Mohon tunggu...
Adjat R. Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Mohon Tunggu... Penulis

Orang biasa. Tinggal di desa. Masih sedang belajar mengeja aksara.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Menyoal Festival 'Makan Mayit': Kreativitas Kebablasan atawa Parodi Kekinian?

1 Maret 2017   16:54 Diperbarui: 1 Maret 2017   19:40 650 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyoal Festival 'Makan Mayit': Kreativitas Kebablasan atawa Parodi Kekinian?
Ilustrasi (Sumber: Tribunnews.com)

Di tengah hiruk-pikuk berita Pilkada Serentak 2017, ditambah sidang penodaan agama atas terdakwa Basuki T. Purnama, juga pembicaraan terkait kunjungan Raja Salman ke Indonesia, sekarang ini muncul ‘sensasi’ baru yang tak kalah gegernya, yakni suatu kegiatan yang diberi label Festival Makan Mayit, di Footurama, Jakarta, pada bulan Januari 2017 lalu.

Bagaimanpun kegiatan yang lain dari biasanya itu telah mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat, terutama para netizen di dunia maya. Bahkan seorang Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Yohana Yembise, mengecam keras atas kegiatan yang lumayan kontroversial tersebut.

Bisa jadi kegiatan yang digagas seorang perempuan bernama Natasha Gabriella Tontey, itu meskipun diusung sebagai sebuah karya seni, setidaknya akan mengingatkan kembali pada jaman purba, tatkala manusia yang satu memakan manusia yang lainnya, atawa istilah kerennya disebut kanibal, dan sama sekali belum tersentuh oleh sebutan yang sekarang dikenal sebagai makhluk sosial. Kita pun akan memakluminya, karena memang pada saat itu manusia belum mengenal peradaban sebagaimana yang dikenal sekarang, dan masih cenderung meniru kebiasaan binatang.

Akan tetapi di saat peradaban telah menjadi bagian hidup manusia yang tak terpisahkan pun, seperti sekarang ini, ternyata masih saja ada orang yang memiliki watak binatang. Melakukan kanibal. Entah itu karena memiliki suatu keyakinan mistis, atawa entah karena alasan lain.

Kita masih ingat dengan sosok manusia bernama Sumanto. Di awal 2003 lalu, pria asal Purbalingga, Jawa Tengah, ini mencuri mayat nenek bernama Mbah Rinah, lalu memakan daging jenazah itu. Kepada polisi, Sumanto mengaku dirinya sedang memperdalam ilmu di bawah bimbingan seorang 'guru'. Dengan memakan mayat, kata Sumanto, badannya akan menjadi kebal, tak terluka oleh goresan senjata, dan mendapat ketenangan batin.

Atas perbuatannya Sumanto dihukum penjara lima tahun. Namun, setelah beberapa kali mendapat remisi, Sumanto dibebaskan pada 24 Oktober 2006, bertepatan dengan Idul Fitri.

Demikian juga halnya dengan penduduk negeri Cina, mereka bahkan telah melakukan praktik kanibalisme tanpa ditutup-tutupi. Mereka yakin bahwa plasenta dan janin manusia adalah obat mujarab untuk menyembuhkan segala penyakit. Ramuan itu telah diperkenalkan oleh leluhur mereka secara turun-temurun. Tak heran, jika kepercayaan itu sudah begitu mengakar di benak mereka.

Sebuah majalah mingguan di Hong Kong pernah mengulas tentang praktik makan janin di Provinsi Ning Liao, Cina. Penduduk setempat memakan sup janin untuk menjaga kebugaran tubuh. Dailymail juga menyuarakan hal yang sama. Terjadi penyelundupan pil kuat Cina yang berisi daging manusia. Untungnya, aksi penyelundupan berhasil digagalkan oleh petugas bea cukai Korea Selatan. Departemen Kesehatan Korsel mengklaim pil itu sangat berbahaya karena telah terkontaminasi bakteri.

Sementara fenomena yang terjadi saat ini, bukan sebuah peristiwa memakan mayat yang sesungguhnya. Festival jamuan "Makan Mayit" sudah berlangsung sejak 28 Januari 2017. Sesi penutupnya digelar pada 25 Februari lalu, atawa sehari sebelum ‘meledak’ jadi viral di media sosial. Padahal 'Makan Mayit' yang dikreasikan oleh Natasha Gabriella Tontey ini menampilkan makanan berbentuk tubuh bayi.

Bisa jadi Natasha yang pernah didaulat sebagai seniman potensial yang berusia di bawah 30 tahun, ini sedang mengembangkan kreativitas seni kontemporer. Ada pun medium berkeseniannya merentang mulai dari fotografi, performance art, desain grafis, dan video.

Hanya saja proyek keseniannya kali ini, dianggap sebagai yang telah jauh melewati ambang kewajaran, oleh sebagian besar masyarakat – tentu saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN