Kuliner Pilihan

Icip-icip Menu Baru Rasa Lama di Sate Ratu Yogyakarta

9 November 2018   21:21 Diperbarui: 9 November 2018   21:23 191 0 0
Icip-icip Menu Baru Rasa Lama di Sate Ratu Yogyakarta
Dok.Pribadi

Seorang pria berperawakan tinggi sedang terlihat hilir mudik di warung makan itu. Ia mencatat pesanan, menyapa dan mengobrol dengan para tamu, dan sesekali mengecek ke dapur. Namanya Fabian Budi Seputro, akrab dipanggil Pak Budi, pemilik warung Sate Ratu yang berlokasi di Jogja Paradise Foodcourt, Jl. Magelang, Yogyakarta.

Usaha kuliner yang dikelolanya bersama sang istri ini sudah berjalan 2 tahun lamanya. Awalnya, pada bulan Juli 2015 ia bersama seorang rekannya bernama Pak Lanang, membuka usaha angkringan yang diberi nama Angkringan Ratu. Berlokasi di Jl. Laksda Adisucipto, usaha angkringan ini sempat berkembang menjadi 6 outlet.

Namun karena keduanya merasa kesulitan mengelola 6 outlet sekaligus, akhirnya dijadikan 1 lagi di lokasi tempat pertama kali mereka membuka Angkringan Ratu. Tidak seperti angkringan pada umumnya yang menerima titipan makanan, Angkringan Ratu Memiliki menu yang diproduksi sendiri. Kala itu jumlah menunya sampai lebih dari 20 macam.

(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Kondisi warung angkringan yang makin ramai lama-lama membuat Pak Budi dan Pak Lanang kewalahan. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menjual menu yang lebih simpel saja. Maka pada tahun 2016 dibukalah Sate Ratu, yang konsepnya bukan angkringan lagi, melainkan warung yang menjual menu sate. Lokasi usaha kuliner inipun dipindah ke Jogja Paradise Foodcourt.

Di awal pendirian Sate Ratu, Pak Lanang pamit pulang kampung ke Lombok untuk berkumpul kembali dengan keluarganya. Pak Budi bersama sang istri yang kemudian melanjutkan pengelolaan bisnis Sate Ratu hingga sekarang.

(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Sore itu kami dari Kompasianer Jogja mendapat undangan mencicip menu yang merupakan modifikasi dari menu lama yang sudah ada sebelumnya di Sate Ratu. Ya bisa dibilang ini "menu baru rasa lama". Namanya Lilit Basah, menu modifkasi dari Sate Lilit. Kenapa namanya diganti, padahal bumbu-bumbunya sama saja?

Rupanya, itu karena komponen tusuk sate di menu Sate Lilit dihilangkan. Karena sate umumnya identik dengan tusuk sate, jadi supaya tidak rancu, nama menu pun diubah menjadi Lilit Basah.

(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Menurut Pak Budi, penghilangan tusuk sate ini dikarenakan sulitnya mendapat bahan bambu tusuk sate yang bagus di Jogja sehingga ia harus "impor" dari Bali. Ditambah lagi waktu pengerjaan yang lama untuk pengolahan Sate Lilit menggunakan tusuk sate. Jadi dengan menghilangkan tusuk sate di menu ini Pak Budi bisa menghemat biaya produksi sekaligus memangkas waktu produksi. Soal rasa, menurut Pak Budi sama enaknya karena bumbu-bumbu yang digunakan masih sama.

Menu Lilit Basah ini dibuat dari daging ayam giling yang dimarinasi (direndam) dalam bumbu bumbu spesial racikan Pak Budi, selama 3 jam lamanya. Lalu adonan tersebut dimasukkan dalam wadah tahan panas untuk kemudian dikukus selama kurang lebih 1 jam.

Penyajiannya dalam bentuk potongan-potongan persegi panjang dan diberi sedikit kuah. Ternyata kuahnya ini berasal dari uap air yang terbentuk selama proses mengukus, jadi bukan sengaja diberi tambahan air. Saat saya cicip, kuahnya terasa manis. menurut Pak Budi itu karena ada gula yang dibubuhkan ke dalam adonan mentahnya.

Cita rasa Lilit Basah ini gurih manis, sama sekali tidak ada rasa pedasnya. Menu ini memang diperuntukkan bagi pengunjung Sate Ratu yang tidak suka pedas. Kalau yang suka pedas? Silakan pilih menu Sate Merah yang pedasnya cukup bikin mata melek. Sate Merah masih kurang pedas juga? Masih ada menu Ceker Tugel yang rasanya super pedas. Tapi untuk saat ini Ceker Tugel tidak selalu ada setiap hari. 

(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Keunikan cita rasa menu-menu di Sate Ratu menjadikan warung makan ini begitu diminati orang. Tak hanya masyarakat lokal Jogja, Sate Ratu justru sangat digemari para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jogja. Konon mereka datang ke Sate Ratu setelah membaca ulasannya di Trip Advisor.

Jadi jangan heran kalau sampai bulan November 2018 ini Sate Ratu sudah dikunjungi oleh wisatawan dari 70 negara. Mengingat usaha kuliner ini baru berjalan 2 tahun, bisa dikenal wisatawan hingga 70 negara itu rasanya wah juga ya. Ternyata resepnya adalah dengan menciptakan word of mouth (WOM) alias getok tular yang positif. Bagaimana caranya? Pak Budi membeberkan tips dan triknya.

"Saya selalu berusaha mengajak ngobrol tamu-tamu yang berkunjung ke sini, Mbak. Saya perhatikan, saat saya memberikan personal touch seperti ini, biasanya mereka akan mau menulis ulasan tentang Sate Ratu di Trip Advisor. Sebaliknya, kalau saya pas kebetulan sibuk dan tidak bisa mengobrol, mereka jadi enggan menulis ulasan."

Yang unik, Pak Budi menyediakan ruang di dinding warung Sate Ratu untuk para wisatawan mancanegara itu menulis kesan dan pesannya untuk Sate Ratu. Belakangan ini karena area kosong di dinding makin terbatas, Pak Budi lalu membuat video berisi ucapan kesan dan pesan dari para tamu mancanegaranya.

Video ini ditayangkan di tv layar datar di bagian tengah warung. Paduan antara rasa makanan yang cocok di lidah, personal engangement, dan cara promosi yang unik menjadi kunci keberhasilan Pak Budi membuat Sate Ratu dikenal luas oleh para wisatawan mancanegara dan disukai oleh para tamu lokal.

(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
(dok. pribadi)