Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Insinyur

Menulis untuk berbagi... Email : arnoldadoe@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

"Pintar-Pintar Bodoh" Skandal Suap di Sepak Bola Nasional

12 Januari 2019   13:08 Diperbarui: 12 Januari 2019   13:23 0 3 1 Mohon Tunggu...
"Pintar-Pintar Bodoh" Skandal Suap di Sepak Bola Nasional
Suap di Sepak Bola I Gambar : LaudyGracivia

Istilah Pintar-Pintar Bodoh atau pin pin bo pasti akan mengingatkan kita pada film Warkop DKI, Dono, Kasino dan Indro. 

Salah satu judul Film Warkop yang diproduksi Parkit Film pada tahun 1980 bahkan menggunakan istilah "Pintar-Pintar Bodoh" sebagai judul filmnya.

Kisah film ini menceritakan tentang Dono, Kasino, Indro yang ingin membuka sebuah kantor detektif. Sebenarnya mereka tahu benar bagaimana seharusnya sebuah kantor detektif beroperasi, tetapi mereka sering jatuh di dalam hal-hal yang dapat dianggap konyol. Pintar iya, tapi juga bodoh. Pintar-Pintar Bodoh.

Apa hubungannya dengan kasus suap di persepakbolaan nasional kita? Kalau kita lebih dekat melihat, maka mau tidak mau bisa dikatakan bahwa  beberapa kasus suap ini menggambarkan pintar-pintar bodoh seperti di film Warkop. Terutama bagi pengurus sepakbola yang terjebak di dalamnya.

Saya akan berikan dua contoh. Pertama, berkaitan dengan kasus terakhir yang dilaporkan, yaitu dugaan suap yang dilakukan oleh petinggi PSSI bernama Iwan Budianto (IB) pada tahun 2009.  IB yang adalah Direktur Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) diduga  meminta uang kepada Imron Abdul Fatah yang saat itu menjabat sebagai manajer Perseba Super Bangkalan.

Uang itu untuk apa, uang sejumlah Rp 140 juta  diminta oleh pihak IB untuk menyetujui Bangkalan sebagai tuan rumah pelaksanaan pertandingan Delapan Besar Liga Remaja (Piala Suratin) Seri Nasional 2009. Imron sendiri melakukan pembayaran secara bertahap pada rentang waktu Oktober-November 2009.

Saat terakhir dikonfirmasi, IB mengatakan harus mengingat kembali detailnya seperti apa, karena peristiwa itu sudah berlangsung sudah sangat lama.

Di lain sisi, menarik disimak apa yang dikatakan oleh Imron, sang pelapor. Menurut Juru Bicara Tim  Satgas Antimafia Bola, Kombes Argo Yuwuno, Rabu (9/1/2019), Imron   baru menyadari sebagai korban setelah mengetahui bahwa menjadi tuan rumah Turnamen sebenarnya tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun.

"Pada Desember 2009 setelah dilaksanakan pertandingan Delapan Besar Liga Remaja (Piala Suratin) Seri Nasional 2009 di Bangkalan, korban baru mengetahui dan tersebut tidak ada ketentuan untuk melakukan pembayaran," tutur Argo.

Inilah pintar-pintar bodoh itu tergambar dengan jelas. Pintar karena berkeinginan menjadi tuan rumah, bodoh karena membayarkan uang yang seharusnya tidak harus dibayarkan. Seharusnya para manajer atau pengurus klub tahu persyaratan untuk menjadi tuan rumah sebuah turnamen.

Jika kita melihat pada satandar FIFA yang kemungkinan besar diadopsi oleh PSSI dalam mengatur tuan rumah, maka ada beberapa persyararan yang mesti disiapkan calon tuan rumah sebuah turnamen.

Pertama, tuan rumah diminta menyertakan visi dan strategi penyelenggaraan; Kedua, informasi tentang tentang kondisi umum, politik, ekonomi, serta media dan pemasaran; Ketiga, sejumlah aspek teknis termasuk keamanan dan keselamatan; aspek penyelenggaraan lain dan penunjang manajemen event seperti standar hak-hak buruh dan HAM.

Selanjutnya, pencalonan yang memenuhi kualifikasi akan diajukan untuk dievaluasi. Standar penilaian harus memenuhi tiga aspek, yaitu uji kepatuhan, uji tingkat risiko, dan evaluasi aspek teknis. 

Jika ini terpenuhi dan unggul dari calon lain, maka Imron tak perlu harus membayar uang tersebut. Tetpai ya itu, jika kasus ini terbukti benar, Imron jelas tertipu. Sebenarnya pintar, tetapi jadinya bodoh.

Kasus kedua, berkaitan dengan curhatan CEO Persijap Jepara, Esti Lestari, yang timnya kini main di Liga 3, menceritakan pengalamannya tiga tahun sebagai petinggi klub dalam pertemuan dengan Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN).

"Waktu itu kami semua di manajemen sudah tanda tangan pakta integritas agar tidak terima suap. Kami dulu sangat pede bakal lolos. Tapi itu bumerang," kata Esti, menceritakan saat Klubnya berpartisipasi di Liga 2. 

Lalu pada akhirnya kami kalah terus, sekalipun lawan tim yang di bawah kami. Terus saya tanya kepada pemain dan mereka bilang: 'saya sudah capek main buat klub ibu. Abisnya ibu enggak pernah bayar wasit. Kita dikerjain mulu'" cerita Esti.

"Nah, di Liga 3 saya lebih kalem. Terus saya dibilang kalau mau lolos sudah tenang saja. Ikuti aturan main," cerita Esti.

Banyak pengurus yang terjebak pemikiran bahwa harus membayar untuk tetap menang, dan melupakan peningkatan kualitas pertandingan dan permainan. Kondisi ini semakin diperparah dengan para pemain yang "mencuci otak" para pengurus, untuk membayar agar tim dapat menang. 

Pengurus yang sebenarnya tahu bahwa tim yang berpotensi menang adalah tim yang berkualitas, tim yang memiliki pemain yang giat berlatih dengan pelatih yang mumpuni. Akan tetapi  menjadi bodoh sendiri karena tuntutan kemenangan, dan dibododi. Kualitas nomor dua, yang paling penting harus membayar atau menyuap terlebih dahulu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2