Mohon tunggu...
Arolina Sidauruk
Arolina Sidauruk Mohon Tunggu... ASN,

Kepo

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Etiskah Memposting Rapor Anak di Media Sosial?

22 Juni 2020   19:00 Diperbarui: 22 Juni 2020   23:56 7 1 1 Mohon Tunggu...

Sabtu kemarin tanggal 20 Juni 2020, musim terima raport. sebelum berangkat ke sekolah kami berdoa dulu dengan keyakinan kami, dan berharap nilai raport sianak akan cantik semua. Anak saya tidak mengharap dan tidak memberikan harapan baik kepada saya.  katanya. " Ma....jangan harap nilaiku bagus ya. kan sudah 3(tiga) dirumah belajar nya. aku blank..... . Sayapun tersenyum sambil bertanya. memang kenapa? gak apa-apa Ma, pokoknya jangan mengharap." apalagi sistem belajar  daring yang merepotkan itu, aku yakin hasilnya pasti tidak murni, tidak ada yang mengawasi kami, hanya aku dan Tuhan yang tau. lagi - lagi saya tersenyum mendengar celotehannya.

Singkat cerita, raport pun diterima....tradaaaaaaaaaa,, kamipun berpelukan dengan gembira. aku naik kelas dan dapat rangking ... Mama kasih apa??????

iseng saya nyeletuk, mama posting ya di facebook? eehhh..dia marah.....norak...mama gak usah berlebihan lah.aku kan sudah biasa dapat rangking, kenapa harus di posting? pokoknya gak boleh..... bagaimana nanti kalau dibaca teman-teman yang kurang beruntung?maka acara postingan pun BATAL.

lalu kemudian saya membuat status di medsos beranda saya, dengan judul seperti diatas. beragam tanggapan dari followers yang tentu sangat menyenangkan untuk dibaca. saya buat pilihannya seperti berikut : setuju. tidak setuju, dan tidak menanggapi sama sekali. 

untuk yang setuju mempunyai alasan : jika nilainya bagus,  akan membawa kebanggaan pada orangtuanya. bisa  diwujudkan dengan berbagi postingan di medsos dan mengharap akan banyak pujian dan sanjungan atas usaha tersebut. bahkan saat ini banyak orangtua dengan  bangganya  mengumbar keberhasilan itu  yang mengarah ke kesombongan, bahkan ada sebagian orangtua merasa wajib untuk memposting keberhasilan anak-anaknya karena merasa bahwa dia telah berhasil mendidik sang anak. padahal anak sekarang tidak suka mempertontonkan hasil study nya. karena mereka mempunyai cara tersendiri untuk meng explor kemampuannya. mereka marah,   

yang tidak setuju sangat banyak dan  jawabannya pun bervariasi antara lain : secara psikologis si orangtua merasa bangga, tapi tanpa disadari bahwa si anak sangat tertekan,  kalau nilai jelek pasti tidak di posting, maka si anak harus mempertahankan nilai rapot nya supaya tidak menurun , tapi paling tidak harus tetap bertahan di posisi sekarang. sehingga sianak akan mempunyai beban pikiran, bisa saja  teman-temannya akan membully dan mengejeknya dengan berkata "lebay" sehingga dia tidak merasa nyaman.

Diantara tanggapan dari followers itu, Ada satu jawaban yang bagus menurut saya, bahwa status juara atau tidak juara tidak menjamin anak tersebut berhasil nantinya. prestasi 20%, yang 80%  adalah emosional dan spiritual, sebab zaman sekarang banyak orang  yang   prestasi akademiknya biasa-biasa, ternyata kemampuan dan keberuntungannya mencengangkan dunia.Oleh karena itu, kita jangan lupa tetap menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. mulai dari sila Pertama hingga Kelima lengkap dengan penjabarannya, agar tidak menyimpang dari apa yang kita harapkan.  ilmu dan teori telah didapat di sekolah, giliran kita yang akan memberikan nilai tambah untuk tumbuh kembang si anak. maka penilaianpun saya simpulkan bahwa SETUJU 40%, yang TIDAK SETUJU 40% sisanya abstain ( dengan membuat emoji diam )

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x