Mohon tunggu...
Aryanto Wijaya
Aryanto Wijaya Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Bekerja sebagai Editor | Jatuh cinta pada Yogyakarta Ikuti perjalanan saya selengkapnya di Jalancerita.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Banyuwangi, Mutiara di Timur Jawa

28 Maret 2016   21:08 Diperbarui: 28 Maret 2016   22:16 574
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Bakul-bakul pengakgkut belerang yang teroggok di bibir jurang"]

[/caption]

Semburat fajar mulai terlihat menorehkan cahaya keemasan. Saat bersamaan pula asap belerang dari perut kaldera mulai tersingkap. Puluhan turis segera mengeluarkan senjata andalan mereka, tongsis! Berpacu dengan waktu mereka mencoba ribuan gaya dalam ribuan cekrekan foto. Sementara beberapa turis lain cukup merokok, duduk diam, ataupun bermesraan menyaksikan keindahan Ijen.

[caption caption="Kaldera Ijen"]

[/caption]

Lain dengan turis, para penambang belerang tetap bekerja. Mereka seolah tak mau kerjanya diusik oleh turis-turis. Kakinya yang kuat menapak mantap batu-batu Ijen seraya membawa belerang di pundaknya. Bagi kami, penambang belerang inilah yang menjadi mahkota dari Ijen. Sebuah fenomena akan kekuatan manusia menyambung hidup. Demi mengisi takdirnya, mereka tidak menghiraukan asap dan maut yang bisa menjemput kapan saja. Kontradiksi dengan kami, lahir dan besar di kota dengan segala kemudahannya namun sering kali mengeluh dengan apa yang tak kami punya.

[caption caption="Bongkahan belerang yang siap diangkut menuju Bunder"]

[/caption]

Matahari mulai menghangat, seiring itu pula asap belerang mengarah ke puncak kaldera. Bau khas belerang semerbak mampir di hidung para turis sehingga kebanyakan memutuskan segera turun dengan masker menempel di wajah.

[caption caption="Menikmati Ijen di pagi hari"]

[/caption]

Sebelum asap belerang semakin tebal, kami mengheningkan diri. Jumat itu adalah Jumat Agung, dimana dalam Iman kami hari ini adalah hari yang sakral. Mengambil posisi bersila, kami melarutkan jiwa kami dalam harmoni Ijen, memecah hosti dan kemudian berdoa.

[caption caption="Memperingati Jumat Agung di Kawah Ijen "]

[/caption]

Tak lupa, kami membeli beberapa cinderamata belerang dari penambang lokal disana. Tujuannya adalah satu, berbagi rezeki dengan para penambang disana. Setelah kami membeli dua buah ukiran belerang seharga Rp 10.000,- segerombolan turis lain pun turut membeli hingga dagangan sang penambang laris sempurna.

Ijen, lebih dari sekedar gunung berapi. Ia menyajikan sebuah potret akan manusia Indonesia yang sesungguhnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun