Zahir Makkaraka
Zahir Makkaraka pelajar/mahasiswa

Lagi mencari guru dan tempat berguru!!!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cinta Terlarang (7)

9 Januari 2018   07:10 Diperbarui: 9 Januari 2018   08:37 702 2 0

Entah mengapa kurasa tak menentu
Semenjak aku mengenali dirimu, sayang
Terbayang-bayang wajahmu di mataku
Hingga tersentuh rasa indah di kalbu
apakah artinya

Aku tak tahu mengapa aku rindu
Ingin ku curah tetapi rasa malu
Cboalah engkau mengerti isi hatiku
Di dalam diam aku menyintaimu

Ku harap kau paham perasaanku
yang kini dilamun rindu padamu
sesungguhnya aku telah jatuh cinta
oh...indahnya bila bersama mu
cinta ku dengan ikhlasnya
janganlah engkau sia-siakan
harapan dan impianku

(Dalam diam aku menyintaimu- Stings)

Perasaan purba itu kembali muncul. Menghitam, berjelaga.

Aku percaya: nasib, kelahiran, kematian, rezeki dan jodoh adalah bahasa rahasia milik Tuhan yang tertulis di lembaran-lembaran lahul manfuz.Kitab yang mungkin tersembunyi di lapisan langit dan jutaan bintang. Konstelasi maha rumit yang dimiliki Tuhan dan kita meyakini sebagai salah satu bentuk ke-Maha Kuasa-annya. Tak cukup logika menjangkaunya, ataupun empiris yang terbatasi indrawi. Dan yang kurasa saat ini, kuyakini merupakan labirin hidupku yang sudah ditata sedemikin rupa oleh yang Kuasa.

Ataupun yang terjadi kini, hanyalah konsekuensi dari perbuatanku. Aku bersua dengannya dan rasa itu bersuasa.  Et causa dari tindakanku sebelumnya atau ini adalah karmapala yang harus kupetik sebagai realitas hidupku.

Berbilang hari pasca berbincang dengan paman tentang Aeni, pemilik mata sayu nan ayu, sepanjang itu pula aku mengalami penderitaan dan kebahagiaan. Mungkin apa yang dikatakan Sastrawan Sitok Srengenge bahwa cinta adalah persetubuhan  antara duka-nestapa dengan bahagia tiada tara. Cinta sanggup  menghadirkan rahmat sekaligus kutukan bagi yang merasakannya.

 Gharizatun Nau'-ku atau cinta dalam perspektif amos atau eros  meraja pasca sua yang sudah empat kali diwaktu yang tak disangka. Aku  lebih memilih pandangan Maslow dibanding yang behavioral apalagi Freud  tentang cinta. Bagiku, yang kurasa kini tak lain adalah kesadaran  emosional. Apa yang kurasa kini tidak sekedar Oedipus Complex dan juga Electra Complex.Semoga yang kondisiku ini tidak naif dan egois.
*****

Proses penelitianku berjalan lancar, kurang lebih 5 pekan lamanya melakukan observasi, wawancara dan membagi angket terhadap sampel penelitianku, supervisor pendidikan di kota ini. Kesibukan yang panjang ini, tak sekalipun netraku melihat sang pemilik mata sayu nan ayu itu. Tak sekalipun. Aku tahu jadwal tes masuk pascasarjana di kampusku sudah selesai sebelum aku menamatkan pencarian dataku dan itu berarti dia sudah mengikuti tes tersebut. "Apakah dia lulus tes tersebut?" batinku ketika mengetahui tes itu telah usai.

Penyusunan instrumen penelitian beserta validasi instrumen ditambah proses pengumpulan data yang memakan waktu lebih dua bulan sangat melelahkan. Terkategori cepat dan lancar proses yang kujalani. Konsultasi selama proses analisis data dengan pembimbing hingga menjadi laporan akhir tesis yang kemudian aku pertanggungjawabkan di seminar hasil di awal bulan April aku lalui. Sosok pemilik mata sayu nan ayu itu tak pernah kutemui. Padahal ada buncah ketika seminar hasil dia bertandang, tapi nyata tak kutemui dia. Mungkin inilah yang disebut rindu, dan oleh Sitok menyebut rindu sebagai pupuk bagi tumbuhkembangnya cinta.

Hari ini, 13 April, aku akan sidang tutup dihadapan dua pembimbing, dua penguji ditambah satu penguji dari unsur pimpinan. Empat profesor dan 1 doktor akan kuhadapi. Di luar ruang sidang, ada pamanku dan seorang tante, adik bungsu ibuku, yang kemarin malam datang dari kampung demi mendampingiku nanti ketika yudisium. Itu yang kutahu karena kami berangkat bersama dengan mobil pamanku. Bahkan paman bersedia tidak masuk kantor untuk menemaniku. Kehadiran mereka adalah semangatku, terkhusus pamanku ibarat 'Tut Wuri Handayani'; tauladan, pembangkit semangat dan pendorong motivasi. Satu hal yang unik di kampusku, ketika yudisium mesti membawa kerabat. Kedua orang inilah mewakili ibu bapakku yang telah tiada di sampingku.

Ujian tutup atau ujian meja telah usai, hampir dua jam aku menghadapi ujian itu atau berakhir sejam sebelum azan jum'at dikumandangkan. Aku mampu mempertanggungjawabkan penelitianku dengan baik. Aku mendapat predikat summa cumlaude. Prosesi yudisium akan dimulai, aku dipersilakan memanggil kerabat terdekatku. Aku tertegun saat aku memanggil beliau berdua, bukan karenanya, tapi ada orang lain di antaranya. Gadis pemilik mata sayu nan ayu itu ada di antara mereka.

Hampir 3 bulan tak bersua dengannya, dan kini dihari yang amat  penting bagiku dia kembali bertandang dihadapanku. Aku mempersilakan mereka untuk memasuki ruang sidang. Oleh pimpinan kampus yang memimpin prosesi yudisium, ketiganya dipersilakan mendapingiku di depan dewan penguji. Kalimat-kalimatnya menghunjam sanubariku. Ada samsara dan bahagia berkesima di dada. Kesediaan menyandang gelar magister, motivasi untuk melakukan kebaikan dan perbaikan, semangat menjaga nama baik almamater dan candaan untuk segera menikah dan melanjutkan studi tumpah ruah dikala itu. Setelah berakhir prosesi itu, aku menyalami kelima dewan penguji itu. Kemudian aku memeluk kedua tetuaku. Air mata seperti menemukan mata airnya, aku dan mereka.

Dan paling aneh sekaligus membahagiakan, gadis bermata sayu nan ayu itu memelukku juga.  Aku kebingungan....

*****

(Satu atau dua scane lagi akan berakhir, selamat membaca...!)