Asmiati Malik
Asmiati Malik Political Economist

Political Economist|Fascinated with Science and Physics |Twitter: AsmiatiMalik

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

Pilgub dan Refleksi Ekonomi Sulawesi Selatan

16 April 2018   06:09 Diperbarui: 16 April 2018   08:44 977 1 1
Pilgub dan Refleksi Ekonomi Sulawesi Selatan
karebatoraja.com

Debat 4 kandidat pemilihan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan sudah dilaksankan . Tema debat sendiri adalah pembangunan berwawasan lingkungan hidup yang berorientasi pada pemerataan ekonomi dan kesejahtraan rakyat.

Dari keempat paslon ada kesamaan nada dan program yang berfokus pada 4 tema termasuk: kesenjangan sosial, pembangunan ekonomi berbasis pedesaan dan pembangunan infrastruktur, dan pembangunan manusia.

Dari ke-empat paslon ada satu hal menarik yang cukup menarik yaitu dari paslon 3 pasangan Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman yang dalam salah satu visi misinya mengusung keteladanan pemimpin dan birokrasi bersih dan melayani. Hal ini cukup berbeda dengan paslon lain yang lebih menyuarakan visi yang hampir serupa.

Kemiskinan dan Ketidakadilan Ekonomi

Sebagaimana diketahui, Sulawesi Selatan dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua sebesar  7,23% diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi juga rasio kesenjangan dan ketimpangan juga sangat tinggi dan nomer kedua tertinggi di Indonesia sebesar0.43 diawal tahun 2018.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas terbukti dengan tingginya rasio kesenjangan juga ter-refleksi dengan  tingginya angka kemiskinan yaitu825,97 ribu jiwa, meningkat 12.9  selama 6 bulan di tahun 2017.

Ini mengindikasikan petumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas karena tidak cukup mampu membawa kesejahtraan yang menyeluruh kepada seluruh masyarakat, terlebih-lebih lagi tingkat kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin sangat lebar. Ditopang dengan pola hidup masyakat menengah keatas yang sudah menganuthedonism menyebabkan kecemburuan sosial, maraknya aksi kriminalitas dan buruknya pertumbuhan industri produktif.

Banyak cabang-cabang usaha dan ekonomi dikuasai oleh beberapa orang saja, dan kekuasaan yang berjubah dua (penguasa sekaligus pengusaha) yang menyebabkan, usaha padat modal tidak kompetitif bahkan sudah menjadi rahasia umum, hampir disemua lini dikuasai oleh pemburu rente.

Contoh kecil adalah tidak becusnya pemerintah membereskan pasar sentral Makassar yang terkatung-katung sejak 2015, dan sampai sekarang masih tidak jelas, padahal permasalahan ini sangat sederhana. Meskipun bisa saja diargumentasikan bahwa, permasalahan ini adalah domain pemerintahan kota Makassar, akan tetapi perlu dicatat bahwa Makassar adalah wajah Sulawesi Selatan.

Tingkat korupsi Sulawesi Selatan juga paling besarke-7 se-Indonesia ditahun 2017. Kebanyakan dari kasus tersebut adalah kasus-kasus besar yang ditangani oleh KPK dan didominasi oleh sektorinfrastruktur. Belum lagi besarnya pengaruh kolusi dan nepotisme antara penguasa, pengusaha dan keluarga (kroni) yang menyebabkan banyak sektor yang tidak produktif dan kompetitif, dan ini juga sudah menjadi rahasia umum.

Sehingga hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebenarnya adalah kepastian hukum, layanan birokrasi yang bersih, pasti dan bebas pungutan apalagi pelayanan yang sengaja dilambankan.

Sehingga semua warga mendapatkan kesempatan yang sama untuk membangun perekonomian mereka. Dengan demikian semua masyarakat merasakan keadilan dan akses yang berkualitas pada layanan publik.

Program Ekonomi Berbasis Pedesaan

Adapun program paslon yang berfokus pada pembangunan ekonomi pedesaan terkesan hanya mengejar besarnya jumlah pemilih dipedesaan. Meskipun sebenarnya program ini cukup bagus tapi tidak cukup strategis dan sudah usang karena program ini sudah dicanangkan oleh  pemerintah pusat dan pemerintahan sebelumnya.

Apalagi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan paling besar dari industri makanan dan penginapan dengan pertumbuhan hampir12% pertahun. Sehingga harusnya Sulawesi Selatan menjadi pusat industri berbasis teknologi di Indonesia timur.

Sedangkan, program pengembangan ekonomi berbasis pedesaan yang menitikberatkan pada ekonomi pertanian hanya dikembangkan oleh negara-negara miskin di Afrika dan Amerika Latin dan sudah lama ditinggalkan oleh negara-negara maju apalagi negara-nagara di kawasan Asia Pasifik yang lebih menitikberatkan pada pembangunan kualitas manusia dan ekonomi berbasis industri dan teknologi.

Meskipun ini sama sekali tidak berarti bahwa sektor pertanian pedesaan tidak penting, tentu saja sektor pertanian sangat penting, akan tetapi nilai tambah dari sektor ini sangat kecil dan rentan ketimbang sektor yang berbasis industri dan dengan tingkat produksi dan lahan yang memiliki batasan tertentu, sehingga untuk capaian jangka panjang tidak akan berkontribusi yang sama dengan sektor industri moderen.  Terkecuali sektor pertanian ditopang dengan pengembangan industri pertanian yang berbasis teknologi moderen.

Disamping itu, masih banyak sektor yang juga harus dikembangkan seperti sektor perikanan danaqua culture,sehingga jargon paslon tidak hanya menyasar ekonomi pedesaan karena besarnya jumlah pemilih di pedesaan dan banyaknya pemilih yang berprofesi sebagai petani akan tetapi benar-benar program tersebut memiliki dampak ekonomi jangka panjang.

Oleh karena itu, sangat penting pembangunan sumber daya manusia, bukan hanya berdasarkan pada pendidikan gratis akan tetapi juga kualitas pendidikan yang mampu mengakat kualitas masyarakat Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan harus bisa menempatkan dirinya sebagai pesaing yang mampu bertarung bukan dengan provinsi-provinsi di Indonesia, akan tetapi menyiapkan SDM yang mampu bersaing dengan masyarakat ekonomi ASEAN.

Hal ini hanya bisa dilakukan apabila pembangunan ekonomi dikhususkan pada peningkatan kualitas manusia dan pemberdayaan teknologi yang berbasis industri modern.