Mohon tunggu...
arvian bayu
arvian bayu Mohon Tunggu... -

Manusia yang selalu belajar

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Dusun Sepak Bola Gila

21 Mei 2015   10:26 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:45 39
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Dalam begadang tiap tengah pekan jika ada pertandingan sepak bola sambil menunggu bedug
wasit, rumah Markeso selalu terbuka, meja dan kursi yang terparkir didepan diseretnya
untuk sejenak pindah kebelakang barang sampai habis subuh pas orang-orang bubaran nonton
bareng. Rumah Markeso yang dulunya sepi sekarang hampir tiap hari didatangi orang-orang,
karena kabarnya apa yang diceletukkan Markeso ini akan terbukti benar, alias akurat,
termasuk dalam sepak bola.

Umumnya yang datang ke rumah Markeso ini malah dari luar desa. Akan tetapi, mungkin memang begitulah “hukum alam”. Pancuran air selalu mengucuri tempat yang jauh dari lubang tempat ia mancur. Wilayah di seputar lubang itu sendiri kering tak kena air. Dukun tidak didatangi pasien orang kampungnya sendiri. Bahkan, “maling” tidak “mencuri” di desanya sendiri.

Awal ramainya rumah Markeso ini bukan orang mau minta nomor togel, bukan juga tanya
tentang prediksi sepak bola, Markeso sering dimintai seminar dadakan oleh siapa saja.
“Besok bisa hadir di rumah saya tidak, So? Ada keponakan mau disunat” Permintaan yang
tak lazim itu sering keluar masuk ke telinganya, Markeso bukan dukun sunat, bukan. Namun
ia selalu bisa menenangkan orang apabila orang pikiranya sedang kacau, seperti dakwah
kecil-kecilan yang ia lakukan.

Orang di dusunya sering memanggil dengan julukan “wong gendeng” karena yang ia lakukan
kerap diluar batas, hidupnya tak jelas, kadang keluar malam ke sawah-sawah. Ketika ada
yang bertanya

“Cari nomer togel, So?”.
Dia cukup jawab “tidak, sedang menghitung bunyi kodok”
“Lha iya, ujungnya pasti nomer togel, berapa kali kodoknya bunyi?”.
“45 kali”
“Berarti besok yang keluar nomor 45″.
“Jangan, sebetulnya 60 kali, cuma yang 15 dalam hati”
Tawa pun pecah, memecah kesunyian sawah dan suara kodok yang bersahut-sahutan, dan suara mesin disel yang mengaliri alir.

Hari itu yang sedang bertanding adalah Manchester City vs Barcelona, lima minggu sebelum
pertandingan itu Markeso sudah memprediksi kalau City akan masuk final Liga Champions.
Jadi orang-orang manfaatkan ucapan Markeso itu untuk taruhan bola sesama warga dusun.
Barcelona pada dini hari itu keluar sebagi pemenang, namun pada waktu itu tidak ada yang
sedang taruhan, lha gimana, gara-gara ucapan Markeso City akan juara Liga Champions
orang-orang tidak mau pegang lawanya City. Ternyata prediksi Markeso salah, warga kecewa
dengan Markeso dan memilih untuk cuti nonton bareng di rumah Markeso apalagi tanya-tanya
tentang prediksi bola

“Gimana prediksimu, So? Katamu City juara Liga Champions, lha kalah gini”.
“Dengerin dulu, aku bilang begitu ada tujuanya. Supaya warga ini tidak manfaatin
ucapanku untuk judi, memang aku sengaja. Perkara akhirnya Barcelona menang aku tidak
tahu juga, Hahaha”

Lalu bagaimana cara Markeso memprediksi soal sepak bola? Apakah dengan metode-metode
yang digunakan seperti ahli analisis sepak bola dalam menilai atau memprediksi skor
akhir. Ini yang lalu diomongkan warga, denga cara apa, atau jangan-jangan Markeso punya
indera ke 6, atau ini dia memang wali sepak bola, tapi kan Markeso pernah salah dalam
prediksi bola? Isu warga ini seperti menjadi isu nasional karena momen itu bertepatan
dengan 12 hari sebelum bedug piala dunia dimuali. “Marhaban Ya Piala Dunia”, spanduk
raksasa sudah dipasang sejak satu bulan lalu.

Sejenak saat itu Markeso seperti hilang ditelan Maradona, tak tau, tak jelas dimana ia
saat itu, warga yang menggantungkan hidupnya pada Markeso soal judi bola terlihat kalang
kabut, bingung, mau lapor polisi segala, namun takut kalau malah nanti polisi tahu yang
mereka lakukan. Bikin selebaran besar bertuliskan “WANTED” dengan gambar Markeso yang
melet seperti mengejek, wajahnya minta dipukuli saja. Nomor handphonenya juga sulit
dihubungi, diluar jangkauan, kata orang-orang berarti Markeso ke luar negeri, lha ini
katanya “diluar jangkauan”.

Markeso malam-malam iseng terhadap warga dusun, dengan naik sepeda pancal, pakai sarung,
pakai topi, wes, pokoknya ndak matching blass. Mengayuh kencang sepedanya didepan
kerumunan warga dusun yang sedang asik duduk sambil ngopi di warkop Bu Sugeng sambil
menjatuhkan sesuatu. Dikiranya maling apa gitu, namun ada yang sempat melihat benda
jatuh yang mungkin sengaja dijatuhkan oleh pesepeda aneh tadi, diambilnya ternyata
amplop yang berisi tulisan “Indonesia Juara Piala Dunia”

“Wah itu tadi pasti Markeso” celetuk salah satu warga, Markeso itu aneh-aneh saja
kerjaanya, Lha wong Indonesia ndak ikut piala dunia masak diprediksi juara piala dunia.
Lalu warga yang penasaran membalik kertas itu, ditemukanya tulisan “Tahun 2025″ Jika
digabungkan tulisan depan dan belakang “Indonesia Juara Piala Dunia Tahun 2025″ atau
“Tahun 2025 Indonesia Juara Piala Dunia”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun