Mohon tunggu...
Aryadi Noersaid
Aryadi Noersaid Mohon Tunggu... entrepreneur and writer

Lelaki yang bercita-cita menginspirasi dunia dengan tulisan sederhana.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Pendekar Pedang Sunyi

26 Maret 2020   08:18 Diperbarui: 26 Maret 2020   08:31 34 2 0 Mohon Tunggu...

PENDEKAR PEDANG SUNYI - CERITA SILAT BERSAMBUNG

Sebuah gendewa (anak panah) meluncur menembus angin. Desingannya melibas daun-daun dahan pohon sawo hingga merobek tepinya. Anak panah itu menghujam dalam kesebuah papan perguruan silat yang semula kokoh tergantung di dinding sebuah sudut mirip altar. Ujung gendewa yang menancap ditengah  tampak meleleh, cairan merah darah meretas celah kayu yang terhujam melumuri sebagian tengah bawah papan itu.

"Gendewa ini menjadi saksi bahwa 'Perguruan Pedang Sunyi' tak akan pernah ada lagi di bumi Hindia timur. Darah diujung gendewa dari telinga guru yang kalian agung-agungkan juga menjadi saksi siapapun yang akan mendirikan perguruan tak boleh satupun tanpa ijin aku, Klabang Ireng,  dan hanya boleh berlatih di waktu Lingsir wengi!"  serbuan mendadak diwaktu 'sirapwong' oleh segerombolan pendekar berpakaian hitam dan merah meluluh lantakkan seluruh perguruan seluas selaksa meter persegi itu.

Tubuh dari sosok berpakaian abu-abu nampak tergeletak dimuka meja besar, ia dikelilingi lima sampai enam anak-anak muda yang nampak menahan tangis. Racun dari bisa yang terseruput dari gelas tempurung kelapa merobohkan pertahanan guru perguruan sesaat jamuan  siang dilaksanakan oleh tamu yang mengaku mewakili  pemerintah Hindia timur. 

Telinganya koyak dan kini menempel pada papan perguruan. Murid-muridnya tak kuasa menahan kekejian pengkhianatan entah oleh siapa diantara mereka. Siang itu mereka menyaksikan bara merah menyala meluluh lantakan seluruh bangunan perguruan mereka, setelahnya satu demi satu 'Cakra' menghujam leher-leher mereka ditengah dengusan nafas angkara murka gerombolan Klabang Ireng.

Hingga lingsir wengi,   Mahesa menahan nafasnya dengan teratur. Percikan air sungai kadang melumuri wajahnya ditengah persembunyian. Air sungai yang memerah mengalir dari hulu, ia memejamkan mata menahan kegeraman, namun suara bederak-derak membuatnya menahan diri. Teriakan demi teriakan membahana  membuatnya menghitung setidaknya tiga hingga empat puluh orang tengah menghancurkan tempat dimana ia bermukim dan berguru dua tahun lamanya. 

Perguruan Pedang sunyi luluh lantak, menyisakan penggalan kepala anak-anak muda dan sosok tubuh guru perguruan itu. Pendekar Pedang sunyi yang selama ini sangat dikenal di seluruh wilayah kerajaan Bantam terbujur tanpa telinga tepat disudut meja dimana ia dulu selalu memperhatikan murid-muridnya.

Ditepi sungai tersembunyi, Mahesa menahan tangis dan geramnya. Raka, Jaka, Wira dan beberapa teman seperguruannya entah dimana. Mereka beberapa saat yang lalu begitu dekat mendampingi gurunya menjamu Klabang hitam yang tak mereka ketahui ternyata hendak menghancurkan perguruan mereka. Ketika tiga puluhan sosok berbaju hitam satu demi satu merangsek ke pelataran perguruan sesaat tubuh pendekar pedang sunyi roboh oleh racun yang diteguknya,

 Mahesa dengan sigap menelusup ke kamar gurunya dan melepaskan pedang 'Mangkara Suci' dari dinding lalu ia melompat kesungai yang mengalir deras dibawah lumbung padi perguruan sesaat setelah ia menebas dua sosok penyerang dengan pedang itu. Ia bersembunyi menyaksikan kehancuran perguruannya. Menunggu dan menunggu hingga waktu 'bang'un' berlalu.

Bersambung

-Aryadi Noersaid- WFH 260320 Raspati

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x