Mohon tunggu...
Arman Syarif
Arman Syarif Mohon Tunggu... Guru yang suka menulis dalam sepi ditemani kopi hitam

Berhentilah mengeluh. Mengeluh tak akan mengubah keadaan.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Nak Fatimah

29 April 2019   08:04 Diperbarui: 29 April 2019   08:09 0 11 4 Mohon Tunggu...

Nak Fatimah, kugurat beberapa penggal bait untukmu ketika senja baru saja melipat wajahnya dan malam mulai membuka gerbang hitamnya.

Kupahat bait ini di kanvas waktu ketika usiamu masih seratus tiga belas hari di dunia fana ini yang kian keriput.

Kelak jika ayah sudah tiada, sudah melebur dengan tanah, dimakan cacing, hingga tinggal tulang sulbi, ayah tak butuh apa-apa darimu.

Ayah tak butuh baju mewahmu, tak butuh kendaraanmu, tak butuh kekayaanmu, kecuali hanya kucuran doamu, untukku.

Mintalah ampunan kepadaNya untukku, karena ayah bukanlah ciptaannya yang maksum.

Pun hanya di dalam keheningan doa saja, ayah bisa bertemu denganmu; mengingatkan kebersamaan yang pernah kita rajut.

Satu hal lagi, nanti, buatlah ayah tenang di alam sana, janganlah karena urusan duniamu, ayah disiksa.

(Catatan langit, 28/04/2019)
Special thanks for Kompasiana, di laman ini ku abadikan perjalanan batinku