkan di Pakistan, antara lain terjadi pada bulan Juni 2002 ketika seorang perempuan bernama Mukhtaran Bibi (30 tahun) dari kalangan buruh tani suku 'Gujar' diperkosa rame-rame oleh beberapa lelaki di desa Mirwali, Provinsi Punjab, sebagai hukuman yang dijatuhkan oleh dewan tetua adat kelompok tuan tanah 'Mastoi' karena kesalahannya membiarkan adik lelakinya membangun hubungan cinta dengan seorang gadis dari keluarga suku Mastoi. Pada tahun 1992 seorang wanita bernama Samia Samar yang sedang berada di kantor pengacara di Lahore untuk mengurus gugatan cerai dari suami pilihan keluarga digelandang ke luar kantor dan ditembak kepalanya oleh paman yang disaksikan oleh ibunya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun