Mohon tunggu...
Arnold Mamesah
Arnold Mamesah Mohon Tunggu... Infrastructure and Economic Intelligent - Intelconomix : Dig Data - Derive Information - Develop Knowledge - Deploy Intelligence

Infrastructure and Economic Intelligent - Intelconomix : Dig Data - Derive Information - Develop Knowledge - Deploy Intelligence

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Sportivitas dalam lingkar Spirit – Support – Sponsorship

21 September 2014   09:28 Diperbarui: 18 Juni 2015   00:03 0 0 0 Mohon Tunggu...
Sportivitas dalam lingkar Spirit – Support – Sponsorship
14112410571987839433

Fenomena Arus Perubahan Olahraga Bridge Indonesia

Sportivitas Bridge

Jargon sportivitas yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat misalnya politik, ekonomi, pendidikan, lahir dari kata ‘sport’ (olahraga). Sportivitas mengandung makna dan sikap sportif yang dikaitkan dengan sikap dalam pertandingan olahraga. Kata sportif, dari kamus besar bahasa Indonesia, didefinisikan sebagai sikap ksatria dan jujur. Dalam olahraga bridge, makna sportivitas dan sikap sportif sangat dijunjung tinggi bahkan permainan bridge memiliki “ethics of conduct” yang ketat dan mengikat, berlaku bagi segenap pemain, permainan bridge dan tentunya pada organisasi yang mengelola, membina, dan mengayomi segenap insan bridge; yang di persada Indonesia disebut GABSI (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia).

Dengan demikian, sportivitas harus hadir secara utuh dalam jiwa dan semangat serta karakter (soul and spirit) pada segenap insan bridge di persada Nusantara dalam bersikap, bermain, dan berorganisasi secara utuh dan konsisten.

Bridge dalam Prestasi dan Supremasi

Bicara bridge di kancah mancanegara, bridge Indonesia sarat prestasi dan diakui sebagai pemegang supremasi bridge untuk belahan bumi bagian selatan bersama dengan Australia dan Taiwan. Nama-nama legendaris dari berbagai era dan generasi seperti seperti Tan Kiong Say, Oei Keng Hian, Dr. M.W. Maznam, Djawar Dt.R.M., Thio Oen Gie, Tan Hok San, J.A. Franz, Eddy Nayoan, Manoppo Bersaudara, F.W. Waluyan, Danny Sacul, Henkie Lasut, Yassin Wijaya, dan beberapa nama lain, selalu erat berhubungan dengan prestasi baik ditingkat Asia Pasifik (FEBC), dunia (Bermuda Bowl). Tuduhan “radar-gelap” yang pernah dikenakan pada pasangan Manoppo Bersaudara karena misteri sistem bidding yang digunakan, tidak pernah dapat dibuktikan. Metode pembinaan mental dan permainan yang disebut MODEST (Motivasi, Determinasi, Effort, Strategy, Tactics) yang dibangun dan dikembangkan Amran Zamzami, layak disebut sebagai “Tonggak Penting” bridge Indonesia.

Semuanya berjalan dalam suasana menyatu, harmonis, saling mendukung (supportive) dari segenap stake-holder bridge Indonesia yang bergandengan tangan demi mencapai prestasi sejalan dengan spirit Mensana Incorporesano (Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat), menyisihkan segala hal yang berbau kepentingan pribadi atau kelompok.

Fenomena Olahraga dan Kemandirian

Dukungan stake-holder dalam pembinaan dan pencapaian prestasi dalam dunia olahraga mutlak diperlukan. Pada era sebelumnya, pemerintah berperan sebagai sumber utama pendukung kegiatan olahraga yang antara lain mencakup sarana, prasarana, dana, dan restu. Memang, tidak dapat diabaikan inisiatif dan partisipasi perorangan atau kelompok yang secara aktif mendukung kegiatan olahraga; semuanya dilakukan secara tulus dan ikhlas. Para atlet yang berjuang dengan semangat membara, selalu berdasarkan pada semangat patriotik Burung Garuda dan Sang Merah Putih. Semangat demikian melekat pada jiwa atlet yang bertanding tanpa pamrih dan mereka sering disebut atlet “amatir”. Sedangkan pada sisi lain, tidak dapat juga diabaikan keberadaan mereka yang bertanding dan berjuang; status profesi melekat padanya dan disebut atlet “profesional”.

Musim dan masa berganti, fungsi, peran, prestasi dan supremasi silih ganti. Peran pemerintah (pusat dan daerah) sebagai pendukung utama, sejalan dengan arus demokrasi dan independensi, telah bergeser menjadi pelengkap. Pada sisi lain, situasi ini memberikan kesempatan kepada berbagai pihak non-pemerintah untuk berperan aktif. Dalam dikotominya, pihak non-pemerintah sering disebut sebagai pihak-swasta. Partisipasi pihak swasta diharapkan sebagai “supporting-factor”(factor pendukung) dalam pembinaan olahraga secara berkelanjutan untuk menggapai prestasi dan meraih supremasi pada kancah persaingan mancanegara.

Simbiosis Olahraga dengan Sponsorship

Kata simbiosis dapat dimaknai sebagai hidup dan interaksi bersama; yang saling memberikan manfaat (mutualisme), atau satu pihak menikmati manfaat namun yang lain mendapatkan mudharat (parasitisme), atau salah satu pihak mendapatkan manfaat tanpa menimbulkan efek atau kerugian pihak lain (komensalisme), atau juga kedua pihak yang berinteraksi dan bersaing (kompetisi).

Dalam lingkup dunia olahraga Indonesia dan pihak swasta, simbiosis secara pragmatis dan logis mengarah pada mutualisme atau saling menguntungkan. Dunia olahraga yang membutuhkan dukungan dalam melakukan pembinaan dan menghasilkan prestasi serta kepentingan pihak swasta yang sering dikaitkan manfaatnya dengan kepentingan mengangkat persepsi (image) dan sarana promosi. Bagi korporasi, partisipasi tersebut bertajuk “Corporate Social Responsibility” (Tanggung Jawab Sosial Kemasyarakatan). Sampai titik ini, pemahaman dan makna dari misi yang dilakukan pihak swasta dapat diterima, terasa elegan dan elok.

Namun kemudian, suasananya menjadi tidak sehat dan tidak elok saat pengaruh serta kepentingan tersebunyi terselip dalam niatan partisipasi pihak swasta. Kecenderungan untuk mempengaruhi keputusan, intervensi, bahkan niat mendominasi dan menguasai dengan cara “invisible-hand” atau “boneka” menjadi bumbu tak sedap yang mengusik, mendera, bahkan mencederai dunia olahraga Indonesia. Konon, pihak swasta berbekal kemampuan (sumber daya dan finansial), kekuatan dan pengaruh yang dimiliki serta menggunakan pembenaran atas cara-cara yang digunakan, menjadi bagian dalam proses pelaksanaan kegiatan dan pengambilan keputusan dunia olahraga Indonesia. Aroma dan sikap “like & dislike”, favouritisme, pertemanan dan perkoncoan dan hal-hal yang berkonotasi negatif, mengalahkan norma dan nilai luhur serta subtansi pola pembinaan berkelanjutan, yang berujung pada robohnya “Tonggak Sportivitas” olahraga Indonesia.

Fenomena Tuntutan Perubahan

Kongres GABSI ke-24 dan Kejuaraan Nasional (Jurnas) Bridge ke-52, pada 13-21 September 2014, berlangsung di Bumi Nyiur Melambai, Kota Manado yang konon masyarakatnya dikenal ramah juga sebagai kiblat bridge Indonesia.

Organisasi bridge Indonesia (baca : GABSI), melangsungkan kongres yang diikuti perwakilan dari pengurus dari tingkat provinsi, kota dan kabupaten dari seluruh Indonesia. Selayaknya suatu organisasi, GABSI memiliki perangkat AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) yang menjadi pegangan dalam ber-organisasi secara sportif, ksatria, dan jujur.

Tidak dapat disangkal, dalam penyelenggaraan kongres dan jurnas, sebagaimana yang tampak dalam cetakan leaflet, spanduk, dan ruang, dukungan pihak swasta (baca : sponshorship) dan pemerintah daerah. Suatu keadaan yang tentunya sangat menggembirakan sebagai wujud dari pola simbiosis.

Namun apa hendak dikatakan jika kemudian muncul aroma lain bahkan menyesakkan atas penyelenggaraan kongres dalam proses pemilihan ketua umum dan pengambilan keputusan yang terkait dalamnya.

Pemberitaan yang muncul dalam media, mengangkat suasana kongres yang diwarnai dengan tindakan “walk-out” sebagian besar peserta kongres yang hadir dalam sidang dan juga pembawa mandat resmi.

Konon, sikap walk-out tersebut merupakan manifestasi dan ungkapan sikap dari kekecewaan peserta atas “pemaksaan kehendak” dalam sidang yang berusaha melakukan “pembenaran” dalam proses pengambilan keputusan penting. Dalam tulisan dikisahkan tentang pemberian mandat secara berlebihan dan bahkan tidak wajar. Ternyata hal ini dianggap sebagai suatu yang “absah” dan dapat (baca : harus) diterima forum sidang.

Berlarutnya proses persidangan dengan aroma kepentingan tersebunyi (“hidden interest”) merupakan sindroma yang tidaksehat bagi organisasi. Konon, pasca tindakan walk-out sebagian peserta, persidangan terus berlangsung dengan peserta yang tersisa, dan proses pemilihan ketua umum tetap dilangsungkan. Kemudia, berbuah pada penetapan salah seorang kandidat sebagai ketua umum terpilih.

Ibaratkan proses kelahiran, ketua umum baru dipaksakan lahir dengan cara “bedah cesar” (keizersnede). Justifikasi penyelamatan organisasi, janji dukungan besar dana, pengalaman dan kompetensi seakan “madu” yang disajikan dan kelak akan dinikmati insan bridge Indonesia. Akankah demikian yang kelak terjadi tentunya tidak dapat dijawab saat ini.

Dalam situasi ini, kembali sportivitas yang dibingkai dengan sikap ksatria serta kejujuran dipertaruhkan.

Kemunculan gerakan moral dari para “grassroot” bridge yang menggugat persidangan, merupakan juga gugatan atas keberadaan dan pengorganisasian bridge Indonesia. Para stake-holder bridge Indonesia, termasuk pemerintah dan pihak swasta akan menilai dan membangun persepsi masing-masing serta memberikan respon dan pada akhirnya jauh dari perwujudan “sinergi dan simbiosis” yang menguatkan dan bermanfaat.

Kongres telah dinyatakan selesai tetapi belum usai.

Keberadaan gerakan moral yang digadang para peserta yang berjiwa dan semangat “demi bridge”, namun berlabel sebagai peserta sidang yang “walk-out” telah hadir. Pada kenyataannya mereka adalah ujung tombak bridge di persada Nusantara yang berupaya membentangkan “Bridge Over Troubled Water” pada pusaran arus bridge Indonesia. Gerakan moral ini tidak dapat disepelekan dan perlu mendapatkan perhatian karena merupakan awal gerakan perubahan (“Change Movement”) bagi dunia bridge Indonesia.

Secangkir kopi menemani jemari yang menari pada keyboardnotebook saat lantunan lagu Scorpion mengalun merdu.

The wind of change … blows straight into the face of time Like a stormwind that will ring the freedom bell …

Ya … bukan sekadar gerakan moral tetapi angin perubahan

Manado, pekan ketiga September 2014

S. Arnold Mamesah – Pecinta Bridge

(Bagian dari artikel ini pernah dimuat dalam Manado Post, 19 September 2014)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x