Mohon tunggu...
Asep Rizal
Asep Rizal Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Penulis

baik-baik sehat selalu dan banyak rezeky,tidak punya utang lahir maupun bathin,kaya raya Jaya Abadi Selamanya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

2021 Minat Meneruskan Sekolah ke Jenjang Lebih Tinggi Berkurang, Pakar Berbahaya Melebihi Corona

27 Juli 2021   08:09 Diperbarui: 27 Juli 2021   08:23 48 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
2021 Minat Meneruskan Sekolah ke Jenjang Lebih Tinggi Berkurang, Pakar Berbahaya Melebihi Corona
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pencapaian target pendidikan di Indonesia pada era pandemi corona dinilai masyarakat berada pada level meng-khawatirkan, hal itu terbukti dari sebuah observasi kecil-kecilan yang dilakukan oleh salah satu lembaga (tidak resmi) pegiat pendidikan di wilayah Kabupaten Tasikmalaya yang menyimpulkan bahwa daftar siswa dan siswi yang meneruskan sekolah dari tingkat bawah ke tingkat yang lebih atas (tinggi) pada periode belajar tahun 2021-2022  kini jumlah persentasenya semakin menurun bahkan cenderung berkurang minat orang tua /wali guna menyekolahkan anak-anaknya ke level lebih tinggi ,pada  sebuah karangan yang bersumber dari orang yang bisa dipercaya menyebutkan bahwa "ada sebuah sekolah SMK,SMA Swasta kabarnya  hampir tak ada siswa yang mendaftar,,!" Ungkap salah seorang anggota observasi pada team kecil tersebut.

"Dalam dua tahun ini (2020-2021) siswa-siswi di berbagai sekolah formal disebutnya sebagai kelulusan corona ,lulusan corona itu tata cara  belajarnya  daring online , nilai belajarnya dinilai dengan sistem yang berbeda dengan tatacara sekolah temu muka dan nyaris tak ada yang disebut siswa siswi kategori  bodoh dan pintar atau siswa di rangking , dan cara belajarnya juga cenderung stagnan , semua siswa dan siswi di kelas masing-masing naik ke kelas berikutnya tanpa ada penjaringan lebih lanjut dan lebih apik lagi atau dinyatakan tidak naik kelas  misalnya , semua siswa-i nya lulus dan belajarnya dinyatakan selesai pada dua tahun ajaran tersebut,  itulah kenyataannya ,bahkan di sebuah sekolah dasar anak kelas 2 SDN yang notabene targetnya harus minimal bisa baca dan ngitung penjumlahan tingkat paling dasar siswa itu dinaikan saja ke kelas 3 , ini bobrok , kalau begini hancur tatalaksana pendidikan indonesia kedepannya ,,kalau begini caranya  ,,!" Jelas ketua team observasi team kecil tersebut dengan nada amat serius.

Team observasi kecil-kecilan untuk pendidikan nasional itupun sempat membahas belajar daring online menurut mereka "Nyaris tidak ada data pencapaian yang dramatis dan terarah  bahkan siswa dan siswi di semua tingkatan terpantau dan terlihat secara nyata bahwa  mereka semakin malas-malasan saja ,mereka terdeteksi  kurang sosialisasi dalam bentuk apapun hanya terlihat dan terpantau bahwa mereka pada tiduran di kamar main game dan nonton youtube ,saya nyatakan ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan pendidikan nasional,,!" Jelasnya pula.

Suasana ini mereka sebut dengan suasana pendidikan paling bobrok pada era akhir-akhir ini  "suasana ini rata , hampir sama nuansa nya di kampung dan di kota dan ini hampir terjadi disemua wilayah yang lainnya , coba cek dan bentuk tim kecil seperti kami di kota masing-masing , maka kesimpulan bobrok dan jorok akan di temukan,  saya simpulkan saja apabila hal ini diteruskan maka 10 tahun kemudian anak-anak bangsa kita akan menjadi korban dari sistem pendidikan yang hancur , bobrok dan membahayakan,,!" Ungkapnya  lebih lanjut.

Ketua Team kecil (tidak resmi) untuk observasi pendidikan nasional era pandemi itu pun sempat membahas dana KIP yang diterima oleh siswa-siswi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya "Dana itu cair hanya tidak merata , dan hampir semua siswa-siswi yang  *prioritas (*siswa miskin,siswa dari keluarga Dhuafa,siswa yang terdata sebagai anak yatim dan piatu)  nyaris tidak kebagian,  pencapaian dana kadeudeuh dari pemerintah itu  mungkin akan  saya nilai dengan bantuan negara dengan  nilai merah dan nilainya sangat buruk , tentang pulsa gratis (alat belajar online era pandemi corona) yang dijanjikan pihak kementrian pendidikan saya nilai  hanya pelengkap administrasi kegiatan saja , 90-% orang tua siswa nyaris tidak terbantu dengan kampanye palsu kementerian pendidikan ,,!" Ungkapnya pula.

"Saya berharap , pemerintah pusat mengakhiri tata cara pendidikan gaya pandemi corona ini apapun alasannya dan secepatnya harus dilakukan pembenahan secara Urgent ,karena suasana  pendidikan  di negri kita tidak ada pencapaian yang significant dan pihak kementrian pendidikan RI harus bertanggung jawab atas kemunduran ini , ini nyata, bukan mengada-ada  saya tidak menyebutkan bahwa kabinet jokowi gagal lho,, saya bicara pendidikan yang nyata di Indonesia pada era saat ini, tentang omongan prokes covid-19 dan bagaimana nanti gerakan mengakhiri virus corona? Itu  bisa kita bahas lagi pada tata caranya (tatalaksana belajar tatap muka) ketika negara Indonesia membuka lagi kegiatan pendidikan formal nantinya ,,!" Jelasnya mengakhiri bincang-bincang singkat dengan penulis.

Asep Muhammad Rizal

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN