Bahasa

Kompas, Pelopor Kata Bentukan Baru Bahasa Indonesia

1 Agustus 2018   05:56 Diperbarui: 1 Agustus 2018   06:12 716 0 1

Bahasa itu dinamis, berubah-ubah seiring dengan masyarakat penggunanya. Kaidah-kaidah yang telah dirumuskan dan dibakukan oleh para pakar bahasa beberapa puluh tahun lalu telah mengalami perubahan banyak serta dirasakan oleh masyarakat di tahun-tahun ke depan. Perubahan-perubahan dapat dibaca serta dilihat baik di media cetak atau di media elektronik.

Penggunaan kata serapan yang berasal dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris tidaklah sekedar diambil begitu saja, tapi telah berlebihan, yang sering kali kita dengar sehari-hari di sekitar kita.

Percakapan bahasanya ngawur, kendati padanannya sudah ada. Istilahnya menjadi bahasa gado-gado. 

Jika Anda keseharian tinggal di Jakarta yang masyarakatnya majemuk, campur baur, ada yang dari Padang, Batak, Sunda, Jawa, Cina dan sebagainya. Pemakaian sehari-hari bukan lagi sebagai bahasa dialek, tetapi penggunaan bahasa asing maupun daerah sudah berlebihan. 

Orang sekarang mengatakan hal tersebut sebagai bahasa gaul. Kata-kata seperti ini pasti sudah sering Anda dengar: "ngai maunya fifty-fifty aja, gitu loh, tapi yah up to you lah".

"Kita mah ga usah naek taksi, naek bus way aja"

"Kalau gitu, why not?"

"Lay out aja sendiri"

"Belum di upgrade"

"By the way, oke lah"

"You kan tahu, kalau aku lagi busy"

"Walah, boring deh gue"

"Halo, please deh"

Dan masih banyak contoh lainnya.

Kalimat di atas adalah kata-kata yang diserap, sekarang kita perhatikan, kata yang sering kita lihat di koran atau majalah, antara lain: memerkosa, menertawakan, permenungan, memercaya, memopulerkan, memesona, memerhatikan dan masih banyak lagi.

Bila kita runut ke belakang, pada saat perayaan ulang tahun 2005, surat kabar Kompas lah yang mempelopori secara resmi kata-kata tersebut.

Semua konsonan yang tak bersuara diluluhkan.

Sebagai contoh, ME+KONSUMSI menjadi MENGONSUMSI bukan MENGKONSUMSI, ME+SOMASI menjadi MENYOMASI bukan MENSOMASI, ME+PESONA menjadi MEMESONA bukan MEMPESONA, ME+PERHATIKAN menjadi MEMERHATIKAN bukan MEMPERHATIKAN, dan lain-lain. Kata mempengaruhi, mempercayai, memperhatikan, mempesona yang telah beredar bertahun-tahun dianggap salah.

Kata bentukan baru masih membuat bingung sebagian orang, apa sebaiknya kembali saja ke bahasa yang umum dipahami masyarakat?

Bagaimana kalau menurut kamus?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2