Mohon tunggu...
Aru Wijayanto
Aru Wijayanto Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Pembaca Buku, dan Peminum Kopi

Menulis dan Minum Kopi itu punya kemiripan : sama-sama jangan terlalu manis.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Membaca "Aksi Loncat Jauh" Azizah Menjelang Pilkada Tangsel 2020

8 Oktober 2019   11:06 Diperbarui: 14 Oktober 2019   19:56 0 1 1 Mohon Tunggu...

Kemarin (7/10/2019), banyak orang dikejutkan oleh sebuah hasil survei yang dirilis Riset Network Indonesia (RNI) terkait dengan tingkat popularitas dan elektabilitas sejumlah nama yang terkait dengan Pilkada Kota Tangsel 2020.

Dalam survei tersebut, nama Siti Nur Azizah--puteri Wapres terpilih KH. Maruf Amin--menduduki posisi pertama paling populer dengan angka 48,36 persen. Ini menjadi sesuatu yang "luar biasa" mengejutkan sekaligus menimbulkan keraguan. Pasalnya, ia bukan saja "mengalahkan" popularitas sejumlah tokoh lokal--seperti Arsid dan Muhammad--tetapi juga Benyamin Davnie yang telah menjadi Wakil Wali Kota Tangsel selama 9 tahun.

Menurut koranpagionline.com (7/10/2019), survei tersebut dilakukan pada 20-30 September 2019 dengan 800 responden serta tingkat kepercayaan yang ditetapkan 95 persen. Seperti biasa, survei ini pun dilakukan dengan model wawancara tatap muka langsung. Hasilnya, menurut Sofian Hadi--Direktur Eksekutif RNI--hanya 10 nama bakal calon yang siap untuk bertarung di Pilkada mendatang.

Berikut posisi 10 besar hasil survei untuk kategori popularitas, dari 16 nama yang disurvei. Siti Nur Azizah (48,36%), Benyamin Davnie (47,75%), Arsid (25%), Muhammad (18,13%), Isyana Bagus Oka (11,38%), Andiara (10,13%), Ade Irawan (6,63%), Suhendar (6,50%), Tomi Patria (6,13%), dan Tb. Rahmat Sukendar (4%).

Lalu, untuk kategori elektabilitas interpolasi hanya muncul sembilan nama sebagai berikut: Benyamin Davnie (31,66%), Muhammad (27%), Siti Nur Azizah (16%), Andiara (8%), Arsid (6,67%), Tomi Patria (4%), Suhendar (2,67%), Isyana Bagus Oka (2,67%), dan M. Reza (1,33%).            

Sebuah survei memang bisa mengejutkan. Tapi, penting rasanya kita melihat hasil sebuah survei secara bijak, rasional, serta tidak diganggu oleh sentimen emosional. Hasil survei pada prinsipnya bisa sangat bermanfaat dalam membaca sebuah kontestasi politik, sejauh metodologi yang digunakan benar dan dijalankan dengan disiplin serta sesuai kode etik.

Pertanyaannya, apakah survei yang dilakukan RNI itu sudah bisa menggambarkan secara tepat konstelasi atau tatanan politik yang terbangun di lingkungan masyarakat Kota Tangerang Selatan?.

Dengan posisi Siti Nur Azizah yang berada di papan atas--baik untuk popularitas maupun elektabilitas--rasanya hasil survei ini menjadi patut dipertanyakan. Ini bukan soal posisi Azizah mesti berada di bawah. Ini adalah soal bagaimana menempatkan hasil survei sesuai dengan "fakta" di lapangan. Soal bagaimana melakukan survei dengan metode yang benar serta itikad baik. Toh, pilkada masih setahun ke depan. 

Kita tahu, Siti Azizah adalah "orang baru" dalam hiruk-pikuk politik Tangerang Selatan. Posisinya tentu berbeda dengan Arsid, misalnya, yang telah dua kali menjadi peserta Pilkada Tangsel. Atau dengan Benyamin Davnie yang telah sembilan tahun menjabat sebagai Wakil Wali Kota. Bahkan dengan Suhendar, aktivis antikorupsi yang aktif mengritisi kinerja Pemkot Tangsel, mengadvokasi warga, serta sebagai dosen di Universitas Pamulang.

Maka, "alasan" popularitas Siti Azizah sebagai dampak dari pemberitaan KH Maruf Amin yang terpilih sebagai Wapres Joko Widodo pada Pilpres 2019, rasanya tidak masuk akal, mengingat pemberitaan tentang Wapres pun sangat terbatas hingga hari ini. Apalagi pada survei ini juga menyebutkan bahwa tingkat kepuasan warga terhadap kinerja Pemerintahan Airin-Benyamin masih relatif tinggi, yakni 78,61 persen. Hanya 21, 77 persen warga yang menyatakan tidak puas dengan kinerja Pemkot Tangsel.   

Tidak Mudah Membangun Popularitas

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2