Mohon tunggu...
Arnol Goleo
Arnol Goleo Mohon Tunggu... Lainnya - GOLMEN

Penaku bercerita.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Seorang Guru "Laris" di Kelas

31 Januari 2023   08:32 Diperbarui: 31 Januari 2023   17:45 218
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Riaulink.com

Seorang guru memiliki strategi atau mempunyai cara mengajar sendiri di sekolah karena ini salah satu ciri khas-nya dalam memberikan suatu materi. Dan memang setiap orang (guru) tentu memiliki kepribadian masing-masing. Haruskah kepribadian itu dibawa dan di terapkan dalam proses pembelajaran di kelas?

Cara mengajar di perguruan tinggi berbeda dengan di sekolah-sekolah baik di Sekolah Menengah Atas (SMA) begitu juga Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebab dari segi karakter atau kebiasaan mereka berbeda.

Baca juga: Semua Ada Padamu

Oleh sebab itu, seorang guru harusnya "melebur dengan karakter siswa siswi." Misalkan, ini saya memberikan sebuah ilustrasi dalam ekonomi tentang pemasaran atau memahami pasar.

Manakah lebih cepat laris, produknya dibuat menarik atau indah agar konsumen membeli produk tersebut? Ataukah menjual produk sesuai dengan selera konsumen?

Tentu saja, bukan tidak mungkin, produk yang dibuat menarik atau indah (bagus) tidak dibeli oleh konsumen, sudah pasti dibeli. Namun tidak efektif dan efisien.

Contoh, Anda menjual produk mie goreng di desa A tetapi di desa tersebut 80-90% lebih menyukai mie soto otomatisnya dagangan Anda tidak berhasil sebab dari 100% yang laku tidak mencapai 30%. Apalagi 50%.

Sedangkan menjual produk sesuai dengan selera konsumen sudah pasti 50-80% produk atau dagangan Anda laku. Bagaimana dengan seorang guru dalam memberikan suatu materi kepada siswa siswi?

Seperti halnya berdagang, guru harus memiliki pemahaman tentang psikologi kelas (siswa siswi) sebab itu adalah hal penting untuk menjaga agar mereka tidak bosan dan mudah dalam memahami setiap materi yang diberikan kepada mereka.

Di sini, saya memberikan satu contoh lagi, waktu semasa SMA saya dulu, ada salah satu guru. "Menurut saya, beliau adalah guru yang paling cerdas dalam memahami materi dan menyampaikan materi kepada siswa siswi dan apa pun mata pelajaran beliau mampu mengajar; entah itu biologi, fisika, kimia, dan lain-lain."

Ternyata, setelah saya selesai dari bangku kuliah, saya baru menyadari bahwa guru saya dulu (waktu SMA itu) selain paham materi, beliau juga memahami psikologi kelas (siswa siswa). Mengapa?

Misalkan, pihak sekolah menjadwalkan, setiap satu mata pelajaran 1 jam memberikan materi. Namun guru saya "itu" waktu 1 jam dibagi dua. 30 menit materi dan 30 menit humor. Sehingga kami tidak gampang bosan.

Tentu soal tegas beliau juga memiliki ketegasan yang tak diragukan lagi. Dulu, seusai memberikan materi serta contoh-contoh dari rumus matematika atau kimia beliau memberikan kesempatan kepada kami untuk menjawab soal latihan.

Saya masih ingat, biasanya yang menjawab soal latihan adalah teman kami (dia adalah anak dari salah satu guru di sekolah kami). Setelah dia (teman kami) menjawab, guru itu menanyakan kepada kami, apakah jawaban di depan (papan tulis) itu sudah benar? Iya benar. Kami pun menjawab.

Anehnya, "beliau langsung memukul teman kami (yang menjawab) soal tersebut begitu juga dengan kami." Apakah karena salah menjawab soal tersebut? Ataukah karena kami ikut-ikutan menjawab atau membenarkan jawaban teman kami itu?

Sebenarnya, teman kami itu telah menjawab dengan benar tetapi menurut beliau (guru kami) rumus dalam menjawab soal teman kami itu "masih agak sulit untuk dipahami" sehingga guru kami memberikan jawaban dengan rumus yang berbeda dan mudah dipahami oleh setiap siswa siswi, yaitu kami.

Selain itu, ketika beliau sedang mengajar kami mendengar dan memperhatikannya tetapi "jangan seakan-akan tegang atau terlihat tegang, bahkan beliau tidak segan-segan menampar kami karena menurutnya, kami bukan serius mendengar tetapi bengong." Hehe.. Dan itu pernah terjadi pada salah satu teman saya.

Sehingga ketika beliau mengajar semua siswa siswi harus rileks (kelihatan tidak kaku) agar mudah memahami materi apa yang beliau sampaikan itu. Makanya beliau dalam mengajar tidak full dengan materi tetapi dibagi dua seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Singkatnya, selain mengemas produk dengan baik agar konsumen tertarik namun menurut pemahaman saya yang paling utama adalah mengetahui selera dari konsumen.

Begitu juga dengan seorang guru yaitu memahami materi yang diberikan kepada siswa siswi tetapi hal paling utama adalah memahami psikologi kelas (psikologi siswa siswi di kelas) sehingga mudah dimengerti setiap materi dan tidak gampang bosan.

Bailengit, 31 Januari 2023

Arnol Goleo [09:30 WIT]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun