Mohon tunggu...
Arnold Mamesah
Arnold Mamesah Mohon Tunggu... Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomic - Intelconomix

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Kesuraman Ekonomi Global dan Membuka Tabir "Dirty Money & Underground Economy"

1 April 2017   17:33 Diperbarui: 1 April 2017   21:52 1330 4 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kesuraman Ekonomi Global dan Membuka Tabir "Dirty Money & Underground Economy"
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Fenomena dalam Kesuraman Global

Kenaikan harga yang disebut inflasi, selalu dianggap bermakna negatif; kondisi sebaliknya disinflasi atau penurunan harga akan disambut dengan gembira. Apa yang terjadi jika penurunan harga tersebut terus berlanjut dalam waktu panjang atau disebut deflasi ? Peraga-1 memberikan gambarannya.

Spiral Deflasi - Koleksi Arnold M.
Spiral Deflasi - Koleksi Arnold M.
Penurunan harga yang berlangsung panjang akan menekan pendapatan dunia usaha; berdampak pada pengendalian biaya dan penurunan minat berinvestasi. Kondisi demikian menyebabkan tekanan pada pendapatan tenaga kerja dan berkurangnya lapangan kerja baru; berlanjut dengan penurunan daya beli serta permintaan sehingga terjadi keadaan "oversupply", yang kembali menggoda dunia usaha untuk menurunkan harga. Penurunan pendapatan dunia usaha menyebabkan penurunan penerimaan pajak. Sementara berkurangnya lapangan kerja akan menimbulkan masalah sosial dan menambah beban pemerintah untuk bantuan sosial.

Fenomena lain yang sedang menggelora adalah disrupsi inovasi dengan bingkai "digital & sharing economy". Kehadiran aplikasi yang menjanjikan kemudahan dan biaya lebih murah dalam penyediaan layanan seperti transportasi, layanan hunian, belanja on-line, dan berbagai model lain, seakan mengusik pelaku usaha yang sudah ada. Limpahan aplikasi dengan berbagai penyedia serta layanan membuat persaingan kian ketat dan timbul benturan yang menjurus pada kegentingan dan krisis (crunch, crash, crisis) dalam dunia usaha serta masyarakat. Dalam situasi demikian, ada satu hal yang belum dapat disolusikan dengan jernih yaitu perpajakan yang selayaknya menjadi bagian penerimaan pemerintah.

Dengan kondisi deflasi serta eforia disrupsi inovasi, layanan publik dan pembangunan infrastruktur harus terus berlangsung yang membutuhkan dana dalam jumlah besar. Sementara penerimaan pemerintah melalui pajak mengalami tekanan sehingga buahnya adalah defisit pada anggaran.

Mencermati kondisi global tidak lepas dari situasi kelompok G20 (Group of Twenty). 

Berdasarkan PDB (Produk Domestik Bruto atau GDP : Gross Domestic Product) global, gambarannya diberikan pada Peraga-2.

Global GDP Share - Koleksi Arnold M.
Global GDP Share - Koleksi Arnold M.
Kelompok G20 memiliki bagian 82% dan non G20 18%; USA, EU (European Union), China, Jepang, dan India merupakan bagian dari G20 yang secara bersama mengusai sekitar 66% atau dua pertiga dari GDP Global. Indonesia termasuk dalam kelompok G20 lainnya (Others G20).

Krisis Finansial 2008 berdampak pada tekanan pertumbuhan ekonomi global dan masih berlanjut khususnya pada negara maju yang mengalami tekanan ekonomi. 

Peraga-3 memberikan gambaran beserta proyeksi pertumbuhan global hingga 2021.

Global Economic Growth - Koleksi Arnold M.
Global Economic Growth - Koleksi Arnold M.
Sumber informasi : IMF (dengan pengolahan)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN