Mohon tunggu...
Asep Rizal
Asep Rizal Mohon Tunggu... Penulis

baik-baik sehat selalu dan banyak rezeky,tidak punya utang lahir maupun bathin,kaya raya Jaya Abadi Selamanya.

Selanjutnya

Tutup

Drama Pilihan

Huma di Balik Awan

20 Desember 2014   08:08 Diperbarui: 17 Juni 2015   14:54 55 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Huma di Balik Awan
1419012258169062108

[caption id="attachment_360578" align="aligncenter" width="576" caption="Huma(docpri)"][/caption]

Aku tapaki tanah merah “subur makmur” yang  kental itu ketika ku lalui hari-hari , dimana aku pernah mendengar sebuah “petuah sakti” bahwa ;

“Tak akan kurang makan seseorang bila rajin bercocok tanam, tanamlah apapun yang kau mau tanam di kebun itu , suatu hari kau akan panen dengan gembira kelak , tak akan kelaparan seseorang bila dia rajin bercocok tanam !” Petuah Sakti itu terlontar dari lidahnya Dia , namun petuah sakti itu  hampir terlupakan sudah bila aku tak mencoba menginjakan kaki ini di Huma ladangnya milik Petani yang Rajin dan Perkasa itu.

Perjalanan itu sampai juga di sebuah bukit , ketika mendung di siang  itu telah menggalayut di langitnya Sebuah Daerah.

Nama sebuah Daerah yang mempunyai Wilayah Kehutanan yang terkelola oleh Sebuah PT Perkebunan Wiriacakra III  itu   terletak antara batas Desa Cijulang Kecamatan Cineam dengan  Desa Karanglayung Kecamatan Karangjaya Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.

Daerah itu sangat terkenal “Dulunya” merupakan daerah Pertanian dan Perkebunan karet , namun laju  zaman kini telah berubah Drastis Kehutanan itu hampir di tinggalkan oleh para Pengurus dan pemiliknya , hanya terlihat sebahagian Warga masih mempertahankan profesinya sebagai bagian pekerja perkebunan Karet yang di kini masih di kelola oleh PT Wiriacakra III tersebut.

Keterangan singkat yang di peroleh penulis hanya terbatas sisi pandang saja , karena ketika 13 tahun lalu penulispun hanya mengetahui bahwa di perkebunan karet itu ada sebuah Konsentarsi Pekerja pada  kegiatan Usaha  Pengolaan Getah Pohon Karet di  setiap harinya ketika masa itu penulis “Suka” lewat sebagai pengguna jalan ketika akan melakukan perjalanan “dari dan  ke”- arah Wilayah Kota Tasikmalaya.

Sayang ,,! Komunikasi hanya terbatas !” Gumam hati ini tak kala mencoba kakiku  ini ditapakan pada nuansa pandang perkebunan nan Indah di bukit itu yang mungkin kini di sulap para Pemilik tanah Atas pengelola kebun *Suuk (*Bahasa Sunda = Kacang Tanah) dan kebun Jagung yang belum pada berbuah alias masih berupa tanaman muda yang baru tumbuh. Dan anginpun menerpa daun-daun Padi Huma di tengah-tengah tanaman antara Jagung dan Tanaman *Kacang tanah (*Bhs Sunda=Suuk).

Luas areal Perkebunan Karet milik sebuah PT tersebut di perkirakan Puluhan Hektare , namun kini terlihat sebahagian Areal Perkebunan banyak yang terbengkalai dan kelihatan Areal perkebunan  tersebut hanya berupa pemandangan Hutan dengan sisi pemandangan pohon-pohon karet yang telah tua dan belum di ganti oleh tanaman baru ataupun di perbaharui kembali oleh pemilik PT Pengelola.

Kembali ke Awal Thema tulisan di Atas ;

Amanat sakti itu terngiang di bathin penulis  namun Gemanya terasa aneh ketika sosok itu serasa hadir di depan secara nyata , kini seseorang yang pernah memberi Petuah itu telah Pergi 12 Tahun yang lalu , tubuh renta itu tetap tegar karena kesehatannya lebih terjamin menurut penelaahan penulis kini .

Dia seorang Nenek Tua yang selalu hadir dengan kata-kata pemberi semangat “ Janganlah malas untuk bertani , karena kemalasan pergi ke kebun dan sawahmu   adalah awal pintu kekecewaanmu menghadapi hidup yang nantinya akan semakin keras!” ucapannya begitu terngiang-ngiang  kembali ketika sisi pandang mata ini menerawang ke ujung jarak pandang pada kebun suuk , Jagung dan Humanya Milik  petani atau pemilik tanah yang tadi siang di coba untuk di singgahi penulis.

Bila dimaknai lebih dalam lagi , mungkin Petuah sakti itu kini nyata adanya , karena sebetulnya makna dari petuah itu kini Nyatalah  sudah .

Ketika pilihan itu teralihkan oleh laju zaman dan  ketika Beliau telah berpulang dengan meningalkan jejak mulia bagi semua cucu-cucunya , pandangan mata ini semakin di perjauh lagi ke ujung Kebun di tengah-tengah Areal kebun karet milik PT tersebut.

Dan hati ini bergemuruh mencoba mengumandangkan Do,a agar Tuhan di sana menempatkan Dia sebagai Roh Mulia di sana  yang menempati kemuliaannya ! (*amiin Yaa Robbal alamiin).

“Zaman telah berganti cara pandang mencari Rezeky ,namun pesanmu sakti , maafkan aku yang belum melaksanakan Pesanmu itu !” Gemuruh hati ini ketika meninggalkan sisi pandang sepi pada pemandangan indah di bukit itu .

Angin terasa menerpa ke tepian asa , Padi Huma di bukit itu terlihat bergoyang , gemirisik ilalang terdengar melenguhkan nyayian merdu.

Tanaman Jagung terlihat menyeringai ke pandangan mataku,ketika Tanaman Kacang Tanah itu mengabarkan bahwa mungkin beberapa bulan lagi akan di panen sang petani yang “Pastinya” akan Gembira kelak , dengan gelak tawa para Petani di dangau-dangau Indah alamiah itu.

Aku beranjak pergi meninggalkan Huma Di Bukit itu , Ku Coba tengadahkan wajah ketepian hari dimana Awan itu telah menggelayut pertanda hujan akan turun deras.

“Basahilah tanaman Petani Rajin itu hai hujan , TuhanMu bersama gembiranya Petani-petani perkasa yang akan tergelak bahagia pada panen raya harapan nyata mereka , terima kasih kau telah mengingatkan aku bahwa petuah itu sakti adanya ….

*Karanglayung Karangjaya Kab;Tasikmalaya Jabar*Kompasiana

Asep Rizal.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x