Mohon tunggu...
Asham
Asham Mohon Tunggu... Menulis Karya untuk Kehidupan Abadi

Belajar 'menulis' mengenai khakikat kehidupan akhirat yang kekal nan abadi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Maulid antara Cinta dan Dusta

22 November 2018   12:10 Diperbarui: 22 November 2018   12:35 0 0 0 Mohon Tunggu...
Maulid antara Cinta dan Dusta
foto:net

Maulid adalah sebuah kegiatan atau acara memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian acara itu, diisi ceramah, selawatan, makan-makan, dan lainnya.

Acara maulid ini ditetapkan sebagai tanggal merah, yakni tepat tanggal 12 Rabiul Awal di bulan hijriah.

Kenapa tanggal 12 Rabiul Awal ini ditetapkan sebagai tanggal perayaan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Padahal kelahiran beliau sendiri diperselisihkan para ulama.

para ulama berselisih lagi dalam masalah tanggalnya di bulan Rabi'ul Awwal ada yang mengatakan tanggal 2, ada yang mengatakan tanggal 8, ada yang mengatakan tanggal 9, ada yang mengatakan tanggal 10, ada yang mengatakan tanggal 12, ada yang mengatakan tanggal 17, dan ada yang mengatakan tanggal 22,semuanya pada bulan Robi'ul Awwal. Dan yang rojih adalah tanggal 9 walaupun yang masyhur tanggal 12 rabi'ul Awwal. (lihat Ar Rahiqul Makhtum hal. 62)

Menilik tanggal kelahirannya yang beragam ini. Maka, Apakah pantas seseorang menetapkan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pada tanggal 12 Rabi'ul Awal sebagai perayaan...?

Apakah merayakaan maulid Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sebuah ibadah...? atau hanya adat sebuah daerah saja...? atau karangan orang yang mengaku cinta kepadanya...?

Jika, itu ibadah...! maka dibutuhkan sebauh dalil dan petunjuk dalam melakukannya.

Jika itu adat atau kata lain sebuah kebiasaan turun-temurun yang tidak memiliki dalil...? maka tidak pantas seseorang mengikuti sesuatu yang tidak memilik dasar dalam syariat.

Atau, orang berkata, 'merayakan maulid merupakan bentuk cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam...?

Benarkah pernyataan itu? cinta kepada Rasulullah harus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, bukan setahun sekali. Setelah itu, ia melupakannya.

Cinta kepada Rasulullah itu, dengan cara mengikuti rasulullah bukan mengada-ada. Allah Ta'ala berfirman:

"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." [QS. Ali-Imran: 31]

Cinta kepada Nabi harus mengikuti semua perintah dan menjauhi semua larangannya. bukan mengarang cerita dan mengadakan kedustaan dengan dalih cinta kepada Rasulullah.

Cukuplah perkataan para ulama tentang maulid, menjadi sandaran seseorang dala, menyikapi maulid:

1. Berkata Imam madzhab Maliki, Al-Faqih Tajuddin Al-Faqihi Al-Maliki - rahimahullah di dalam risalahnya: "Al-Mawrid Fi Amal Al-Maulid" (hal. 20):_

"Aku tidak mengetahui adanya satu dalil pun bagi perayaan maulid ini di dalam Kitab dan tidak juga dalam Sunnah, dan tidak pernah ternukilkan amalannya dari salahsatu pun dari ulama umat yang mereka adalah teladan dalam agama, mereka adalah orang-orang yang berpegang dengan atsar-atsar orang-orang terdahulu"

2. Berkata Imam Madzhab Syafi'i, Al-Faqih At-Tizmanti As-Syafi'i  tentang perayaan maulid nabi sebagaimana dalam "As-Siroh As-Syamiyyah" (1/442):_

"Perbuatan ini belum pernah terjadi di generasi pertama dari kaum salaf yang shaleh bersamaan dengan pengagungan mereka dan kecintaan mereka kepada beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan pengagungan yang sebenarnya dan kecintaan yang tidak akan sampai kita semua kepada salah satu dari mereka"

3. Berkata Imam Madzahb Hanbali, Al-Faqih Abdullah bin Aqil Al-Hanbali rahimahullah di dalam "fatawanya" (2/289):_

"Perayaan maulid tidaklah disyariatkan, dan tidak pernah dilakukan oleh kaum salaf yang shaleh ridhwanullahi alaihim kendati untuk menegakkannya bisa, dan tidak adanya penghalang dari merayakannya, dan kalaulah itu sebuah kebaikan tentunya mereka telah mendahului kita untuk melakukannya, karena mereka lebih berhak terhadap kebaikan, dan lebih cinta kepada rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dan lebih dalam pemuliaannya, dan mereka adalah orang-orang yang melakukan hijrah bersamanya, mereka meninggalkan tanah kelahiran mereka, meninggalkan keluarga mereka, berjihad bersamanya hingga mereka terbunuh karenanya, dan mereka menebusnya dengan jiwa-jiwa mereka dan harta-harta mereka.

Melihat perkataan ulama ini, maka perlulah kita berpikir kritis, apakah maulid termasuk ibadah atau ritual hampa belaka?