Mohon tunggu...
Asaikanatype
Asaikanatype Mohon Tunggu... ilutrasikan segala prasangka dengan menulis dan terus berpikir

type review

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Penaku, 2020

8 April 2020   16:12 Diperbarui: 8 April 2020   16:14 13 0 0 Mohon Tunggu...

Penaku, 2020 di Desa

karya      Maria Lisa

Aku tidak tahu persis untuk memulai menulis setiap cerita-cerita ini akan berakhir seperti yang ku pinta ataupun malah sebaliknya. Sama halnya seperti isi kepala ku yang berisik, riuh berbicara mengenai  apa yang akan ku luahkan pada selembaran kertas putih yang akan bertoreh tinta hitam. Suara gesekan pena ku mulai menari di atas buku tulisku, perlahan ku gayuh agar tak salah makna.

Gesekan-gesekan pena ini semakin ramai di telinga ku yang sejak tadi mendominasi suara kamarku yang hening. Sesekali suara rintikan hujan itu menghentikan tarian pena ku. Ku pandangi dengan seksama daun-daun yang ditetesi air hujan dibalik jendela kamarku. Tak sungkan pula aku dibuat tersenyum berpikir melihat air yang jatuh berulangkali tanpa ada yang menampungnya.

Pandanganku kini beralih, aku sangat tertuju pada sekelumit tulisan dibuku tulis yang berada tepat dihadapanku. Ku baca perlahan setiap kata nya. Bagiku ini bukan buku tulis biasa, bukan juga cerita yang tak bermakna, disini lebih dari sekedar rasa. Ini buku tulis yang berisi goresan dan tumpahan hati serta pikiranku. Berisi tentang aku kamu dan Allah. Pikiranku perlahan mencerna satu persatu kata yang ku tulis sejak usai maghrib tadi. Hingga kini waktu menunjukkan pukul setengah Sepuluh malam. Kembali aku mengulas senyum.

Sesekali terselip gelengan kepala pelan dengan senyum simpul di bibir ku. Aku dibuat heran akan akhir-akhir ini ternyata aku begitu puitis. Tentang segala rangkaian tulisan-tulisan buah dari apa yang mengendap dihati dan pikiranku. Sejak rasa itu menyergap tiba-tiba.

Sesekali aku mendadak memiliki banyak kosa kata untuk ku luapkan tentang suatu hal. Tentang ia yang sulit untuk ku raih, tentang aku yang begitu ahli dalam menyimpan rasa namun tak pernah ahli dalam mengungkapkannya. Tentang ketentuan Allah yang tak sesuai dengan keinginanku. Tentang janji Allah yang pasti lebih baik dari semua sisi yang aku harapkan.

Ini cerita ku tentang dia yang dihadirkan semesta tanpa ku pinta. Ia yang tak ingin ku sebut namanya agar semesta tak salah sangka pada rasa.  Ah, sudahlah. Ini salahku mengagumi, menyukai, pada tuan yang tak seharusnya. Sesekali aku seperti orang bodoh dibuat akannya. Pernah sesak rasa ku  jika kembali mengenang rindu hebat menyelimuti akan bayang-bayangnya bersama sepi. Ia suatu cerita yang tak utuh padahal, cerita yang pergi karna memang tak pernah menyepakati untuk saling memiliki. Berkali-kali ku buat diriku sadar akan nyata, namun hasilnya sama saja. Aku malu mengakui nya, kini aku pun lebih malu ketika membaca ulang setiap tulisan ini.

Aku mengira ini semua sudah terlewat, karna semestaku perihal ia sudah tak lagi memberi aba-aba tentang hadirnya. Hingga kembali buku ini berkisah ruah mengenai ada di suatu saat dimana aku harus mengingat kembali semua yang berkaitan dengannya. Ia  cerita yang hilang. Iyaa, cerita yang belum sempat untuk ku diskusikan perihal menetap karna memang tak pernah menyepakati untuk selalu bersama. Terkadang aku bersikap berlebihan hanya agar dia mencoba untuk menetap, ternyata aku salah dalam mengartikan sikapnya.

Sempat terlintas dipikiranku mungkin ada canda tanpa sengaja, ada yang tersakiti.  Kini, ku mulai mengingat-mengingat kembali setiap kata dan canda yang pernah ku lukiskan bersamanya, ternyata tidak ada yang salah, kita hanya meneruskan jalan kita sendiri-sendiri dan kembali menjadi asing.

Dulu, aku pernah gila. Iyaa aku cukup gila pada apapun yang ku lihat aku merasa ia dekat. Aku terkecohkan akannya, menggilakan ia yang datang dengan tawa khasnya yang enggan ku bagi dengan siapa pun dia. Bahkan suaranya terekam jelas masih ditelingaku. Ia yang mengajarkan bahwa hidup bukan hanya perihal bahagia namun juga air mata. Ia adalah luka sekaligus penyembuh luka paling ku suka. Ia ku rindukan dengan cara yang baik, dengan cara yang indah. Meski aku dikejutkan berkali-kali oleh nyata akan siapa ia, meski ku tahu siapa yang akhirnya bersama ia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x