Mohon tunggu...
Arnold Mamesah
Arnold Mamesah Mohon Tunggu... Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomic - Intelconomix

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Krisis Keuangan dan Bersikap Cerdas serta Cerdik

26 Agustus 2015   15:11 Diperbarui: 28 Agustus 2015   14:42 630 2 1 Mohon Tunggu...

Fenomena Black Monday dan Tularan Krisis

Tidak ada suatu yang baru di bawah matahari (There is nothing new under the sun), merupakan kata-kata bijak yang dikutip dari King Solomon Ecclesiates.

Kejadian Senin Hitam (Black Monday) pada 19 Oktober 1987 yang berawal dari bursa Hongkong dan menjalar cepat ke Eropa dan Amerika; berulang pada 24 Agustus 2015. Muncul dari bursa Shanghai dengan tularan keseluruh bursa Asia Pasifik, Eropa, Timur Tengah, Afrika, Amerika. Pola pergerakan dan pemicu serta dampak krisis yang terjadi serupa, diawali dengan kecemasan yang berlanjut dengan panik serta histeria.

Krisis keuangan seperti halnya pada 2008 sudah semakin sering terjadi. Upaya pengobatan pasca krisis di USA dengan kebijakan Quantitative Easing The Fed sejak Oktober 2009 dan penundaan keputusan menaikkan suku bunga acuan The Fed sejak 2014 menimbulkan kondisi ketidakpastian (uncertainty) yang juga menjadi pemicu krisis 2015. Seperti juga dialami perekonomian Indonesia dengan dampak pada nilai tukar Rupiah terhadap USD yang terus merosot. 

Plesetan anekdot “Datang tidak diundang pergi minta ongkos” seakan menggambarkan  krisis keuangan yang muncul tiba-tiba dan meninggalkan kerusakan pada sektor perekonomian. Bahkan dapat menjalar atau menjadi pembenaran timbulnya krisis politik dan pengalihan kekuasaan seperti pada Krismon 1998 dan situasi yang tengah berlangsung di Yunani, Brazil dan Turki.

 

Posisi, Proteksi dan Prediksi

Terhadap artikel Indominomics : Manipulasi Informasi Berbuah Krisis, seorang kerabat kental yang kritis, memberikan tiga kuis menarik dengan “mengutip” artikel dari pengelola keuangan JP Morgan (JP Morgan: Sell Indonesia Bonds, Rupiah NOW) yang juga dikutip Harian Kompas, kebijakan proteksi melalui suspensi bursa NYSE (Stock Trading in U.S. Will Pause If S&P 500 Plunges 7%) dan prediksi chartis tentang lanjutan krisis keuangan dunia (Charts: This may be the start of the world’s next financial crisis).

Tantangan kerabat ini sangat menarik dan perlu dikaji dengan cerdas dan cermat serta ditanggapi secara cerdik.

Posisi “exit” atau keluar seperti “advise” JP Morgan (JPM) bukan hal luar biasa. Sekedar mengingat catatan krisis keuangan 2008 di USA dan sumber pendapatan JPM, mudah dipahami bahwa para pengelola dana (Fund Manager) dan Pialang akan memanfaatkan peluang krisis untuk mendapatkan manfaat maksimal melalui transaksi. Pertanyaannya jika kemudian “exit”, lantas kemana akan dibiakkan dana tersebut saat pasar Asia terhuyung (slumping), pasar EMEA (Europe, Middle East, Africa) dan Latin America (ingat kasus politik Brazil dan masalah sosial di Venezuela) juga terseret, sementara pasar USA masih belum menjanjikan imbalan bahkan berpotensi tertekan akibat keputusan kenaikan suku bunga acua The Fed yang terus ditunda.

Proteksi dan Pencegahan yang diberlakukan NYSE pun hal biasa. Salah satu strategi menenangkan keadaan panik dan histeris adalah “cool down” sesaat dengan “menarik napas” agar para pelaku pasar berpikir tenang dan jernih serta tidak terpengaruh bias dalam berpikir (cognitive bias) dan tidak terbawa emosi dalam mengambil keputusan (bandwagon effect). Saat bursa Shanghai terguncang hebat pada 8 Juni 2015, sempat terjadi “penundaan” yang konon akibat gangguan (glitch) sistem transaksi NYSE. Alasan gangguan (Technical Fail) ini kurang dapat diterima karena selayaknya sistem cadangan (fall back system) segera berfungsi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x