Mohon tunggu...
Asmuddin
Asmuddin Mohon Tunggu... lainnya -

www.asmuddin.blogspot.com Belajar Menulis "Jika tidak bisa turun ke jalan, melawanlah dengan TULISAN"

Selanjutnya

Tutup

Politik

Demokrasi yang Membelah

20 Agustus 2018   15:11 Diperbarui: 20 Agustus 2018   15:27 355
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

"Kalla'bi  duduk termenung di balai kolong rumahnya, ada rasa gelisah yang menelusuk. Rokok di tangannya di biarkan terbakar hingga sepertiganya, kopi yang biasanya tandas tak tersisa, diminum hanya setengahnya, dia biarkan dingin, satu dua lalat hinggap dibiarkan begitu saja. Tak seperti biasanya, rokok dan segelas kopi pahit yang dia bikin sendiri selalu menyertai senandung kecilnya sebelum bekerja. Tapi pagi ini, tak ada senandung, peralatan kerja nya masih tergelak rapi, tak tersentuh olehnya" 

"Jika kau masih tidak merubah pilihan mu"

"Jika saya masih melihat poster itu tertempel di berandah rumah mu"

"Jika Kalender 2019 itu masih tergantung di tiang rumah mu"

Maka, jangan harap bulan depan kebun ini masih akan menjadi lahan garapan mu, saya akan mengalihkannya ke orang lain.

Kata-kata bernada ancaman itu bagai sebuah lagu, selalu terngiang, berulang, dan nyaring.

Hanya  karena perbedaan pilihan, profesinya sebagai petani penggarap terancam, keberlangsungan hidupnya terusik.

                                                                                                                                       ****************  

Penggalan cerita di atas, meski tak persis sama menyertai perjalanan demokrasi bangsa kita. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, proses berdemokrasi kita dihantui oleh ancaman retaknya kohesi sosial, terjadi pembelahan di tengah-tengah masyarakat, yang tentunya ini merupakan ekses negatif dari sebuah demokrasi yang tumbuh pada masyarakat yang mungkin belum siap dengan suatu keniscayaan demkorasi.

Tentunya masih sangat segar dalam ingatan kita, bagaimana warga Jakarta terbelah dengan sangat tajam pada moment Pilgub 2017 kemarin, dan dampaknya masih sangat terasa sampai saat ini. 

Pilkada serentak di tahun 2018 pun tak luput dari kisah-kisah pilu tentang kita yang terbelah akibat perbedaan pilihan politik, padahal itu adalah keniscayaan dalam demokrasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun