Adjat R.  Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Freelance

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis (Ehm!)

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Gara-gara Baliho, Diprediksi Elektabilitas Ridwan Kamil Jungkir ke Titik Nadir

4 Desember 2017   15:38 Diperbarui: 5 Desember 2017   04:41 2918 4 2
Gara-gara Baliho, Diprediksi Elektabilitas Ridwan Kamil Jungkir ke Titik Nadir
Baliho RK bersama SN (Dok. Pribadi)

Nama Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dianggap sebagai bakal calon Gubernur Jawa Barat yang paling tinggi elektabilitasnya. Semua hasil survey hampir selalu menempatkannya di posisi paling atas.   Sehingga tak pelak lagi parpol yang berkongsi pun berlomba-lomba menyodorkan kadernya untuk mendampingi RK sebagai bakal calon wakil gubernur.

Sebut PKB yang menyodorkan Saiful Huda dan Maman Imanul Haq. Lalu PPP yang mengusung Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum. Disusul kemudian oleh partai Golkar yang keukeuh ingin menjodohkan RK dengan anak mantan Bupati Indramayu, Daniel Mutaqien. Hanya partai Nasdem yang tetap adem-ayem, seperti tak hendak merecoki RK. Parpol besutan Pak 'Brewok' Surya Paloh itu sama sekali tak bergeming, seakan tak memiliki hasrat untuk menawarkan kadernya sebagai pendamping RK. Entah apa sebabnya.

Di tengah permasalahan bakal calon wakil gubernur yang belum jelas, tiba-tiba muncul kabar angin yang bisa jadi akan  membuat RK gundah-gulana. Elektabilitas Ridwan Kamil belakangan ini diprediksi bakal jungkir-balik ke titik nadir. Posisinya yang semula selalu berada di atas langit, tidak menutup kemungkinan akan terpuruk ke dasar bumi. Hoax, atawa terlalu bombastis prediksi ini?

Dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi. Dan perubahan bisa berlangsung cepat sekali. Terlebih lagi bila memperhatikan kegamangan sikap Ridwan Kamil yang hingga saat ini belum mengambil sikap yang jelas, seakan seorang jejaka tampan yang kesulitan menentukan jodoh yang disodorkan keluarganya. Padahal RK sendiri jauh hari sudah memberikan sinyal, untuk bakal calon wakil gubernur yang akan mendampinginya, dirinya hanya melontarkan dua kriteria saja. Adalah seorang yang sudah mengantongi pengalaman di birokrasi, dan memiliki elektabilitas tinggi.

Prediksi yang memutarbalikkan posisi RK, tak lain adalah dengan munculnya banyak baliho yang memasang gambar Ridwan Kamil bersama Ketua umum Partai Golkar, Setya Novanto.

Bagaimanpun publik mengetahui siapa Setya Novanto. Bahkan warga di pelosok, menyebutnya sebagai koruptor KTP elektronik. Terlepas hingga saat ini baru sampai tahap  ditetapkan sebagai tersangka, dan ditahan KPK juga. Sehingga tak sedikit dengan beredarnya baliho yang berbunyi "Setya Novanto Restui Ridwan Kamil Maju di Pilgub Jabar" itupun bukannya mendapat tambahan dukungan suara, justru sebaliknya  malah menuai cibiran. "Teu sudi teuing kudu milih, ari didukung ku koruptor mah!" (Tak sudi untuk memilihnya kalau didukung oleh seorang koruptor!).

Mungkin saja sikap warga yang demikian itu karena selain predikat koruptor yang hina di matanya, juga masalah kartu tanda penduduk (KTP) yang menjadi bukti identitas diri sebagai warga negara, hingga saat ini masih banyak yang belum memilikinya. Salah satu penyebabnya, tangan warga pun menuding pada ketua DPR itu. Sehingga wajar bila munculnya baliho itu pun menimbulkan antipati, terutama pada Ridwan Kamil sendiri yang semula menjadi idolanya, sekarang ini untuk memilihnya pun jadi merasa tak bersemangat lagi.

Oleh karena itu untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, sebaiknya Ridwan Kamil segera mengklarifikasinya. Apakah baliho itu atas sepengetahuannya, atau ulah pihak-pihak yang memang ingin menjatuhkannya. Bahkan sebagian warga ada yang menyarankan, sepertinya tidaklah haram hukumnya seandainya RK mengucapkan "Selamat tinggal" kepada partai Golkar jika hanya akan membuat elektabilitasnya digerogoti oleh stigma buruk partai berlambang pohon beringin itu saat  ketua umumnya berstatus tersangka korupsi.***