Mohon tunggu...
Asep Rizal
Asep Rizal Mohon Tunggu... Penulis

baik-baik sehat selalu dan banyak rezeky,tidak punya utang lahir maupun bathin,kaya raya Jaya Abadi Selamanya.

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Di Tasikmalaya "Sekolah Masih Berlantai Tanah Merah"

9 Oktober 2014   02:57 Diperbarui: 17 Juni 2015   21:48 241 4 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Di Tasikmalaya "Sekolah Masih Berlantai Tanah Merah"
1412771841847188700

[caption id="attachment_346687" align="aligncenter" width="470" caption="Anak-anak MIS Fathul Huda Pasi Sereh Belajar Di Ruangan Berlantai Tanah Merah (Doc/pribadi)"][/caption]

Perjalananku sampai juga di sebuah Kampung yang daerahnya masih “Punya” Tugu Rumah dan jarang-jarang, Kampung  tersebut  Bernama Kampung Pasir Se’reh Desa Sukasenang Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya.

Suasana kampung itu tidak terlalu istimewa bila di perhatikan.

“Biasa suasana sepi begini kan namanya juga daerah perkampungan “ Ucapan itu terdengar dari Kepala Desa setempat  Yaya.S (57) ketika tadi siang berpapasan di jalanan kampung itu  ketika Pak Yaya akan mengomandani perbaikan Jalan di sebuah titik perkampungan yang ada di wilayah Desanya.

Sekilas aku berfikir keberadaan Kampung yang berjarak sekitar 25 Km dari ibu Kota Kabupaten di Singaparna itu mempunyai lahan potensial bagi kegiatan berbagai Program Pertanian, namun setelah dilihat dari dekat ternyata daerah itu merupakan daerah yang bertanahkan cadas mungkin potensi lain tersimpan di Desa Sukasenang ini fikirku.

[caption id="attachment_346688" align="aligncenter" width="470" caption="Bangunan dan Tanahnya "]

14127720931350241683
14127720931350241683
[/caption]

“Penduduk  di kampung Pasir Se’reh itu kira-kira ada 500 Kepala Keluarga di bagi 3 ke-RT-an (Rukun Tetangga) cukup luas kampung itu sebetulnya “ Ucapan itu terlontar dari Sekertaris Desa Sukasenang Burhanudin yang di temui di kantor Desanya tadi siang.

Untuk urusan pendidikan anak-anak  kampung itu sempat punya masalah Besar di waktu yang lalu , karena letak  Wilayah Kampung dengan Sekolah Dasar yang berada di jalan Protokol jalur Lintas Desa lumayan jauh.

“Sekitar 7 KM untuk sampai ke Sekolah Dasar Negri ketika itu, anak-anak yang Berasal dari Kampung  pasir se’reh sering kesiangan masuk sekolah karena jauh jarak tempuh dengan jalan kaki jadi terlalu bermasalah dengan proses belajar , baik bila musim kemarau , namun terlalu bermasalah bila musim penghujan , anak-anak kampung itu sangat kasihan sekali proses belajarnya ketika masih bersekolah di SDN tersebut,!” lanjut Kepala Desa melanjutkan bincang-bincangnya dengan penulis.

[caption id="attachment_346689" align="aligncenter" width="576" caption="Anak-anak MIS Fathul Huda itu bermain di sekeliling sekolah (Doc/pribadi)"]

14127724731691540709
14127724731691540709
[/caption]

Usaha Membangun Sebuah Sekolah MIS (Madrasah Ibtidaiyyah Swasta):

Dalam menyikapi tentang Proses mengusahakan agar Anak-anak Kampung Pasir Se’reh  mendapat pendidikan yang layak  , Warga Kampung itu rembukan (musyawarah)  tujuannya  “Menyediakan Bangunan Sekolah MIS” (Madrasaha Ibtidaiyyah Swasta) yang di danai dari dana Swadaya Murni tanpa ada bantuan dari Pemerintah sepeserpun .

“ Berdirinya Sekolah MIS Fathul Huda ini sekitar tahun 2010 yang lalu semua  atas prakarsa masyarakat dari mulai membeli tanah lalu mendirikan bangunan semuanya hasil swadaya masyarakat “ Kepala Yayasan MIS Fathul Huda Tamim (61) memberikan keterangan kepada penulis.

Namun selepas sekolah itu di beri SK pendirian oleh Kantor Kementrian Agama Kabupaten Tasikmalaya sama sekali belum terjamah “bantuan apapun” dari Pemerintah Pusat maupun daerah.

Suasana sekolah itu kira-kira seperti suasana sekolah-sekolah di Daerah Pedalaman , terlihat bangunan sekolah hanya mempunyai 3 Ruangan Kelas dengan dua kelas yang belum di tembok lantainya , masih beralaskan tanah merah , jumlah Murid-murid dari mulai Kelas 1-5 (Karena Belum melakukan Kelulusan)  ada 150 orang jumlahnya , dengan cara berdesakan-desakan anak-anak kampung itu sekolah di tempat yang  “ngebul karena debu-debu tanah ” bila musim  kemarau (seperti saat ini) dan sangat  becek ketika musim Hujan telah tiba .

Mensiasati hal tersebut para guru yang semuanya berjumlah 7 Orang (Plus Kepala Sekolah) dan semuanya adalah  tenaga pengajar  Honorer menerapkan system skat-skat ruangan kelas , “bila memungkinkan kami suka satukan mereka di ruangan kelas yang sama dengan jadwal belajar yang berbeda perkelasnya,!” ucap salah seorang tenaga pengajar.

Namun dengan demikian para Guru berharap Pemerintah Pusat dan Daerah secepatnya membantu proses penyelesaian  pembangunan sekolah MIS Fathul Huda tersebut,karena kenyamanan suasan dengan daya dukung sarana prasarana yang memadai akan berpengaruh pada proses belajar dan mengajar di Sekolah Kepunyaan Warga Pasir Se’reh tersebut.

“Pernah ada yang mengunjungi dari salah satu anggota Dewan dari Pusat Jakarta , dan menjanjikan akan segera membantu pembangunan sekolah ini namun hingga detik ini bantuan itu belum Nongol juga ,,!” Lanjut kepala Yayasan.

Ketua Komite MIS Fathul Huda Mamat (58) ikut pula berkomentar ,

“ Kunjungan dari pihak Kenentrian Agama Kabupaten Tasikmalaya mah ,,sudah beberapa kali tapi bantuan untuk bangunan dari dana apapun belum di terima Sekolah ini ,,!” Ucapnya dengan nada Memelas.

Kita himbau untuk para pemrakarsa pendidikan atau dari manapun asalnya “Dapatkah kita melihat hal ini dengan sebaik mungkin? Lalu Nasib anak-anak kampung itu tetap akan punya Ruangan yang Berlantaikan Tanah Merah ? dapatkah Rehat sejenak untuk berfikir membantu Proses Pembangunan bagi ruangan-ruangan Kelas Anak Bangsa Aset bangsa itu? , mudah-mudahan pertanyaanku terjawab , dan bukan hanya bertanya pada Rumput yang Bergoyang.

*Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya,Kompasiana

Asep Rizal.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x