Mohon tunggu...
Arrie Boediman La Ede
Arrie Boediman La Ede Mohon Tunggu... Arsitek - : wisdom is earth

| pesyair sontoloyo di titik nol |

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Akhir dari Sebuah Trilogi

17 September 2020   21:42 Diperbarui: 17 September 2020   23:19 246
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi akhir dari sebuah trilogi - dokpri

siri' na pessé

ini soal malu Andi
malu yang tak berujung
malu yang tak semestinya terjadi
malu yang tak akan mungkin dibalas dengan mempermalukan

bahwa perjalanan masa tidak akan pernah berakhir
sedangkan perjalanan hidup ada titik akhirnya
bahwa ketika semuanya harus berakhir
: ya berakhirlah tanpa merasa perlu menyembunyikan wajah

namun, manalah mungkin bisa kubertahan
sementara peristiwa di siang itu meruntuhkan harga diriku
seharusnya malu tak perlu kutanggung sendiri
kerana engkau berada dalam skenario hidup kita dan itu suatu kemuskilan

alangkah naifnya melibatkan dirimu di pusaran benang kusut
pusaran yang berputar-putar diketidakmampuannya diri ini
pusaran yang akan menyeret dirimu ke tebing tinggi yang curam
walaupun sesungguhnya menurutmu ada jalan terbaik, jalan pintas

silariang

siang itu, aku takjub ketika satu kata itu kau ucapkan
serasa matahari berada sejengkal dari ubun-ubunku
kuraba hatimu dalam-dalam melalui sorot bening bola matamu
yang kutemui adalah kesungguhan hatimu
: dan kita berikrar, melakukan jalan pintas: "silariang"

sesungguhnya tak pernah sekalipun ada keinginan mundur dari ketetapan hati yang telah kita sepakati; kerana kita yakin bahwa pasti bisa melakoni hidup di tanah rantau; tanah tempat mengasingkan diri dari mata-mata keluarga kita;

persoalan jadi lain ketika sebilah badik menancap dengan ganasnya pada bagian belakang tubuhku
tubuh yang tak seharusnya ternoda oleh kemarahan sepihak yang memerah akibat bingkai dari kedengkian
tubuh yang lebih suka memilih mengalah dengan segala kewarasannya

hingga pada sisa-sisa sebuah keyakinan diri;
kusobek-sobek kehormatanku, kutikam-tikam jiwaku
aku melayang, meradang dan terlanjur merasa pahit dengan hinaan
ke arah langit kupasrahkan hidup matiku, simbol harga diriku: lebbik-i cau-caurenng napellorenng!

harga diri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun