Mohon tunggu...
Arnold Mamesah
Arnold Mamesah Mohon Tunggu... Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomic - Intelconomix

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Laten Perekonomian Indonesia dan Global

1 Juli 2017   17:35 Diperbarui: 1 Juli 2017   17:40 0 1 1 Mohon Tunggu...
Laten Perekonomian Indonesia dan Global
Eagle flies in the sky - sumber gambar : https://www.flickr.com/photos/124829075@N02/14497752292

Depresi Pasca Krisis Finansial

Berbagai upaya dan langkah dilakukan negara maju pasca Krisis Finansial 2008 untuk pemulihan perekonomian negara atau regional masing-masing serta mencegah tekanan perekonomian yang berkepanjangan atau dikenal sebagai siklus super (super-cycle) seperti yang terjadi pasca Great Depression 1929. Perekonomian US melalui The Fed memilih lebih dari stimulus moneter dengan kebijakan yang disebut "quantitative easing"; Uni Eropa melalui ECB (European Central Bank atau Bank Sentral Uni Eropa) menjalankan kebijakan "Asset Purchase Programmes" yang intinya merupakan kebijakan stimulus moneter untuk mendorong belanja dan meningkatkan permintaan (demand). Hal yang hampir serupa dilakukan Jepang dengan kebijakan stimulus dengan berupaya menurunkan suku bunga demi meningkatkan konsumsi. Tiongkok memilih stimulus dengan membelanjakan hampir USD 586 Miliar untuk ekspansi pembangunan termasuk infrastruktur.

Gambaran pertumbuhan perekonomian pra dan pasca Krisis Finansial 2008 diberikan pada Peraga-1.

GDP Growth Adv. Economics and Indonesia - Koleksi Arnold M.
GDP Growth Adv. Economics and Indonesia - Koleksi Arnold M.
Sumber informasi : IMF (dengan pengolahan)

Pasca 2008 tren pertumbuhan Amerika Serikat (US), Uni Eropa, (EU : European Union), Jepang (Japan), dan Tiongkok (China) turun; demikian juga dengan perekonomian dunia (World). 

Upaya stimulus moneter yang dilakukan US, EU, dan Jepang menunjukkan bahwa "limpahan dana" (Glut of Fund) dengan suku bunga rendah tidak selalu memberikan efek positif yaitu peningkatan pertumbuhan. Fenomena ini dikenal sebagai Jebakan Likuiditas (Liquidity Trap). Sementara, upaya stimulus yang dilakukan Tiongkok memang dapat menahan penurunan pertumbuhan. Tetapi siklus natural perekonomian tidak dapat dihindari dan pertumbuhan Tiongkok mengalami tekanan penurunan. Sementara dampak dana stimulus yang telah dikucurkan masih membutuhkan waktu panjang untuk pemulihan dan berpotensi menimbulkan tekanan atau gejolak. 

Terlepas dari tren turun pertumbuhan ekonomi yang dialami US, EU, Jepang, Tiongkok, dan dunia; ada satu hal yang menarik bahwa tren Indonesia naik (lihat garis merah dengan panah) dalam masa 2000 - 2017 walaupun dalam masa 2010 - 2015 mengalami penurunan dengan pertumbuhan 2015 hanya mencapai 4.9%. Apakah angka tersebut merupakan pertumbuhan terendah (trough) dalam siklus perekonomian ?

Potret Moneter

Tingkat inflasi merupakan fokus utama kebijakan moneter yang dikawal Bank Indonesia (BI); dan dalam kebijakannya akan berpengaruh pada nilai tukar, suku bunga, aliran dana serta cadangan devisa negara. Indikator yang dapat mewakili kinerja tersebut dapat dilihat dengan menggunakan Indeks Real Effective Exchange Rate (REER) karena memberikan gambaran perubahan nilai tukar mata uang, tingkat inflasi, kondisi perdagangan global, dan aliran dana yang masuk dan keluar. Gambaran Indeks REER Indonesia dengan pembanding India serta Tiongkok diberikan pada Peraga-2.

REER Index China India Indonesia - Koleksi Arnold M.
REER Index China India Indonesia - Koleksi Arnold M.
Sumber informasi : BIS (dengan pengolahan)

Peraga-2 menunjukkan dalam masa Mei 2015 - 2017 (24 bulan), tren indeks REER India dan Indonesia naik; sedangkan Tiongkok turun. Hal ini memberi makna bahwa nilai tukar mata uang Rupiah menguat, inflasi terkendali, perdagangan tidak mengalami defisit panjang, serta aliran dana masuk lebih besar daripada aliran keluar. Kondisi demikian didukung dengan gambaran inflasi serta cadangan devisa pada Peraga-3.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2