Asmari Rahman
Asmari Rahman karyawan swasta

MEMBACA sebanyak mungkin, MENULIS seperlunya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kapal Terakhir Menuju Bagan

11 Juni 2018   13:19 Diperbarui: 11 Juni 2018   13:32 467 1 1
Kapal Terakhir Menuju Bagan
Kapal terakhir menuju Bagan, koleksi pribadi

Sengaja ku biarkan angin berdesir menyapa, mataku menatap lurus kedepan, memandang jauh kecelah pulau, memastikan kerdip lampu kapal yang menuju dermaga. Didada telah menggumpal rasa rindu pada kampung halaman, pada ayah bunda, sahabat dan handaitolan.

Ramadlan sudah sampai pada ujungnya, sebentar lagi takbir akan menggema, sementara masih saja tertahan disini, diujung pelabuhan Dumai ini menunggu sambil berharap, akan ada kapal yang berangkat ke Bagan.

Info dari orang disekitar pelabuhan itu, semua kapal penumpang sudah berangkat kemarin siang, dan yang terakhir KM. Pulau Baru dan Otista berangkat secara bersamaan membawa penumpang yang berjubel. Untuk hari ini dan esok sangat kecil kemungkinannya ada kapal yang akan berangkat lagi, karena lusa sudah masuk idul fitri.  "Kalaupun masih ada, mungkin kapal minyak yang saat ini sedang mengisi muatan di Seismic."  Kata salah seorang anggota TKBM dipelabuhan itu.

Informasi itu membuat hatiku sedikit lega, harapan yang semula pupus kembali muncul dalam hatiku, semangatku yang sudah mulai luluh kembali menggelora, bayang wajah eMak kembali bermain dikelopak mataku, betapa senang hatinya melihat aku pulang. Akupun membayangkan betapa gembiranya hati ini, bisa berkumpul bersama teman, kerabat dan sanak family saat suara takbir berkumandang.

Esok masih ada Ramadlan, paling tidak satu hari puasa masih tersisa untuk kunikmati bersama eMak, duduk selonjoran dilantai rumah papan yang sudah mulai lapuk dimakan usia, menunggu sirine berbunyi menunjukkan waktu berbuka,.

Berbuka bersama menghapus rindu akan masa lalu, masa kanak-kanakku dulu yang selalu merengek kepada eMak minta dibuatkan kue buah Melaka sebagai pelengkap makan saat berbuka.

Usai berbuka, bermain bersama teman sebaya, berbondong menuju Masjid untuk sholat Isya dan Tarawaih, Tadarus membaca Al-Qur'an secara bergantian, berebut juadah dan menyeruput minuman yang diantar tetangga. Bila sudah lewat dinihari kamipun berkeliling kampung membangunkan warga untuk sahur.

Mengingat itu semua, tak sanggup rasanya aku mengatakan  tidak punya uang untuk pulang, apapun kondisinya diusahakan juga sampai kekampung sebelum suara takbir memecah angkasa, meskipun hanya sekedar pulang sebatang badan, tanpa membawa buah tangan untuk dihadiahkan kepada eMak.

Tak kuat hati ini menahan sedih jika sampai idul fitri ini terlewatkan tanpa bersama eMak, dan tak tega jua rasa dihati membiarkan eMak sendiri dirumah, berurai air mata mengiring suara takbir yang menggema dimalam hari raya.

Aku yakin, eMak pasti sudah siapkan kue dan minuman untuk berbuka dan sudah pula menyiapkan lemang pulut dengan serunding dan kuasak obus kesukaanku untuk disantap dipagi raya.

Desir angin makin semilir, menyapa wajahku yang penuh harap, perlahan aku bangkit dari   duduk, menyudahi lamunan akan masa lalu bersama eMak dirumah. Aku bergegas kearah Timur, menuju pelabuhan Seismic seperti yang diinfokan oleh buruh pelabuhan itu tadi.

Dari kejauhan, terlihat sebuah kapal bermuatan drum minyak sedang sandar diujung dermaga, talinya masih tertambat pada bolder pelabuhan, sejenak menunggu waktu untuk berangkat. Aku mempercepat langkah, dari kejauhan terlihat dengan jelas dianjungan kapal tertulis "KM. TIMUR HARAPAN" , aku tertegun sejenak, lalu berkata dalam hati, "Ya benar KM. Timur Harapan, kapal yang memenuhi harapanku untuk beridulfitri dikampung halaman, KM Timur Harapan kapal terakhir menuju ke Bagan.