Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Tukang Kayu Setengah Hati

Penulis Recehan yang Suka Ngelantur Soal Bola, Politik dan Sesekali Wisata

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Belajar dari Kesalahan Fatal Komunikasi Prabowo di Tempat Duka

3 Juni 2019   22:35 Diperbarui: 3 Juni 2019   22:44 2195 13 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar dari Kesalahan Fatal Komunikasi Prabowo di Tempat Duka
Prabowo di Cikeas I Gambar : Kompas.com

Saya baru selesai menulis tentang permintaan maaf Prabowo ke SBY karena tidak sempat datang ke pemakaman kemarin dan ke Singapura untuk menjenguk Ibu Ani ketika masih sakit. Saya melihat tindakan ini amat positif. Bagi saya, permintaan maaf ini amat mulia, dan tentu saja menginspirasi jikalau itu dilakukan oleh para elit politik.

Baca : Memaknai Permintaan Maaf Prabowo Untuk SBY

Akan tetapi, sekejap saya lalu berubah dan bertanya-tanya, apakah permintaan maaf itu sebuah hal yang jujur dikatakan atau ada udang di balik batu. Mengapa saya bertanya demikian? Karena ada berita yang cukup "heboh" mengenai SBY yang keberatan tentang komunikasi duka yang disampaikanPrabowo di Cikeas.

Hari ini, di dalam pernyataan dukanya di Cikeas, Prabowo masih sempat-sempatnya mengatakan bahwa dia mendengar informasi bahwa Ibu Ani memilih dirinya pada Pemilu 2014 dan 2019. Sesudah Prabowo meninggalkan Cikeas, SBY yang terlihat kecewa lalu mengatakan bahwa perkataan Prabowo tersebut (tentang pilihan politik Ibu Ani) itu tidaklah tepat dan tidak elok.

Sama seperti rakyat Indonesia lainnya, hati saya bersama dengan keluarga SBY dan masih merasakan dukacita yang mendalam atas kepergian Ibu Ani. Hal itulah yang membuat saya juga merasakan hal yang sama yang dirasakan oleh SBY dan keluarga.

Seperti SBY saya perlu menegaskan ini bukan soal perbedaan pilihan politik, jika Ibu Ani memilih Jokowi pun, kritik ini tetap perlu disampaikan. Akan tetapi ini adalah soal kesalahan komunikasi di tempat duka yang amat fatal. Pernyataan Prabowo amat keliru, karena seperti tidak pada tempatnya, tidak elok dan terkesan tidak etis.

Mengapa di tengah duka yang mendalam yang dirasakan SBY dan keluarga, Prabowo masih sempat-sempatnya mengatakan pilihan Ibu Ani. Meskipun hal itu dianggap sebagai sebuah informasi, namun apakah Prabowo tidak menyadari bahwa perkataan itu memiliki ekses lain yang tidak produktif bagi keluarga yang masih diselimuti duka yang mendalam.

Saya berkali-kali mengikuti acara pemakaman yang diisi dengan kata sambutan dari keluarga atau rekan yang terdekat. Biasanya hadirin duka akan merasa tidak nyaman, bahkan akan bergumam tanda protes jikalau sang pemberi kata sambutan lebih banyak bercerita tentang dirinya sendiri dan menyebutkan hal-hal yang tak perlu.

Bayangkan amatlah "menjijikan" jikalau, misalnya seorang pejabat yang diminta untuk memberikan sambutan di bawah tenda duka, bukan memberikan ungkapan berisi simpati dan empati, namun menceritakan tentang keberhasilan-keberhasilan dirinya dan terkesan memuji dirinya sendiri.

Lalu apa yang seharusnya dibicarakan di depan khalayak dalam suasana duka? Pada umumnya ada dua hal yang perlu dibicarakan. Pertama, penghormatan dan ucapan belasungkawa kepada keluarga. Kedua, kehidupan almarhum atau almarhumah yang menginspirasi orang lain. Jika ada yang dibicarakan diluar kedua hal ini, maka dapat dianggap sebagai sampah dan bahkan akan terkesan tidak etis.

Jika kita mau sedikit berpikiran positif, kita mungkin dapat menganggap bahwa pernyataan ini dikatakan Prabowo untuk menunjukan kedekatan dirinya secara personal dengan Ibu Ani. Sebagai orang yang mengenal keluarga Ibu Ani, Prabowo mungkin ingin terlihat "dekat" dengan mengungkapkan hal-hal pribadi yang membuat dirinya seperti banyak tahu tentang Ibu Ani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN