Mohon tunggu...
Bang Fu
Bang Fu Mohon Tunggu... penulis kolom tetap #Criticaldailyreportase dan #PedagogiNanalogI

"meletup-letuplah api kebersamaan dan jadikanlah daku penerang untuk gelapnya dunia ini" -sastrus24

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Telepon Itu Berdering Sepuluh kali, dan Kau Menolak

8 Desember 2019   11:51 Diperbarui: 8 Desember 2019   11:58 145 3 0 Mohon Tunggu...
Cerpen | Telepon Itu Berdering Sepuluh kali, dan Kau Menolak
cvmagazine.info

Di sudut ruangan, di atas meja kayu yang penuh dengan ukiran dan pahatan. Sebuah telepon berdering kencang di antara bilik-bilik kesunyian malam. Sebagaimana hari-hari sebelumnya, jika telepon berdering lebih dari tiga kali, dapat dipastikan hari itu pukul 12 malam.

Lagi-lagi telepon itu hanya berdering saja, tidak ada yang mengangkat, sama seperti hari-hari sebelumnya.

Lalu, di sudut ruangan lain yang menghadap televisi tabung yang masih menyala dan diletakkan di tengah ruangan, seorang wanita tua duduk bergoyang-goyang di atas kursi malasnya, beberapa kali ia sibuk mengganti saluran televisinya, sesekali ia hanya sibuk menggoyang-goyangkan kakiknya mempercepat momentum kursi malasnya dan sesekali mengintai telepon yang berdering itu dengan mata penuh keengganan dari tempat duduknya

"tidak terasa, hari ini adalah ulang tahun dering telepon yang kesepuluh" tukasnya bersamaan dering telepon yang terakhir. Lalu, ia kembali pada rutinitas bualan yang menjemukkan itu.

Rumah itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai lantai kebersamaan, dan lantai kedua berfungsi sebagai lantai kenangan. Orang-orang di kampung suka sekali bermain di rumah ini, selain karena tempatnya yang teduh, rumah ini menyimpan keceriaan dan kebahagiaan sebab orang-orang bersikap ramah, juga tidak ada yang pernah memberanikan diri untuk naik ke lantai dua selain dua pembantu nenek itu.

Hari-hari pertama dimana rumah ini digunakan oleh orang-orang kampung untuk bertetangga, orang-orang kampung sempat bertanya-tanya mengapa mereka tidak diperbolehkan naik ke lantai kedua. Berbagai desas-desus muncul begitu saja melewati batas ruang dan batas waktu, mengisahkan bahwa nenek pemilik rumah itu merupakan salah satu pengikut ajaran pesugihan hingga lambat laun mereka tau ada bahwa ada kesedihan di balik lantai dua itu.

Kebenaran ini terungkap ketika orang-orang yang kebetulan terjaga di malam hari bertanya mengapa dering telepon rumahnya tidak diangkat, dan itu terjadi selama hampir sepuluh tahun (dan semalam adalah ulang tahun yang kesepuluh semenjak telepon rumah itu berdering untuk pertama kalinya). Orang-orang yang bertanya itu kemudian mengerti bahwa terdapat hal-hal yang mereka sendiri enggan untuk mencari kebenarannya. Kebenarannya adalah mereka tidak tahu begaimana memutuskan kebenarannya.

Dua hari kemudian, nenek itu memutuskan bercerita kepada salah seorang penjaga malam yang bertugas hari itu. Tidak seperti dengan malam-malam sebelumnya, hari itu nenek turun dan berjalan ke luar rumah seperti hendak menyambut seseorang. Salah seorang penjaga malam kemudian mengahampirinya, menemani. Tubuhnya yang ringkin, kulitnya yang pucat pasi menandakan bahwa nenek itu jarang keluar rumah kemudia menepuk halus pundak kekar penjaga malam itu,

"nak, kamu tau mengapa orang-orang kularang untuk naik ke atas ?" tanyanya begitu saja

"tidak banyak yang kuketahui selain kesedihan, dan kemurungan yang biasa nenek tampakkan seusai menuruni lantai itu"

"apa kau sering mendengar teleponku berdering di malam hari ?" tanyanya lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x