Adjat R.  Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Freelance

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis (Ehm!)

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Sengkarut Cawagub Membuat Ridwan Kamil Berada di Ujung Tanduk

19 Desember 2017   20:11 Diperbarui: 19 Desember 2017   20:38 1179 1 0
Sengkarut Cawagub Membuat Ridwan Kamil Berada di Ujung Tanduk
Calon Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Kompas.com)

Kalau boleh diamsalkan, RK -- begitu orang biasa menyapa Ridwan Kamil, ibarat seorang anak perawan yang banyak digandrungi perjaka. Belakangan ini empat perjaka sedang berebut untuk menjadi pendampingnya. Hanya saja Emil -- sapaan lain untuk Walikota Bandung, ini kemungkinan besar termasuk anak perawan yang terlalu jual mahal. Sehingga satu dari empat perjaka yang berniat jadi pendampingnya pun, tiba-tiba saja mundur dengan teratur.

Ridwan Kamil, Walikota Bandung yang digadang-gadang banyak lembaga survey sebagai kandidat Gubernur Jawa Barat yang memiliki elektabilitas tinggi, membuat partai Nasdem, Partai Golkar, PKB, dan PPP kepincut untuk memberi dukungan. Hanya saja dalam dunia politik, tak ada makan siang gratis memang. Semua parpol yang siap mengantarkan Emil ke kursi Jabar-1, masing-masing menyodorkan persyaratan. "Kami siap mendukung Anda, tapi kader kami harus menjadi pendampingnya." Kurang-lebih demikian syarat yang diajukan.

Buktinya, partai Golkar mengajukan Daniel Muttaqien, PKB menyodorkan Maman Imanul Haq, dan syaiful Huda, dan Uu Ruzhanul Ulum menjadi pilihan PPP untuk menjadi pasangan RK. Sementara partai Nasdem sebagai parpol yang paling awal mendeklarasikan dukungannya kepada RK, sebelumnya memang tidak terdengar mengajukan syarat demikian. Masalah Cawagub pendampingnya, diserahkan kepada RK sendiri, kata para petinggi parpol besutan Surya Paloh itu. Hanya saja belakangan ini ternyata Nasdem pun setali tiga wang dengan parpol pendukung lainnya. Ketua DPW partai Nasdem Jawa Barat, Saan Mustopa, rupanya berambisi juga untuk dirangkul RK menjadi pendampingnya.

Melihat gelagat seperti itu, bisa jadi Emil pun naga-naganya menjadi kebingungan. Bagaimana pun sepertinya sulit bagi Emil, kepada siapa harus menjatuhkan pilihan dari sekian banyak yang mereka sodorkan. Andaikan Emil menentukan pilihannya dari yang disodorkan salah satu parpol, tidak menutup kemungkinan parpol lainnya akan 'ngambek', dan langsung memutus kontrak dukungan secara sepihak.

Baca juga:  Nasib Ridwan Kamil di Ujung Tanduk

Bahkan karena dianggap tak juga mau menentukan pilihannya, tentunya memilih Daniel Muttaqien yang diajukannya, partai Golkar pun merasa kesal dibuatnya, dan belum lama ini menyatakan mencabut dukungannya terhadap Ridwan Kamil. Maka suara dukungan di DPRD yang menjadi persyaratan pun secara otomatis menjadi berkurang.

Akan tetapi, meskipun partai Golkar telah meninggalkannya, bisa jadi Emil masih tetap percaya diri. Partai Nasdem, PKB, dan PPP masih bergeming. Artinya suara dukungan di DPRD masih memenuhi persyaratan. Sebelum partai Golkar mengucapkan pileuleuyan, alias selamat tinggal, suara dukungan untuk Emil lumayan maksimal memang. Sulit ditandingi oleh kandidat mana pun juga dengan dukungan sebanyak 38 suara kala itu. Tapi dengan lima suara partai Nasdem, tujuh suara PKB, dan PPP siap dengan sembilan suara, dan jumlahnya meskipun tinggal 21 suara, Emil masih tetap bisa berlaga.

Hanya saja apa memang benar Emil tetap pede dengan suara sebanyak itu di saat sekarang ini? Itulah masalahnya.

Masalah calon pendamping yang belum disebutkan hingga sekarang ini, bahkan andaikan Emil menyatakan akan diumumkan siapa bakal pendampingnya pekan ini juga, namun apabila Emil menyebut Uu Ruzhanul Ulum dari PPP misalnya, tidak menutup kemungkinan partai Nasdem dan PKB akan mengikuti jejal partai Golkar. 

Kedua parpol itu bisa jadi akan mengucapkan Sayonara, dan mencabut dukungannya terhadap RK. Demikian juga sebaliknya apabila Emil memilih kandidat yang disodorkan PKB maupun partai Nasdem. Hal serupa akan dilakukan PPP tentunya. Karena ancaman PPP akan keluar dari koalisi pendukung RK, kalau tidak memilih kadernya sebagai pendampingnya, sudah pernah pula dinyatakan petinggi partai berlambang Ka'bah itu.

Maka suka atau tidak, dilema yang dihadapi RK ibarat makan buah simalakama -- tentu saja. pilihan yang sulit manakala harus memilih satu dari beberapa orang yang disodorkan tiga parpol pendukungnya. Karena siapapun yang dipilihnya, baik Uu, Syaiful Huda, Maman Imanul Haq, maupun Saan Mustopa, tetap saja akan membuat RK dan calon pendampingnya itu tidak akan bisa lagi maju bertarung dalam Pilkada Jabar 2018 mendatang. Sebab, masing-masing parpol masih tetap ngotot dengan kader yang disodorkannya. Dan andaikan tak dilirik RK, kemungkinan besar akan mencabut dukungannya.

Betapa sulitnya memang. Menjadi Gubernur Jawa Barat pun -- bagi RK, bisa jadi hanya tinggal impian kalau masih bersikap demikian.

Terlebih lagi apabila sebelumnya Emil telah mengumbar janji manis kepada setiap parpol yang mendukungnya. Jangan-jangan Ridwan Kamil pun  pun akan dicap sebagai kandidat yang suka mengingkari janji saja - sebagaimana yang dikatakan partai Golkar. ***