Asmiati Malik
Asmiati Malik Political Economist

Political Economist|Fascinated with Science and Physics |Twitter: AsmiatiMalik

Selanjutnya

Tutup

Politik

Berhentilah Berdalih, Mereka Beragama Islam dan Teroris

15 Mei 2018   10:44 Diperbarui: 16 Mei 2018   11:43 4848 38 46
Berhentilah Berdalih, Mereka Beragama Islam dan Teroris
Aman Abdurrahman, Photo: Reuters

Ada beberapa rangkaian kejadian penting yang sangat berbau unsur agama dalam tujuh hari belakang ini.

Dimulai dengan serangan narapida di Mako Brimob pada tanggal 8 Mei 2018, yang mengorbankan lima anggota polisi. 

Sehari setelah itu, film 212 The Power of Love diluncurkan kepasaran dan bisa di saksikan di bioskop. Kemudian, pada tanggal 11 Mei 2018, terjadi aksi bela Palestina yang dilaksanakan di Monas. 

Keesokan harinya pada tanggal 12 Mei 2018, polisi kembali menangkap dua perempuan yang berencana menusuk polisi di Mako Brimob.

Dan lima hari kemudian, pada tanggal 13 Mei 2018 terjadi ledakan bom di beberapa gereja di Surabaya yang diduga keras dilakoni oleh Jamaah Anshorut Daulah (JAD). 

Pada hari senin, terjadi lagi ledakan bom bunuh diri di depan Mapolrestabes Surabaya, pada saat yang sama juga, Amerika Serikat membuka kantor kedutaannya di Jerusalem, sekaligus pernyataan simbol secara resmi bahwa Jerusalem adalah milik negara Israel.

Di hari yang sama pula tentara Israel membunuh 58 warga negara Palestina yang sedang melakukan protes di jalur Gaza, yang menolak ibu kota Israel pindah dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Copyright Pribadi
Copyright Pribadi

Kita tidak bisa menafikkan bahwa rangkaian kejadian-kejadian tersebut sangat berbau unsur agama 'Islam'. Dan saya yakin dari rangkaian peristiwa tersebut ada makna politis dan simbolisme agama yang tersirat.

Meskipun pada peristiwa di peristiwa bom bunuh diri di Surabaya, dalam konferensi persnya, Kapolri Tito Karnavian menyatakan

"sekali lagi kelompok-kelompok ini, tidak terkait serangan-serangan ini, dengan masalah-masalah keagamaan, namun pemikiran-pemikiran yang menyalah gunakan ajaran-ajaran, jadi tidak terkait dengan, sekali lagi agama apapun"

Dari pernyataan tersebut seolah-olah membentuk opini bahwa tindakan terorisme merupakan tindakan yang tidak terkait dengan agama 'Islam'. Hal yang senada juga dikemukakan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang menganggap terorisme bukan Islam.

Mereka Beragama Islam dan Teroris

Mari kita lihat secara faktualnya bahwa pelaku terorisme tersebut adalah individu yang menganut ajaran Islam dan berindentitas beragama Islam. 

Terlepas dari ajaran yang mereka anut itu menyimpang atau tidak, akan tetapi ideologi yang mereka pahami merupakan cabang dari pemahaman pembentukan khilafiyah Islamiah. 

Ini tidak bisa kita tutupi bahwa ada penyebaran pemahaman agama Islam radikal yang sebenarnya sudah terpapar dengan sangat luas ke masyarakat umum, di universitas-universitas, kajian-kajian agama, dan sudah menjangkau berbagai kalangan baik itu kalangan berpendidikan, kurang berpendidikan, miskin dan kaya.

Teori Karin von Hippel yang mengatakan bahwa paham terorisme akan tumbuh subur di masyarakat yang miskin, dan kemiskinan adalah penyebab terorisme sudah tidak berlaku lagi. Teori ini ditentang habis-habisan oleh James A Piazza yang menyatakan ada hubungan sebab akibat yang lemah antara kemiskinan dan terorisme. 

Buktinya banyak pelaku terorisme yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, seperti misalnya Dita Oerpriarto yang nyatanya berasal dari keluarga yang sangat berada. Itu berarti faktor ekonomi sudah bukan menjadi variabel yang valid untuk dijadikan sebagai tolak ukur. 

Sebagaimana diberitakan bahwa Dita Oerpriarto sendiri sudah terpapar ajaran Islam radikal sejak SMA, yang terlihat dari penolakannya mengikuti upacara bendera, menyanyikan lagu nasional, dan hormat kepada bendera negara.  

Paham-paham seperti ini sudah banyak dianut oleh masyarakat umum. Sebagai contoh, banyak orang yang menolak berjabat jangan dengan dengan lawan jenis karena bukan mahram, sekalipun itu di forum resmi atau depan khalayak ramai. 

Ada yang menolak berjabat tangan dengan orang yang non-Islam karena dianggap kafir, bahkan membuang muka ketika berpapasan dengan orang yang non-Islam. Dan tidak sedikit orang-orang yang tiba-tiba menutup diri dari pergaulan karena merasa takut imamnya akan lemah dan goyah.

Paham seperti ini secara tidak lansung membentuk kepribadian yang pola resistensi yang sangat besar pada opini dan pendapat yang berbeda dengan ideologi yang dianutnya. Sehingga, ia pun menutup diri dari informasi yang bertentangan dengan apa yang ia ingin dengarkan. 

Dengan kata lain isolasi ini akan sangat mudah membuat ideologi radikal tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat. 

Peristiwa seperti ini sudah banyak terjadi dimasyarakat. Apalagi banyak yang merasa dirinya penyebar agama 'ustad' yang secara akademis merasa ahli tafsir dan hadis, mencoba untuk menelaah politik internasional di timur tengah tanpa bekal teori dan ilmu politik internasional yang cukup. 

Sehingga mereka terjebak dengan konsep abu-abu antara bela agama atau bela sistem politik. 

Contoh sederhana adalah seruan untuk ikut berperang dan berjihad di Suriah. Dalam hal ini, tidak jelas siapa yang harus dilawan, apakah pemerintah Bashar al-assad karena dia diduga Syiah, atau negara-negara lain yang ikut ambil bagian di konflik tersebut, Hizbollah, ISIL atau FSA. 

Mengingat begitu banyaknya aktor luar dan dalam yang terlibat dalam perang tersebut. Sehingga sangat tidak bijak menganjurkan ikut berperang/berjihad di Suriah tanpa melihat konteks konflik itu sendiri. Terlebih lagi referensi politik dan peta konflik yang dijadikan acuan tidak jelas dari mana, penelitinya siapa dan apakah penerbitnya itu terverifikasi atau tidak. 

Apalagi sudah sering kita dapati di sosial media, bagaimana ulama yang nyata-nyata cemerlang secara akademis dengan publikasi yang begitu banyak seperti Quraish Shihab, ketika memiliki pandangan yang berbeda tentang konsep jilbab, dengan mudahkahnya ditahdzirkan oleh beberapa ustad sebagai orang yang sesat. Padahal seharusnya ada cara yang lebih elok untuk mengkritik pandangan seseorang secara akademis. 

Peristiwa seperti ini saling kait mengait dan berdampak pada pertumbuhan Islam radikal di Indonesia. Apatah lagi ketika agama sudah jadi dagangan politik yang sangat jelas kita lihat di pemilihan Gubernur Jakarta kemarin. 

Kita tidak bisa menafikkan bahwa unsur agama sudah menjadi komoditas politik yang bisa membawa pada perpecahan. Oleh karena itu negara seharusnya tidak abai dan tidak menutup kenyataan bahwa peristiwa terorisme di Indonesia dipicu oleh menyebarnya paham Islam radikal yang dilakukan oleh orang yang beragama Islam. 

Dan patut dicatat bahwa, banyak orang yang tidak beragama (atheis/agnostic) dinegara-negara maju bebas dari perilaku terorisme berbau agama seperti di Jepang, Korea Selatan, dan Negara-negara Skandinavia. Sehingga sangat tidak bijak untuk sengaja mengingkari fakta bahwa agama bukan faktor utama pelaku terorisme di Indonesia.

Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab negara sebagai institusi politik dan ulama sebagai pemuka agama. Karena tindakan terorisme tidak lepas dari pencapaian tujuan dan ideologi politik yang ingin membentuk negara dengan sistem pemerintahan Islam. Kalau kita terus menutup diri dari fakta ini maka akar permasalahan dari aksi terorisme ini tidak akan pernah bisa diselesaikan.