Moh. Ashari Mardjoeki
Moh. Ashari Mardjoeki

Memelajari tentang berketuhanan yang nyata. Berfikir pada ruang hakiki dan realitas kehidupan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Fenomena "Salam 212", Kartu Kuning dan Kartu Merah

4 Februari 2018   18:27 Diperbarui: 4 Februari 2018   19:00 697 3 2

REVOLUSI SPIRITUAL

Viral karena berani "menantang" pemerintah

Sekarang ini dinyatakan adalah tahun politik. 

Mungkin akan atau sudah menjadi tradisi pada setiap pergantian kepemimpinan nasional di negeri ini maka iklim bernegara selalu dalam suasana kebatinan yang penuh dengan nafsu berkuasa dan pengkhianatan dari kelompok-kelompok yang tampak mengaku paling tahu tentang kebenaran arah bernegara yang harus dituju.

Mereka senantiasa secara terang-terangan atau terselubung menunjukkan sikap berbeda kepada pemerintah yang sedang mengemban amanah rakyat untuk mewujudkan kegiatan bernegara.

Dan agaknya sudah menjadi keyakinan berbagai pihak bahwa jika ingin segera dikenal di negeri ini maka harus berani secara demontratatif dan atraktif menunjukkan sikap yang berbeda atau berlawanan dalam segala kebijakan pemerintah.

Hal demikian bukan hanya terjadi pada saat ini pasca reformasi '98 saja. Melainkan juga pada saat kelengseran Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Mega maupun Pak EsBeYe.

Maka tak heran jika menjelang Pilpres 2019 ini berbagai sikap seperti berlomba merendahkan Presiden Jokowi diperlihatkan oleh berbagai pihak yang merasa dirugikan oleh kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah yang punya nawacita. Supaya mendapat "perhatian" dari pihak mana pun yang berkepentingan.

"Salam 212"

Khalayak ramai mendengar ada "Salam 212."  Lalu bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang agak "cerdas" yang sederhana di antara mereka yang mendengar.

"Salam 212 itu salam apaan sih?"

Ada yang menjawab: "Pasti salam yang minta dibalas Presiden".

"Kalau Presiden nggak mau jawab?"

"Berarti salamnya pasti lenyap tidak berbekas dihembus nafas bersama angin yang bertiup lepas bebas."

Lalu ada yang bertanya lagi: "Bagaimana sih cara membalas salam gituan?"

Ada yang menjawab: "Bisa macam-macam, tergantung keberpihakannya.

Kalau dari pihak kelompok yang satu paham perjuangan mungkin salam itu akan dibalas  dengan kata k-o-m-p-a-k, m-a-n-t-a-p atau d-a-h-s-y-a-t atau mungkin disambut dengan takbir.

Kalau dari pihak yang netral mungkin akan dijawab juga cukup dengan kata s-a-l-a-m. 

Kalau dari pihak yang tidak sepihak mungkin akan dijawab dengan kata-kata semoga kalian mendapat PetunjukNYA yang pasti benar."

Ada yang bertanya pula: "Apa ada petunjuk yang tidak benar?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3