Adjat R.  Sudradjat 2
Adjat R. Sudradjat 2 Freelance

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis (Ehm!)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

(Prosamini) Di Depan Cermin

14 September 2018   08:25 Diperbarui: 14 September 2018   08:45 300 0 0
(Prosamini) Di Depan Cermin
Ilustrasi (Sumber: id.bookmyshow.com)

Perempuan berusia 55 tahun itu sedang mematut-matut dirinya di depan cermin meja rias. Gincu berwarna merah jambu dipoleskannya pada bibirnya yang pias. Lalu wajahnya pun diulas bedak setipis mungkin, tanpa kesan tebal membekas.

Sekarang ini perempuan itu ingin berusaha tampil semenarik mungkin untuk suaminya. Ya, sekarang ini dirinya berharap suaminya kembali memperhatikan dirinya seperti di masa-masa tiga puluh lima tahun yang telah lalu. Di saat masih sebagai dua orang yang selalu memadu kasih. Untuk menyongsong masa depan, dalam ikatan sebuah keluarga yang bahagia.

Betapa indahnya ketika itu. Betapa bahagia dirinya di saat lelaki yang kemudian menjadi suaminya senantiasa membisikkan kata-kata cinta, dan memuji-muji kesempurnaan dirinya. Oi, serasa dunia hanyalah milik dirinya sendiri. Wajahnya semakin merona ketika bibir lelaki yang dicintainya sekilas mengecup dahinya. Rona bahagia yang tiada tara.

Sesaat wajahnya yang sedikit telah menampakkan kerut-kerut ketuaan, kembali merona penuh gairah manakala ingatannya pada saat mudanya kembali memenuhi ruang dalam kepalanya. O,  kata "sayang" setiap kali lelaki yang ia cintainya memanggil dirinya, serupa magnet yang menyedot seluruh darah dalam tubuh. Sehingga untuk sesaat serasa dibuatnya setiap persendiannya pun terasa lunglai tak mampu lagi menyangga kesemampaiannya. Kalau saja punya kuasa, ingin juga rasanya menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan sang tercinta.

Akan tetapi saat ini dirinya merasakan ada sesuatu yang hilang setelah keduanya hidup bersama tiga puluh lima tahun lamanya. Setelah melewati bermacam peristiwa yang terjadi selama mengayuh biduk rumah tangga berdua dengan suaminya. Terlebih lagi setelah semua anak yang dilahirkan dari rahimnya telah menininggalkan rumah. Dan membangun rumah tangganya masing-masing di tempat yang berjauhan satu sama lain.

Padahal ketika di awal keduanya membangun rumah tangga, seringkali membayangkan di saat anak-anaknya sudah dewasa meninggalkan mereka berdua. Untuk melanjutkan kehidupan dalam ikatan rumah tangga seperti yang dilakoni keduanya. Meskipun dalam keadaan yang berbeda, bisa jadi keduanya akan kembali bisa menikmati kebahagiaan seperti yang telah dialami di saat keduanya masih merupakan dua sejoli yang sedang dimabuk asmarandana.

Perempuan itu mendengus. Wajahnya tertunduk. Dan tetiba dua butir air mata perlahan jatuh membasahi pipinya. Membuat bedak yang telah dipoleskannya sedikit terhapus. Namun tak ia pedulikan. Sesaat wajahnya kembali mendongak. Bayangan dirinya tampak jelas di hadapannya.

"Mungkin karena aku sudah tak tampak cantik lagi. Ketuaan sudah menghapus segalanya. Tubuhku sudah mulai rapuh. Apakah karena semua ini suamiku berpaling, dan lebih suka melabuhkan cintanya di tempat lain?" batinnya.

Kecemburuan terkadang membakar hati perempuan itu memang. Suaminya yang lima tahun lebih tua darinya merasa sudah tak lagi memperhatikan dirinya. Hampir setiap saat suaminya berasyik-masyuk dengan kecintaaan yang baru ditemukannya. Walaupun dirinya sendiri mencoba untuk melabuhkan cintanya di tempat lain seperti suaminya, namun secara manusiawi kecemburuan itu masih saja tetap mengganggu.

Apa boleh buat. Tak ada pilihan lain. Perempuan itu pun bertekad untuk mengikuti langkah kaki suaminya. Ia tak akan lagi goyah oleh pikiran-pikiran yang dianggapnya mengganggu. Dirinya ingin fokus sebagaimana suaminya, melabuhkan cintanya kepada yang seharusnya ia cinta dengan sepenuh jiwa-raganya.

Terlebih lagi bila mengingat telah banyak teman-teman, keluarga, maupun sejawatnya yang sebaya telah pergi meninggalkan kefanaan ini. Malahan tak sedikit mereka yang lebih muda dari dirinya pun tanpa diduga, tanpa dinyana, pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun di saat nyawanya berpisah dengan raga.

Di usia rawan seperti suami dan dirinya, akan lebih baik untuk mencintai yang seharusnya dicintai memang. Sebagaimana suaminya yang lebih banyak menghabiskan waktunya di masjid, dan berasyik-masyuk dengan melafalkan dzikir, semata untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dengan harapan cinta kasihNya  dapat direguk jelang ahir hidupnya.***