Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Lainnya - Tukang Kayu Setengah Hati

Menikmati Bola, Politik dan Sesekali Wisata

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Demi Bisa Mudik, Pria di India Ini Berbohong Telah Meninggal Dunia

3 April 2020   10:04 Diperbarui: 3 April 2020   10:18 86
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pekerja migran memadati terminal bus di perbatasan Uttar Pradesh dekat New Delhi, India, pada 28 Maret 2020. Pemerintah Uttar Pradesh telah menyediakan 1.000 bus untuk pekerja migran yang hendak pulang ke desanya, tapi jumlahnya tidak mencukupi. Ratusan di antara pekerja itu lalu memutuskan pulang jalan kaki karena tidak ada transportasi yang tersedia. Situasi ini terjadi di hari keempat India menerapkan lockdown, yang berlangsung selama 21 hari sesuai instruksi Perdana Menteri Narendra Modi.(STR/EPA-EFE)

Lockdown memang dianggap jalan terakhir yang tepat oleh PM Narendra Modi untuk mencegah penyebaran virus corona di India.  Namun karena perencanaan yang kurang matang, lockdown menjadi semrawut, banyak pekerja migran dan kaum rentan yang terlantar di kota terus mencari jalan agar bisa kembali ke desa mereka atau mudik.

Untuk mencegahnya, Pemerintah India pada akhirnya sudah menjanjikan untuk memberikan bantuan sosial kepada kelompok orang---baik itu kaum miskin maupun pekerja migran yang kebanyakan terupah harian dan saat ini kehabisan uang, namun penerapannya terlihat mengerikan.

Sepanjang pekan ini, para tunawisma mengantri makanan yang dibagikan para relawan. Mereka tidak bisa menerapkan pembatasan jarak fisik yang dianjurkan sejauh dua meter antarmanusia. Lalu bagaimana mereka dapat memastikan bahwa diri mereka tetap aman dari virus corona.

Seperti buah simalakama, maju kena mundur kena. Pilihan untuk tidak kelaparan harus berhadap-hadapan langsung dengan resiko terinfeksi covid-19, akhirnya pilihan terbaik untuk sebagian besar dari mereka adalah segera pulang ke desa, tempat ternyaman menurut mereka---paling tidak untuk sekarang.

Mudik pun bukan pilihan yang mudah, lockdown membuat pemerintah India menutup segala akses dengan pemeriksaan yang amat ketat, disaat itulah muncul ide gila dari seorang bernama Hakim Din yang ingin kembali ke desanya, Poonch, yakni sebuah desa di wilayah Kashmir yang dikelola India, berbatasan langsung dengan Pakistan.

Hakim Din memang sebelumnya terluka, dan perlu dirawat, hanya karena tidak mau terus dirawat di kota, Hakim Din bersama beberapa temannya mendapat akal bulus dan membuat skenario bahwa dirinya telah meninggal dan harus segera diantar ke Poonch.

Singkat cerita, skenario Hakim Din dan beberapa temannya berjalan mulus. Kelompok ini  berhasil menembus beberapa parikade pos penjagaan dengan memalsukan surat kematian palsu. Namun naas bagi mereka, sebelum sampai ke Poonch, daerah yang berjarak sekitar 160 km tersebut mereka tertangkap basah dan diketahui telah berbohong.

"Seorang anggota kami segera mengetahui bahwa salah satu pria yang terbaring di dalam ambulans sebenarnya belum meninggal," kata Pengawas Polisi Kashmir, Ramesh Angral.  Akhirnya, kelompok berjumlah lima orang tersebut ditahan dan dikarantina secara terpisah. Mereka terancam dengan tudingan telah menentang peraturan pemerintah.

***

Mudik adalah sebuah harapan bagi Hakim Din cs. Persis seperti gambaran dari tulisan seorang penulis bernama Chinmay Tumbe, penulis India Moving: A History of Migration, dia mengatakan bahwa kota memang menawarkan keamanan ekonomi bagi para pekerja migran, namun, kemanan sosial tetap terletak di desa mereka, di mana makanan dan tempat tinggal  (bisa) terjamin.

Persoalan inilah yang mungkin sedang dipikirkan oleh pemerintah Indonesia sekarang. Menghitung dengan begitu cermatnya, apakah melarang mudik secara total, menghimbau agar jangan mudik, atau bagaimana?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun