Mohon tunggu...
arya dwiputra
arya dwiputra Mohon Tunggu...

melihat dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Silas Papare, Pejuang dari Tanah Papua yang Terlupakan

18 September 2012   05:00 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:18 2638 1 2 Mohon Tunggu...

Silas Papare : “Jangan Sanjung aku, tetapi teruskanlah perjuanganku”. Sebuah perjuangan demi kehidupan rakyat masyarakat Papua untuk menjadi lebih maju, sejahtera dan berkeadilan dalam wadah NKRI. (Salah seorang pejuang asal Papua, Silas Ayari Donari Papare yang ikut dalam merebut kemerdekaan NRKI dari kolonial.)

Grace, anak kesepuluh dari dua belas bersaudara tersebut menceritakan “perjuangan bapak saya dilandasi oleh perasaan yang tulus ikhlas agar kehidupan masyarakat Papua bisa lebih baik dalam kesatuan bangsa dan Negara Indonesia. Bahkan,Bapak saya tegas mengatakan : jangan sanjung aku, tetapi teruskanlah perjuanganku. Itulah yang mestinya kita (generasi muda Papua) jadikan pendorong semangat dan langkah kita menuju Papua yang damai, maju dan sejahtera.”

Kini dikala maraknya konflik yang melanda di Tanah Papua, kita (generasi penerus) malah seperti melupakan kehadiran seorang pahlawan nasional dari Papua yang turut mengusir penjajah Belanda dari Tanah Indonesia dan justru memuja-muja Belanda yang pernah “menyakiti” bangsa Indonesia.

Sangat disayangkan, Papua yang dulu dengan susah payah direbut kemerdekaannya dari penjajah colonial justru lupa akan perjuangan bangsa yang dengan mempertaruhkan nyawanya ingin membebaskan Papua dari kolonial yang hanya ingin “memeras” hasil alam Papua dan berniat menyingkirkan Papua dari NKRI.

Silas Papare lahir di Serui, Yapen pada 18 desember 1918. Pada usia 17 tahun, ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Juru Rawat lalu bekerja sebagai pegawai kesehatan pemerintah Hindia Belanda di Papua. Pada Perang Dunia II (PD II) Silas Papare pernah berperan sebagai “mata-mata” sekutu AS (selama PD II, Belanda adalah sekutu AS) dalam melawan Jepang di tanah Papua sehingga ia dihargai dengan diberikan pangkat Sersan Mayor Kesehatan.

Namun, setelah PD II berakhir dan proklamasi telah dikumandangkan, Silas Papare bertekad untuk menyatukan Tanah Papua ke dalam NKRI. Ia sangat teguh dalam berjuang melawan Belanda yang akibatnya adalah ia sering berurusan dengan aparat keamanan Belanda.

Suatu hari, Silas Papare bertemu dengan Sam Ratulangi yang pada saat itu merupakan Gubernur Sulawesi di ibukota Kabupaten Yapan (pada saat itu sedang diasingkan oleh pemerintah Belanda. Setelah pertemuan tersebut, Silas Papare semakin berkeyakinan bahwa tanah tumpah darah Papua adalah bagian tidak terpisahkan dari Nusantara Indonesia. Kesadaran akan kebangsaan tersebutlah yang menjadi api semangat Silas Papare untuk terus memperjuangkan Irian Barat (Papua) agar terlepas dari belenggu kolonialisme Belanda dan kembali bergabung dengan NKRI.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x