Mohon tunggu...
Asep Supriyadi
Asep Supriyadi Mohon Tunggu... * Alumnus Pesantren Sukahideng Tasikmalaya *Alumnus Pesantren UII Yogyakarta *Alumnus Prodi PAI UII Yogyakarta *Alumnus Magister UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta *Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan Kementrian Sosial *Pengisi Majlis Taklim “Al-Fauziah” Rajamandala Kulon, Cipatat Bandung Barat * Dosen STAI Al-Azhary Cianjur

* Alumnus Pesantren Sukahideng Tasikmalaya *Alumnus Pesantren UII Yogyakarta *Alumnus Prodi PAI UII Yogyakarta *Alumnus Magister UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta *Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan Kementrian Sosial *Pengisi Majlis Taklim “Al-Fauziah” Rajamandala Kulon, Cipatat Bandung Barat * Dosen STAI Al-Azhary Cianjur

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Ontologi Lebaran dan Kamuflase Materialisme

7 Juni 2019   06:54 Diperbarui: 9 Juni 2019   18:02 0 6 2 Mohon Tunggu...
Ontologi Lebaran dan Kamuflase Materialisme
sumber gambar: getty images

Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari hakikat sesuatu. Secara bahasa, Ontologi lebaran adalah hakikat lebaran. Apa itu hakikat lebaran? Secara bahasa, lebaran berasal dari kata lulubaran yang artinya saling melepaskan. Dosa-dosa adami yang berhubungan di antara keturunan anak adam dilepaskan sehingga kembali pada posisi nol-nol. Satu sama lain saling memaafkan.

Ontologi Lebaran

Bagi umat Islam, lebaran juga diistilahkan dengan idul fitri, kembali pada kesucian. Manusia pada lebaran diidentikan dengan manusia bersih karena proses penggemblengan pada bulan ramadhan. Puasa, Zakat, saling bermaafan dan ibadah lainnya merupakan instrumen terwujudnya manusia yang kembali pada kesucian (iedul fitri).

Sebelum lebaran tiba, manusia pada umumnya mengusahakan dirinya untuk bisa membeli baju baru yang akan dipakai pada lebaran. Toko baju, mall dan pusat perbelanjaan lainnya padat oleh kerumunan orang. Kebiasaan itu sering terjadi dalam rangka menyambut hari kemenangan, hari lebaran, iedul fitri.

Padahal, ada pepatah mengatakan laisal 'id liman labisal jadiid walakinnal 'id liman tho'atuhu tajiid. Hari 'Id bukanlah bagi mereka yang berpakaian baru, tetapi hari 'id adalah bagi mereka yang ketaatannya bertambah. 

Dari pepatah tersebut didapat sebuah intisari bahwa pakaian atau casing materi bukanlah hal yang esensi. Yang esensi adalah ketakwaan Takwa adalah penutup diri yang indah. Pakaian esensi adalah ketakwaan. 

Sebagaimana dalam Al-Qur'an Q.S. Al-A'raf ayat 26 yang artinya: "Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik" . Dalam sebuah syair dikatakan: "Jika seseorang tidak memakai pakaian ketaqwaan, menjadi telanjang walau ia berpakaian"


Kamuflase Materialisme

Pada realitanya, pada saat lebaran, pada saat mudik, orang-orang sedikit menunjukan materi yang dimilikinya. Padahal sesungguhnya, ia tidak memiliki sesuatu. 

Tetapi, karena ingin dilihat oleh orang lain, maka ia rela meminjam. Inilah budaya materialisme, tak peduli apa yang terjadi yang penting tampil gaya. Ia ingin terlihat bermateri, terlihat oleh orang wah. Ke-riya-an, ingin dilihat oleh orang bermula dari faham materialisme, yang terlihat yang nampak. Ia tidak melihat yang bathin yang esensi.

Padahal, puasa merupakan ibadah yang menekankan esensi bathin. Puasa itu sendiri hanya Allah yang akan memberikan pahalanya, karena puasa merupakan ibadah yang tidak terlihat.

Saya sahur bersama teman, saya berkeyakinan dia masih puasa. Namun, tanpa diketahui, ia berbuka di tengah-tengah puasa. Saya sebagai manusia tidak mengetahui kondisi tersebut terjadi. Namun, Allah maha mengetahuinya. Oleh karena itu, hanya Allah yang akan memberikan pahala puasa.  

Puasa merupakan wahana bertemunya dua yang bathin (iltiqoul baathinaini). Dalam asmaul husna, Allah tersifati dengan al-bathin, Yang Maha Bathin. Dalam pandangan filsafat, manusia memiliki dua unsur; dhohir dan bathin. Dalam kitab Suci Al-Qur'an disebutkan bahwa manusia telah ditiupakan ruh dari Allah. Ruh merupakan unsur bathin.  

Dalam puasa, unsur bathin manusia bertemu dengan Al-bathin, Allah. Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Kebahagiaan pertama adalah ketika berbuka dan kebahagiaan kedua adalah ketika bertemu dengan Tuhannya. Kebahagiaan itu, adalah rasa yang bersemayam di dalam bathin.

Menjadi satu kekhawatiran jika ketika mudik banyak mengeluarkan uang, pasca mudik uang habis. Untuk menyambung hidupnya harus berhutang sana sini. Bahkan, ada anekdot kajian bahasa Arab asal kata mudik yang menggelitik. 

Mudik berasal dari kata Mudikkun yang merupakan isim fail dari adakka yudikku yang artinya orang yang garuk-garuk. Mengapa yang pulang kampung disebut mudik, karena setelah berhari-hari di kampung halaman uangnya habis. Akhirnya, ia berpikir dan garuk-garuk kepala karena pusing habis uang.

Itulah kamuflase materialisme pada saat lebaran. Semoga kita terhindar dari ke-riya-an. Sifat pamer yang ingin dilihat oleh orang lain. Sehingga, ujung dari sifat tersebut akan menjerumuskan pemiliknya dari garuk-garuk kepala karena pusing. Pusing tidak punya uang. Kamuflase materialisme berujung pada kepayahan pasca lebaran.   

Penutup

Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan satu penyadaran bahwa esensi lebih utama daripada casing semata. Esensinya adalah ketakwaan. Mari kita lanjutkan ketakwaan yang sudah mulai terpupuk pada bulan Ramadhan kemarin. 

Ketakwaan dapat mendorong pemiliknya untuk berpakaian lebih indah, lebih anggun dan  menyesuaikan dengan tuntunan, berpakaian sesuai dengan fitrahnya. pakaian jasmani adalah penutup jasmani dan pakaian ruhani adalah ketakwaan.