Muhammad Armand
Muhammad Armand PNS-Akademisi Unhas-Pejalan Fiksi

Kompasianer of The Year 2015 and The People Choice at Kompasianival-Jakarta, Sultan Hasanuddin University, Makassar-South Sulawesi-Mandar-Moslem, Planet Kenthir, Fiksianer, Public Health, Anthropology, Health Psychology

Selanjutnya

Tutup

Catatan

FPI Makassar, Allahu Akbar dan Polisiku

12 Agustus 2012   06:42 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:54 857 28 29
FPI Makassar, Allahu Akbar dan Polisiku
1344753366679861220

Jumat, kala itu. Tiada gelagat akan terjadi tragedi di dua Tokong di Makassar. Semua baik-baik saja. Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk, suara shalawat tarhim itu, syahdunya berkumandang di menara masjid Jenderal Muhammad.Jusuf (dulu, Al-Markaz Al Islami).

[caption id="attachment_206305" align="aligncenter" width="300" caption="Rumah ibadah saudara Tiong Hoa kita, dinistai FPI (Foto: Lubnah Ainun, Makassar)"][/caption]

Ba'da Jumat. Aroma pergerakan mulai mengalun, saya tak menaruh duga dan curiga. Sesaat, saya saksikan pasukan berjubah, mengepalkan tangan, beroktaf tinggi: "Allahu Akbar", disahuti oleh ratusan kawan-kawan 'seperjuangan' lainnya. Saat itu, saya berada di area parkir. Membelalak mataku, hati berbisik: 'Makassar bakal chaos'.

* * *

Kebesaran Nama Allah, sungguh memilukan batinku. Nama Maha Agung itu lekat dijadikan power untuk sebuah lakon violensi, peran-peran kekerasan. Saya paham, rencana aksi mereka adalah rumah ibadah, info ini saya terima dari mulut ke mulut via juru parkir yang rerata tak berpuasa itu.

Tiada seorangpun bernyali mengurungkan rencana besar FPI saat itu, malah ekspresi sebagian jamaah dalam aura ketakutan. Termasuk saya. Selanjutnya, pintu utama sebelah timur masjid ini, telah berarak 'pasukan anarkis nan barbar', saya bergegas ke pos polisi, depan Pasar Terong Makassar. Pos polisi ini masih berlokasi di seputaran Al-Markaz. Tiga polisi di pos itu, tiada kesan khawatir, tak segarang saat saya memlototinya, memburu seorang pengendara motor yang tak ber-helem.

* * *

Hipotesa akan FPI adalah produk aparat, kian meyakinkanku. Just imagine....!, sampai menit ini belum ada penangkapan terhadap pelaku penistaan Xian Ma, Tokong (Klenteng) yang berdekatan dengan Kantor Wali Kota Makassar itu, kantor itu jadi saksi pilu atas pembiaran kepolisian atas brutalnya FPI. Jalan Sulawesi, sangat adem selama ini, dia salah satu zona denyut jantung ekonomi Makassar.

Jelang pilgub Sulsel, tiada seorang pejabat dan politikus mengapresiasi keresahan warga atas tingkah vandalistik ini. Dugaanku, gerakan agresifitas FPI ini masih dianggap hal sederhana, biasa dan dibenarkan. Dan, jika banyak partisi masyarakat menghubungkan Islam dan FPI, itu tak sanggup disangkali. Namun, jika aksi-aksi dehumansiasi FPI disangkakan umat Islam mendukungnya, maka itu pernyataan yang amat kelirunya.

Perkara kekerasan, tebar kecemasan, unjuk-unjuk teror. Tak satupun agama membenarkannya di alam semesta ini.

Wallahu a'lam bissawab^^^