Aryadi Noersaid
Aryadi Noersaid karyawan swasta

Lelaki yang bercita-cita menginspirasi dunia dengan tulisan sederhana.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

(Catatan tepi) Damai Ibu Sepanjang Hari

21 April 2017   10:08 Diperbarui: 21 April 2017   10:19 12 1 1

Tinggal di lingkungan kompleks tentara di masa kecil yang mirip cluster membawa pengalaman tersendiri bagi kami. Rumah yang berhadapan dibatasi jalan lingkungan yang tak seberapa lebar membuat apapun yang terjadi pada tetangga mudah dideteksi dan diketahui.

Meskipun keakraban antar tetangga adalah salah satu nilai lebih tetapi keributan antara tetangga tak jarang juga terjadi. Perselisihan tak hanya mengenai persoalan anak-anak kecil seperti kami yang kadang saling berkelahi satu sama lain dalam permainan  tetapi juga kerap melibatkan antara Ibu rumah tangga yang hampir keseluruhannya adalah Istri tentara.

Kami anak-anak kecil tak pelak merekam segala lontaran kemarahan antara dua tetangga yang saling berselisih paham, dipaksa mengerti oleh pendengaran kami yang mencoba menerka apa gerangan persoalan yang sedang dihadapi oleh mereka para orang dewasa. Kadang saling pandang tak mengerti terjadi pada dua teman kami yang kebetulan ibu-ibu mereka sedang berselisih paham diantara mereka. Jika keributan berhenti maka kami kembali bermain bersama seolah tak terjadi apa-apa sementara para ibu yang bertikai masih berlanjut dengan saling diam dan tak saling tegur sapa hingga berminggu-minggu setelahnya.

Kepada ibu saya sering bertanya kenapa teman-teman ibu kerap bertengkar untuk hal-hal yang beragam banyak penyebabnya. Ibu Cuma bilang kepada saya bahwa keributan itu mencerminkan suasana hati mereka.

“Beberapa saat ketika mereka berhenti bertengkar, nanti juga satu persatu akan datang pada ibu. Bercerita tentang persoalannya, bercerita tentang betapa buruk lawan bertengkarnya,” sahut ibu suatu kali sambil membungkus keripik-keripik pedas jualannya. Ibu adalah sosok yang tak banyak bicara, ia lebih banyak bertindak dan bersosialisasi dengan tindakannya. Para tetangga kerap menjadikan beliau tempat bercerita dan bila mereka bercerita saya sering terjebak dalam percakapan yang sebetulnya tak boleh saya dengar sebagai anak kecil. Tetapi apa mau dikata kuping saya tak bisa saya sumpal untuk tak mau mendengar pengaduan dan curahan hati teman-teman ibu, para tetangga kami.

“Terus kenapa ibu nggak pernah aku lihat bertengkar dengan satupun tetangga disini?” tanya saya.

“Ibu terlalu sibuk untuk berpikir bagaimana menambal kebutuhan hidup kalian semua. Gaji bapakmu kan nggak seberapa. Mengurus warung kecil saja sudah cukup buang tenaga, kenapa mesti sibuk bertengkar dengan mereka,” beliau tersenyum.

“Lalu apa yang membuat mereka nantinya baik kembali, saling bicara lagi. Apa saling minta maaf?” tanya saya.

Kepulan asap api lilin mengibas-ngibas ekornya ketika ibu tak sengaja menyenggol sumbu saat membakar plastik pembungkus keripik pedas agar tertutup rapat.

“Sampai mereka datang keduanya pada Ibu, nggak ada satupun pendapat mengenai apa gerangan yang memicu keributan mereka yang bisa ibu simpulkan. Nggak ada  hak ibu untuk bilang siapa yang salah karena begitu menyimpulkan sebelum mendengar keduanya maka itu adalah satu hal yang salah,” ujar ibu.

Memang tak jarang tetangga kami  Ibu-A ketika usai bertengkar dengan ibu-B datang bergiliran pada ibu, sekedar melampiaskan cerita asal-usul pertengkaran mereka dan menganggap dirinya paling benar dan kesalahan ditimpakan  pada lawan seterunya lewat cerita. Ibu tak perlu mempertemukan keduanya setelah masing-masing datang, tetapi lebih memilih menyampaikan sudut pandang pada kesempatan lain pada masing-masing. Hal yang tak mampu disampaikan mengenai persoalan sebenarnya karena emosi bisa ibu sampaikan dengan jernih sehingga  bisa diterima keduanya.

“Kalau ibu bertengkar, terus ibu ngadunya kemana?” suatu kali saya bertanya menggoda pada ibu, meskipun selama saya kecil tak satupun seingat saya ibu pernah bertengkar dengan tetangga.

Ibu bukan pegawai perusahaan apapun, tetapi beliau adalah pekerja, mendampingi bapak yang lebih sering bertugas keluar membela negaranya sebagai tentara. Jahitan konveksi, segala penganan yang ia olah untuk dijual dan sederet toples pada warung kecil kami adalah tempat beliau mencurahkan energinya disela membesarkan kami anak-anaknya. Ibu tak tertarik mengikuti acara seremoni dengan berbagai pakaian kebaya yang sering dilakukan oleh teman-temannya, ia memilih berkeringat dalam keseharian memastikan semua hal bisa terpenuhi untuk kami.  

 “Kamu lihat keripik ini, warung kecil depan rumah itu, lontong yang ibu titipkan ke sekolah-sekolah dan jahitan konveksi itu. Itulah tempat ibu meredam emosi. Tempat ibu  menghabiskan waktu mencegah pertengkaran yang nggak perlu,” sahut ibu.

Kini seiring usia saya yang mulai menua, begitu banyak hal yang telah saya ketahui dan lalui. Segala persoalan yang menimbulkan pertikaian silih berganti didengar dalam kilasan yang cepat dan tak bersumber jelas. Persoalan pekerjaan, persoalan politik, persoalan keluarga silih berganti datang tetapi ibu mengajarkan bahwa saya tak boleh menyimpulkan sebelum mendapatkan apa-apa yang bersumber dari dua pihak yang saling bertentangan.

Mungkin jika ibu  hidup pada jaman ini, tentu ia tak mungkin bisa menghindari pergaulan di Media sosial.  Sebagai seorang ibu rumah tangga  pekerja ia akan membutuhan siapapun yang ia kenal untuk membeli produknya. Media social adalah mirip dengan cluster komplek yang kami tinggali dulu dan diisi para tetangga yang kadang berselisih karena berbagai persoalan dan perbedaan. Satu hal yang saya yakin ibu pasti tak akan lakukan adalah mengambil kesimpulan pada setiap perselisihan tanpa mendengar dan tahu penyebabnya dari dua sisi. Ibu pasti tak akan serta merta menyebarkan satu hal yang tak jelas pada teman-temannya.  

Seorang Ibu, apapun profesinya adalah sosok yang menginspirasi, baik Ibu yang bekerja, Ibu rumah tangga, seniman, pedagang, guru dan segala hal yang disandangnya adalah sosok terdepan yang bisa membawa kedamaian. Mereka bisa membawa sesuatu yang gelap menjadi terang benderang, Untuk itu ibu yang mampu menyampaikan berita tanpa emosi dan mendengar segala sesuatu dari berbagai sisi maka akan membawa kedamaian bagi Ibu Pertiwi. Kami anak-anaknya akan bercermin pada tingkah dan laku para Ibu-ibu kami sepanjang hari.

Selamat hari Kartini!!

Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam kita, Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia. – R.A. Kartini