Arnold Adoe
Arnold Adoe Tukang Kayu

Menulis untuk berbagi... Email : arnoldadoe@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Harapan Italia pada Roberto Mancini

15 Mei 2018   19:29 Diperbarui: 16 Mei 2018   00:25 2099 4 1
Harapan Italia pada Roberto Mancini
Mancini resmi melatih Italia I Gambar : Peninsulaqatar

Rasa malu sudah mulai mengendap tetapi hati pendukung timnas Italia pastinya akan teriris-iris pada Juni nanti ketika berlangsung perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Sakit hati pasti terasa saat pendukung Azzuri melihat panggung pesta sepak bola terbesar di jagat raya ini berlangsung tanpa Italia.

Kenyataan yang terpaksa harus dihadapi setelah lebih 60 tahun Azzuri tak pernah absen. Kenyataan yang membuka mata Federasi Sepak bola Italia, FIGC, untuk membuka mata lebar-lebar bahwa Italia harus lebih berhati-hati untuk memilih pelatih, tidak lekas merasa superior sehingga yakin dengan kemampuan pelatih semenjana dalam diri Giacomo Ventura. Hasilnya, gagal total, Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018.

Setelah lama menunggu, terlibat di dalam diskusi dan seleksi panjang, akhirnya FIGC secara resmi menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia yang baru. Di tengah senyuman Mancini ketika berfoto bersama para petinggi FIGC, publik sepak bola tahu bahwa besar harapan Italia pada Mancini. Harapan yang akan membuat pria berusia 53 tahun ini harus bekerja dan berpikir keras untuk menggapainya.

Apa harapan bagi mantan pelatih Manchester City, Inter Milan dan Zenit Petersburg ini?

Jika dilihat dari tuntutan prestasi dan jangka waktu dari kontrak yang ditandatangani oleh Mancini sampai 2020, maka target jangka pendek bagi Mancini sekaligus harapannya adalah sukses di Piala Eropa 2020, "hanya" dua tahun dari sekarang.

Tentu bukanlah hal yang mudah mewujudkannya karena kalau mau jujur persoalan sehingga Italia tak lolos ke Piala Dunia bukan semata-mata karena kualitas pelatih Giacoma Ventura yang memang bukan pelatih bermental juara, tetapi juga karena persoalan lain yang perlu membutuhkan perhatian.

Persoalan lain yang dimaksud itu adalah transisi yang kurang mulus dari generasi Buffon, Barzagli, Chiellini, De Rossi ke generasinya Ciro Immobille, Romagnoli, Rugani dan Donnaruma. Timnas Italia masih belum dapat mewujudkan agar karakter dan mental para pemain senior yang sedikit lagi akan habis itu menular ke pemain yang lebih yunior.

Pelatih Italia sebelumnya, Giacomo Ventura, jelas sulit melakukannya, karena Ventura bukanlah pelatih yang bermental juara, akan tidak seimbang dengan skuad yang mayoritas masih diisi pemain mental pemenang. Hal ini terlambat disadari oleh FIGC yang akhirnya disadarkan kembali dan kali ini seperti percaya bahwa Mancini lah sosok yang dapat mewujudkannya.

Jika ditanya, apakah Mancini bermental juara?. Jawabannya, iya. Mancini pernah melatih melatih Inter Milan dan membawa klub ini juara Serie A. Prestasi lebih hebat adalah ketika Mancini menangani klub Liga Inggris, Manchester City, pada musim kompetisi 2011-2012 dan mampu mengantarkan The Citizens menjuarai Liga Inggris. Sebagai catatan, sebelumnya City tak pernah juara dalam kurun waktu hingga 44 tahun.

Modal ini dirasakan akan mampu menghentak kembali mental juara itu agar kembali muncul serta dapat menularkannya kepada anak-anak muda penghuni Azzuri. Sebenarnya Mancini sedikit dimudahkan karena masih ada beberapa pemain senior pewaris mental juara itu yang masih terpakai dan dapat membantunya, seperti Chiellini dan Bonnuci.

Malahan sebenarnya Mancini harusnya ditantang bukan sekedar membuat transisi dimaksud berjalan mulus, tetapi lebih daripada itu, Mancini perlu ditantang untuk segera membentuk generasi baru yang akan membuat Italia berjaya di masa mendatang.

Untuk hal ini, Mancini perlu melakukan langkah berani. Berani untuk sama sekali tidak memanggil Bonnuci, Chiellini dan mempercayakan Rugani, Romagnoli atau Caldara untuk menjadi tembok belakang ketika Donarumma seperti akan mulus menjadi pengganti Buffon di sektor penjaga gawang. Meskipun beresiko, tetapi jika berhasil, anak-anak muda itu akan semakin matang dan Italia siap menyambut kembalinya era baru kejayaan mereka.

Hal terakhir yang patut diharapkan dari Mancini adalah membuat timnas Italia dapat menampilkan sepak bola yang seksi atau menarik, suatu hal yang jauh dari apa yang ditampilkan oleh Ventura bahkan Conte sekalipun. Italia tampak pragmatis di tangan kedua pelatih terakhir ini.

Mancini dipercaya mampu melakukannya. Mancini bukanlah pengagum sepak bola bertahan khas Italia, meski tidak seanggun tiki-taka khas Guardiola ketika menampilkan sepak bola menyerang. 

Pekerjaan rumah Mancini adalah mampu membuat Italia tampil menyerang tetapi juga mampu bertahan dengan baik, alias seimbang. Suatu hal yang pincang di tangan Giacomo Ventura.

Penyerang-penyerang muda seperti Cutrone, Immobile, Belloti dan Insigne harus mampu dibuat Mancini untuk tampil ganas, garang dan tajam dengan strategi ofensif milik Mancini. Mampu menyerang seperti Napoli dan bertahan seperti Juventus. Begitulah gambaran Italia yang diharapkan dari tangan Mancini.

Segala harap dan ekpetasi ini perlu ditunggu lahir dari tangan Mancini. Tak perlu lama, Mancini dijadwalkan akan bertemu anak-anak asuhnya di Coverciano, kamp latihan tim nasional Italia, pada 22 Mei nanti.

Pembuktian sepak bola ala Mancini akan dimulai kala Italia berhadapan dengan Arab Saudi di San Gallo pada 28 Mei, sesudah itu Italia akan menjajal kontestan Piala Dunia, Perancis di pertandingan uji coba di Nice pada 1 Juni serta Belanda di Turin pada 4 Juni.

Apakah Mancini dapat melewati ujian ini dengan sukses?. Ah, tak ada yang dapat menjawabnya dengan pasti. Mancini bukanlah Midas dengan tangan ajaib yang mampu membuat segalanya berubah dengan cepat. 

Namun para penggemar timnas Italia patut bersyukur dan tersenyum bahagia karena FIGC telah memilih pelatih yang tepat.