Arnold Adoe
Arnold Adoe Tukang Kayu

Menulis untuk berbagi... #FB : Arnold Adoe # Insta : Arnold_Adoe # Twitter : Arnold Adoe

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Dalam Senyap, Atletico Madrid Tebar Bahaya bagi Barcelona

4 Maret 2018   11:54 Diperbarui: 4 Maret 2018   13:15 1213 6 3
Dalam Senyap, Atletico Madrid Tebar Bahaya bagi Barcelona
Ateltico Madrid, siap menjadi mimpi buruk Barcelona I Sumber Gambar : Goal

Pelatih Barcelona, Ernesto Valverde seharusnya sekarang  berada dalam kekhawatiran tingkat tinggi seusai pertandingan pekan ke-26 La Liga  melawan Las Palmas. Pria yang sebelumnya dikenal sebagai pelatih yang tak banyak bicara ini mulai "cerewet", seusai Barca diimbangi Las  Palmas, 1-1.

"Kami tidak tahu untuk apa wasit memberi penalti. Di ruang ganti, tidak ada yang tahu. Kami tidak mengerti untuk apa dia meniup peluit, ini tak bisa dijelaskan. Itu adalah penalti siluman." ujar Valverde seusai pertandingan. Gol tendangan bebas Lionel Messi, dibalas melalui eksekusi penalti Striker Las Palmas, Jonathan Calleri di awal babak kedua.

Mengapa Valverde dan juga pendukung Barcelona pantas cemas. Seusai hasil seri tersebut, selisih poin antara Barcelona dan tim terdekat mereka, Atletico Madrid berada di dalam angka 5 poin. Jarak yang masih bisa dipangkas mengingat kompetisi masih tersisa 12 pekan lagi.

Padahal, hingga awal tahun (Pekan ke-20), Barcelona masih tampak superior bagi para pesaingnya. Saat itu bukan saja selisih 11 poin dengan Atletico Madrid, tetapi penampilan konsisten dari Barcelona mendapat pujian dari berbagai pihak.

Di pekan ke-20 itu, seusai membabat Real Betis lima gol tanpa balas, Messi cs tercatat sebagai satu-satunya tim di lima liga teratas Eropa yang belum terkalahkan di musim 2017-2018. Barcelona mencatat 17 kali kemenangan dan 3 hasil seri. La Liga sampai di titik itu dianggap membosankan, apalagi rival klasik Barcelona, sekaligus juara bertahan, Real Madrid tahun ini tampil buruk di kompetisi lokal.

Bagaimana Atletico Madrid? Meski saat itu masih membayangi Barcelona, tetapi anak asuh Diego Simeone ini sudah dianggap sebelah mata. Alasannya, karena Atletico Madrid sudah tersingkir dari persaingan kompetisi elit Eropa, Liga Champions dan harus turun kasta dengan bermain di Europe League.

Atletico Madrid tidak "dihormati" lagi karena klub La Liga lainnya yakni Barcelona, Real Madrid dan bahkan Sevilla masih melangkah jauh di Liga Champions. Namun disinilah kekuatan klub berjuluk Los Colchoneros ini mulai nampak, meski dalam kesenyapan.

Di kompetisi Liga Eropa, Atletico melaju mulus ke babak 16 besar, dan kemungkinan besar akan melangkah lebih jauh lagi. Setelah di babak penyisihan grup melumat klub Denmark, FC Kopenhagen dengan agregat 5-1, Atletico "hanya" ditantang oleh klub Rusia, Lokomotiv Moskow.

Di La Liga, Atletico tampil paling konsisten di tahun 2018. Setelah tertinggal 11 poin, Atletico mampu mengambil poin krusial ketika Barcelona sedikit tersendat. Contohnya, di pekan ke-22. Ketika Barcelona diimbangi Espanyol, Atletico mampu mengunci 3 poin dari sesama tim papan atas, Valencia.

Di pekan ke-23, Barcelona kembali diimbangi oleh Getafe tanpa gol kali ini bahkan terjadi di Camp Nou, dan disaat itu, Atletico berhasil melibas Levante 3-1. Meskipun Barcelona kembali bangkit di pekan ke-24, dengan mengalahkan Eibar 2-0, di saat bersamaan, Atletico juga mampu menang dalam pertarungan keras melawan Bilbao, 2-0.

Selisih poin yang dipersempit oleh Atletico menjadi 7 poin di antara kedua tim sempat diperkirakan akan melebar kembali di pekan ke-25. Oleh karena Barcelona hanya akan menjamu lawan mudah Girona, sedangkan Atletico harus bertandang di salah satu kontestan babak 16 besar Liga Champions di Stadion Sanchez Pizjuan, kandang yang terkenal angker Sevilla.

Messi cs, tersendat di La Liga I Sumber Ilustrasi : bola
Messi cs, tersendat di La Liga I Sumber Ilustrasi : bola
Benar saja, Girona dilumat Barcelona 6-1. Tetapi, Atletico di luar dugaan tampil ganas di Sanchez Pizjuan, tuan rumah Sevilla dipermak 2-5. Selisih tetap menjadi 7 poin. Akhirnya, keterbedaan jarak hanya menjadi 5 poin di pekan ke-26, setelah Las Palmas mampu mengimbangi Barcelona, sedangkan Atletico lagi-lagi menang besar, kali ini atas Leganes, 4-0.

Melihat fenomena yang kembali membuat La Liga akan kembali tampak tidak membosankan ini, kita perlu bertanya apa yang membuat Atletico Madrid mampu tampil menggila di tahun 2018 ini. Paling tidak ada 2 faktor penting yang perlu dikedepankan.

Diego Costa, mampu membuat Griezzy tampil hebat I Sumber Illustrasi : ghanasoccernet
Diego Costa, mampu membuat Griezzy tampil hebat I Sumber Illustrasi : ghanasoccernet
Pertama, Faktor kehadiran Diego Costa. Sejak resmi dapat bermain bagi Atletico di Januari setelah ditransfer dari Chelsea, Costa memberikan dampak signifikan terutama dalam agresifitas permainan Atletico.  

Hal ini bukan saja menyoroti gol penyerang berusia 29 tahun ini saat debut di Copa del Rey di Januari, tetapi juga kontribusi dalam meningkatkan level permainan tim dan juga duetnya, Antoine Griezmann.

"Kehadiran Costa tidak hanya meningkatkan level Greizmann, tetapi juga tim. Semua karena kegigihan, keberanian dan segala yang diberikannya untuk tim." ujar sang Pelatih, Diego Simeone berkomentar tentang dampak  kehadiran Costa.

Sejak kedatangan striker Spanyol ini,  Griezmann mampu mencetak tambahan 13 gol di semua kompetisi. Tambahan yang sangat signifikan karena sebelum kedatangan Costa, Griezmann hanya mencetak 7 gol di semua kompetisi. Hingga saat ini, kedua pemain telah menyumbangkan 27 gol bagi Atletico Madrid.

Peringatan bagi tim La Liga lain karena gairah Diego Costa yang sempat hilang setelah ditendang oleh Chelsea kembali bangkit ketika tampil bersama Atletico Madrid. Diego Costa telah kembali!

Kedua,  Atletico biasa tampil kesetanan jika tanpa sorotan dan tekanan. Ketika berhasil mengalahkan AC Milan dan melaju ke babak perempat final Liga Champions tahun 2014. Banyak orang yang masih memandang enteng Atletico dan menganggap itu sebagai kebetulan semata. Apalagi sejak 1997, itulah momen pertama kalinya Atletico menjejak babak perempat final.

Diego Simeone kala itu pun hanya berkomentar ringan bahwa keberhasilan timnya hanya karena kekuatan tim, bermain sebagai sebuah tim. Tak lebih tak kurang. Simeone sadar bahwa Atletico hanyalah tim underdog.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2