Mohon tunggu...
Aryanto Wijaya
Aryanto Wijaya Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Bekerja sebagai Editor | Jatuh cinta pada Yogyakarta Ikuti perjalanan saya selengkapnya di Jalancerita.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Banyuwangi, Mutiara di Timur Jawa

28 Maret 2016   21:08 Diperbarui: 28 Maret 2016   22:16 574
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Baru beberapa kilometer melanjutkan perjalanan, keputusan membeli sarung tangan tadi adalah keputusan yang super tepat. Di tengah pekatnya malam suhu udara mulai menciut hingga membuat gigi bergemertak dan badan menggigil. Jarak 15 Km menuju Paltuding seolah jauh luar biasa mengingat medan yang belum dikuasai dan motor yang kurang mendukung. Sekalipun motor sewaan ini masih baru, namun karena kurang perawatan tenaganya tak cukup tangguh untuk melibas jalanan Ijen.

[caption caption="Jalanan curam berpasir menuju Puncak Ijen. Jalan ini akan licin dan berbahaya kala kemarau datang"]

[/caption]

Pukul 00:15 kami tiba di Pos Paltuding yang merupakan pos awal untuk mendaki Ijen. Jalur pendakian sendiri baru dibuka pukul 01:00 sehingga kami punya waktu sejenak untuk beristirahat. Malam itu adalah malam Jumat Agung yang berarti long weekend , alhasil Pos Paltuding dipenuhi oleh ratusan manusia yang ingin melihat Ijen dari dekat.

Wisatawan dari Singapura, Jerman, Belanda, juga turis-turis lokal bermunculan. Ada yang lengkap menggunakan atribut mendaki, ada yang seadanya. Ada pula yang sudah menyewa masker belerang seharga Rp 35.000,- sejak dari bawah sekalipun jarak ke kawah masih 3 Km lagi. Hal ini mungkin unik bagi kami, tapi merupakan berkah bagi para penambang belerang.

Sebut saja Maryo, seorang penambang belerang yang berbincang dengan kami. Selama 9 tahun ia tekun menjajaki Ijen setiap tengah malam hingga siang bolong demi menambang belerang. "Kalau mengandalkan hasil belerang saja sih rugi mas, gak cukup. Alhamdullilah sekarang tambah-tambah lewat sewain masker, beberapa teman penambang juga sudah kursus Bahasa Inggris jadi bisa guide turis asing, kan lumayan," paparnya.

[caption caption="Bermodalkan alat seadanya, penambang belerang beradu nasib mengais rezeki"]

[/caption]

Hadirnya turisme di Ijen membawa berkah tersendiri bagi penambang belerang. Uniknya adalah beberapa penambang ketika musim long weekend ini beralih profesi menjadi "Ojek Gerobak". Bermodalkan gerobak kecil pengangkut belerang, mereka menyulapnya jadi angkutan untuk manusia. "Yo, mas mbak yang tidak kuat turun naik ini saja 50 ribu sampai bawah," ucap seorang penambang muda kepada turis yang terlihat lelah.

Jika ada yang bilang rejeki selalu ada, mungkin itu juga berlaku buat Ojek Gerobak. Tak lama, sepasang sejoli yang sudah kelelahan menerima tawaran Ojek Gerobak. Alih-alih kelelahan, nampaknya mereka ingin merasakan sensasi turun gunung naik gerobak. Tongkat GoPro pun disiapkan, mereka berteriak seolah naik roller coaster sementara si penambang muda berjuang mati-matian menahan gerobak di belakang agar tidak terjungkir.

[caption caption="Gerobak belerang yang dilengkapi tuas rem di gagangnya. Gerobak ini beralih fungsi menjadi ojek untuk mengangkut wisatawan yang kelelahan"]

[/caption]

Sebagai pendaki pemula kami menaiki Ijen dengan waktu tiga jam. Berangkat naik pukul 01:00 dan tiba sekitar pukul 04:00. Jalan setapak menuju Puncak menanjak curam sejauh 1,5 kilometer hingga pos Bunder. Di Pos ini terdapat warung dan penimbangan belerang. Selepas Pos Bunder, pendakian menuju puncak umumnya landai namun sempit. Biasanya turis yang sudah putus asa akan mengakhiri pendakiannya di Pos Bunder.

Berpacu dengan waktu, kami mendahului beberapa rombongan untuk tiba di Kaldera Ijen. Tepat pukul 04:00 kami tiba di puncak Kaldera namun tidak sempat melihat si api biru lantaran penuh bagai pasar. Suhu di Puncak Ijen pada moment tertentu dapat menembus hingga 2 derajat Celcius. Satu kawan kami nyaris mengalami hipotermia lantaran tidak menggunakan peranti mendaki yang memadai. Tetap bergerak adalah kunci menjaga badan tetap hangat. Jika hanya duduk, perlahan udara dingin akan menusuk tulang, namun jika bergerak tubuh akan tetap terjaga hangat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun