Mohon tunggu...
Dyah Arum Narwastu
Dyah Arum Narwastu Mohon Tunggu...

Content Writer

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Perjuangan di Atas Panggung

26 Februari 2017   21:17 Diperbarui: 27 Februari 2017   12:26 0 4 1 Mohon Tunggu...
Perjuangan di Atas Panggung
Ilustrasi Penyanyi Dangdut (source: photographyindonesia.wordpress.com)

“Tapi, biarkan saja keindahan dan kegelisahan itu saling tumpang tindih dan mewarnai hari-hari kita. Bukankah itu yang memang seharusnya terjadi?! Suka-duka bersatu padu dalam irama yang mengetuk berulang-ulang. Tawa-sedih silih berganti menghadirkan aneka getar yang mengendap dalam jiwa dengan citrarasa yang berbeda-beda.” - Moammar Emka

Malam itu dunia sudah mulai tertidur, namun kehidupan baru akan dimulai bagi Rara Morenza. Lampu panggung yang berwarna-warni sudah siap untuk menyerbu tubuhnya malam itu. Pria-pria beragam usia juga sudah menunggunya sembari meneriakkan berbagai ucapan dalam logat khas Jawa. “ABG tua…,” teriak salah satu pria berumur sekitar 50 tahun. “Iya, ABG Tua…,” teriak yang lain. Kemudian gendang pun mulai ditabuh dan mulailah pertunjukan pada malam itu.

Aroma alkohol mulai menyeruak seiring dengan pertunjukan yang terus berjalan. Mulai banyak penonton yang berjoget dengan gerakan-gerakan tidak terkontrol. Jumlah mereka terus bertambah seiring dengan berakhirnya malam.

Rara Morenza adalah perempuan berusia 24 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut untuk Orkes Melayu (OM) Latansa. Sudah hampir 4 tahun ia bergabung dengan OM Latansa dan menjalani profesi ini. Awalnya ia tidak pernah berniat untuk menjadi penyanyi dangdut. “Awalnya saya hanya diajakin paman saya, tapi sekarang malah keterusan,” ujarnya.

Memiliki profesi sebagai penyanyi dangdut bukanlah perkara mudah. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih memandang sebelah mata profesi ini. “Banyak yang mengira saya ini cewek panggilan,” ungkap Rara. Penyanyi dangdut memang paling sering menyanyi di café dan kebanyakan café buka pada malam hari. Hal inilah yang membuat sebagian penyanyi dangdut menjadi kelelawar. Bekerja di malam hari dan beristirahat di siang hari. Sayangnya pengorbanan Rara Morenza demi bertahan hidup itu justru menimbulkan stigma buruk di mata para tetangganya.

Tidak ada satu pun manusia yang mau ditakdirkan untuk hidup serbakekurangan. Jika ternyata kenyataan membawa manusia lahir di tengah kondisi ekonomi keluarga yang tidak terlalu baik, jalan terbaik untuk keluar dari masalah itu adalah bekerja dengan lebih giat. Rara Morenza yang sekarang memang bukanlah orang yang kekurangan secara ekonomi, namun banyak hal yang harus ia tempuh untuk dapat merasakan kehidupan yang layak seperti sekarang.

Pendapatan sebagai penyanyi dangdut memang dapat memenuhi hampir semua kebutuhan hidup Rara Morenza dan keluarga. Ia menyebutkan kisaran uang 2-3 juta rupiah/minggu yang bisa ia hasilkan dari menjelajah beberapa panggung setiap harinya. Namun, apalah arti uang, jika uang tidak dapat membeli waktu dan kebahagiaan. Violani Zaskia Saharani adalah saksinya. Gadis mungil berusia 3,5 tahun ini terpaksa harus selalu dititipkan di Tempat Penitipan Anak (TPA) jika ibunya terpaksa harus menyanyi di luar kota.

Sudah sekitar 5 tahun Rara Morenza menikah, pertemuannya dengan sang suami pun terjadi di balik layar panggung dangdut. Saat itu Rara Morenza menyanyi dalam acara yang diadakan oleh keluarga sang suami. Mereka berdua pun berkenalan dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Mimik wajah Rara Morenza sedikit berubah ketika diminta untuk menceritakan kehidupan rumah tangganya saat ini. Kehidupan rumah tangga mereka biasa saja, tidak buruk namun juga tidak terlalu baik. Rara Morenza memang harus bekerja jauh lebih keras daripada teman-temannya kebanyakan. Keadaan suaminya yang hingga kini belum bekerja memosisikan Rara Morenza sebagai tulang punggung bagi keluarga kecilnya.

“Kalau disuruh memilih, saya lebih baik tidak jadi penyanyi dangdut. Lebih enak buka butik atau salon daripada harus nyanyi setiap malam.” Tetapi pada kenyataannya, dunia dangdut masih sangat menggiurkan mengingat jumlah rupiah yang dapat ia peroleh setiap malam.

Pendapatan yang besar dalam panggung dangdut ternyata setara dengan resiko yang dapat dialami oleh para penyanyi dangdut. Pria pemabuk dan tangan-tangan nakal para penonton sering kali mencoba untuk mengganggu profesionalitas Rara Morenza dalam bekerja. Tetapi baginya, uang halal sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia tidak perlu lagi mencari uang dengan cara yang tidak benar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x