Mohon tunggu...
Aryadi Noersaid
Aryadi Noersaid Mohon Tunggu... entrepreneur and writer

Lelaki yang bercita-cita menginspirasi dunia dengan tulisan sederhana.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Lelaki Pemikat Punai (9)

2 Januari 2021   12:22 Diperbarui: 3 Januari 2021   08:51 218 7 0 Mohon Tunggu...

 Seekor burung perkutut hinggap dengan kaki ‘paserinnya’ bertengger diantara dua tiang bambu yang menopang beranda warung kecil itu. Tubuhnya tirus  kebelakang dengan paruh yang meruncing panjang berwarna abu-abu biru. Bulu pada sisi luar ekornya berwarna kehitaman dengan ujungnya berwarna putih cerah. Matanya yang bulat sempurna tak tampak was-was meskipun aku tak jauh duduk dekat dirinya.

Dalam keadaan seperti itu pastilah sang perkutut tak ingin berdendang memperdengarkan keindahan suaranya dan ia tak ingin berlama-lama disana karena dalam hitungan sekejap tubuhnya akan direngkuh manusia yang lebih memilihnya untuk tinggal bertengger dalam sangkar-sangkar sempit lalu mengereknya setinggi mungkin agar mau berdendang dengan langgam yang kadang dipertandingkan.

Perkutut itu nampaknya kelelahan terbang. Kepalanya yang cantik berbentuk lonjong seperti buah pinang menandakan ia memiliki suara yang bervolume besar dan berdurasi lama. Aku ingat bapak mampu membedakan mana burung perkutut yang bersuara bagus dan tidak hanya dengan membedakan bentuk paruh, bentuk kepala, warna mata bahkan dari ukuran kuku.

“Suara perkutut yang indah bukan dari suara perkutut pemenang lomba. Suara mereka yang paling indah adalah ketika mereka berdendang diatas pucuk-pucuk pohon di bumi. Bernyanyi melepaskan suara, menghibur dengan alunan iramanya seperti mereka bersuara menyampaikan pujian tentang indahnya alam raya yang dihuni segenap manusia,” pesan almarhum bapak masih terngiang saat perkutut itu menggeser tubuhnya menjauhi aku yang tengah bangkit dari kursi balok panjang.

Aku memilih mengusir burng cantik itu dengan mendekat kapadanya, sayapnya yang kecil mengepak menjauh dan terus menjauh. Itu lebih baik daripada sekumpulan orang akan dengan cepat  memburunya bila melihat keberadaannya. “Pergilah menjauh kamu cantik, sebelum manusia mengungkungmu!”

Lokasi parkir sepeda kuhampiri dengan menyeberang jalan lalu melintas halaman samping kantor polisi yang sisi-sisinya dirindangi pohon trembesi dan mahoni.. Sebuah batang bambu kecil tampak menopang sepedaku karena standardnya yang rusak.

Hanya ada tiga sepeda terparkir disana dan kuperhatikan   si kelabu adalah yang paling buruk rupa. Meskipun tak berkarat, warna cat tubuh sepedaku mulai mengelupas membentuk bercak seperti penyakit kulit disekujur tubuhnya. Waktu perjalanan yang panjang dari Sendang witir ke Semarang pulang pergi tak memberiku kesempatan memperindah tubuh si kelabu. Aku lebih sering bergegas membantu bapak di ladang ataupun di kandang.

Dua sepeda lain yang terparkir nampak kinclong dengan ornamen yang bervariasi. Lampu depan lengkap dengan dinamo penggerak listrik, bel denting yang tergosok berkilau,  sandaran sampingnya tegak menopang tubuh-tubuh mereka, sementara penutup rantai  melindungi dengan kokoh sehingga tak menampakkan sambungann-sambungan besi yang memindahkan energi putar dari kayuhan kaki ke roda belakang.

Disamping salah satu sepeda itu berdiri mematung seorang gadis yang nampak tengah sibuk menyeka matanya. Binar matanya yang jernih ternodai oleh droplet air mata yang berusaha ditahannya. Dari depan aku bisa memandang tubuhnya yang bertinggi rata-rata perempuan Jawa. Kulitnya yang coklat bersih kekuningan terlihat eksotis oleh kilatan matahari menjelang siang. Peluh nampak meluncur di sepanjang lehernya seolah tak memiliki pijakan yang kuat karena kehalusan permukaan kulitnya.

Perlahan tubuh gadis itu sedikit bergetar  dan matanya yang indah nampak memicing menahan sesuatu yang ia rasakan begitu dalam. Aku mendekatinya. Wangi lavender merebak makin tajam seiring kuhampiri gadis itu lebih dekat.

“Kamu kenapa?” tanyaku padanya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x