Mohon tunggu...
Ar yanti
Ar yanti Mohon Tunggu... Mahasiswa - Aryanti/Universitas Peradaban

Menyanyi/Konten kreator

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mempertahankan Kearifan Lokal melalui Cerita Rakyat

5 Januari 2023   07:35 Diperbarui: 5 Januari 2023   07:46 483
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Prosa Rakyat yang lebih dikenal dengan Cerita Rakyat tersebar diseluruh Nusantara. Sebagai kekayaan budaya, melalui Cerita Rakyat dapat digali berbagai kemajemukan Identitas Nasional Indonesia. Dalam masa sekarang kearifan lokal bisa menjadi salah satu cara dalam mewujudkan aspek positif arus globalisasi. Kearifan lokal banyak terdapat dalam cerita rakyat seperti cerita Malin Kundang, Cerita Rakyat tersebut mengandung pesan moral seperti sopan santun, saling menyayangi, suka menolong orang lain, dan lain sebagainya.

Keanekaragaman cerita daerah inilah kemudian melahirkan apa yang disebut multikulturalisme. Di dalam cerita rakyat tersebut terkandung nilai-nilai positif yang dapat menjadi cermin kehidupan kita dalam bertindak dan bertingkah laku. Melalui cerita rakyat ini pula, kita dapat memberikan nasehat. Namun, tidak dapat dipungkiri tidak semua Cerita Rakyat dapat di cerna oleh anak

Dengan tersebarnya Cerita Rakyat, penggalian kearifan lokal menjadi penting sebagai upaya untuk tetap melestarikan Budaya Bangsa dan menjaga Identitas Bangsa. Cerita Rakyat yang tersebar di wilayah Nusantara dipandang memiliki potensi untuk menggali budaya lokal. 

Kearifan lokal merupakan salah satu produk budaya. Produk budaya itu dapat berbentuk bendawi (tengible) maupun yang nonbendawi (intengible). Produk budaya ini digunakan sebagai rujukan bagi kehidupan bermasyarakat dan berkomunikasi, baik komunikasi dengan sesama manusia, alam, maupun Tuhan. Melalui kearifan lokal, para pemilik dan penggunanya diharapkan dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan selanjutnya dapat memuliakan hidup itu sendiri. 

Kearifan lokal termasuk tradisi yang masih hidup ada pewarisnya, baik pasif maupun aktif dan seringkali dalam implikasinya dikaitkan dengan nilai moral tentang baik dan buruk. Bagi pelanggar nilai moral tersebut akan dikenai sangsi sosial kultural berupa yang pertama, di tuduh sebagai orang yang tidak tahu adat, yang ke dua, dihindari dari pergaulan bahkan tidak jarang diasingkan. Hukuman ini masih berlaku dalam beberapa masyarakat adat, seperti di Bali.

Menurut Kleden (1988: 244-247), tradisi disini sebagai tiang topang kebudayaan yang harus dibangun, dipertahankan, dan perlu diuji kembali dalam kehidupan yang lebih baru. Ditegaskan pula sebuah tradisi bukan persoalan dapat diterima atau tidak, melainkan untuk dipertimbangkan kembali dan disesuaikan dengan keperluan baru. 

Cerita rakyat yang tersebar di seluruh Nusantara sangat banyak jumlahnya. Cerita rakyat tersebut akan bisa bertahan jika kita selalu memperkenalkannya pada seluruh masyarakat dan sekaligus dapat menumbuhkan kesadaran betapa Bangsa Indonesia begitu kaya akan kisah-kisah Rakyat. Paling tidak masyarakat masih mengenal Cerita Rakyat daerah tempat dimana masyarakat tinggal.

Bila sering membaca Cerita Rakyat, nilai positif yang terkandung didalamnya dapat dijadikan cermin kehidupan dalam bersikap dan bertingkah laku. Namun, tidak semua cerita rakyat baik dibaca oleh Anak-Anak karena mungkin Cerita itu konsumsi orang dewasa. Oleh karena itu, peranan orang tua sangat diharapkan dalam memperkenalkan Cerita Rakyat tersebut. Wilayah Indonesia yang memliki tiga puluh tiga provinsi tentu memiliki cerita rakyat yang demikian banyak jumlahnya. Meski demikian, saya akan menyebutkan satu dari cerita rakyat di seluruh Nusantara.

Cerita Asal Danau Toba berasal dari Sumatra Utara menceritakan tentang kehidupan seorang petani tua. Petani ini sangat rajin bekerja meski tidak mempunyai ladang yang luas. Desa itu terkenal dengan kemakmurannya. Banyak hasil padi dan sawah yang dihasilkannya. 

Pada saat petani ingin memakan ikan pancingannya, dari mulut ikan keluar suara yang mengatakan kalau dirinya adalah manusia yang dahulu mendapat kutukan sang dewata. Ikan tersebut kemudian berubah menjadi putri cantik kemudian menikah dengan petani tersebut. 

Setelah itu mereka mempunyai seorang anak lelaki yang dalam pertumbuhannya ia menjadi anak nakal. Anak ini tidak pernah menuruti perintah dan anjuran bapaknya. Sampai suatu hari bapaknya sudah habis kesabaran dengan anaknya lalu tidak sengaja berucap dasar anak ikan. Karena makmuran di sini terdapat rasa erat hubungannya antara manusia dengan Alam. Alam ciptaan Tuhan harus dijaga dan dirawat seperti halnya dengan alam Danau Toba. Negeri itu tidak saja memiliki danau yang indah, tetapi juga tanahnya subur sehingga tanaman seperti ladang dan berbagai tanaman dapat tumbuh dengan baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun