Mohon tunggu...
Dicky Armando
Dicky Armando Mohon Tunggu... Orang Biasa

Sederhana.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Peluang Joko Widodo

21 Juni 2019   20:00 Diperbarui: 21 Juni 2019   20:05 0 1 0 Mohon Tunggu...
Peluang Joko Widodo
Dokumentasi Pribadi

Kemarin, seorang teman bernama Badrun mengajukan pertanyaan yang menarik. Oh, ya ... itu bukan nama aslinya, dia minta disamarkan jika topik pembicaraan kami dijadikan tulisan. Ia tahu betul kebiasaan saya yang senang menuliskan fenomena sosial tertentu di internet.

"Apa harapan untuk anakmu kelak?"

Sederhana memang pertanyaannya, tapi substansinya mendalam dan penting. Pertanyaan Badrun seperti oasis di padang pasir, mengingat beberapa hari ini saya sering menemukan pertanyaan dan pernyataan yang--dari sudut pandang saya--tidak berbobot dan sangat "bocah".

Saya berpikir sejenak. Badrun sabar menunggu, ia juga tahu saya menyenangi pembicaraan yang serius, sehingga akan memilih kata-kata terlebih dahulu.

Sungguh tidak mudah menemukan jawaban, karena ini menyangkut seorang anak yang harus lebih baik daripada orang tuanya.

Setelah beberapa saat, saya menjawab, "Tentu saya ingin dia menjadi seseorang yang cerdas, punya banyak harta, dan punya kehidupan bagus. Tapi lebih penting lagi, dia harus memiliki hati yang baik, tidak suka menyakiti orang lain, terjaga lisan serta sikapnya, dan banyak berkontribusi hal-hal positif dalam urusan agama."

"Hati yang baik? Tidak menyakiti orang lain? Hal positif dalam agama? Terjaga lisan dan sikap? Agama? Kenapa itu penting? Aku pikir harta dan pekerjaan yang bagus sudah cukup. Bukankah begitu, Kawan?"

Badrun memang orang yang cukup realistis dalam urusan kehidupan. Saya suka dengan kejujurannya.

"Drun, bukankah kita hidup di dunia ini hanya sementara? Lalu, apa gunanya harta jika hatimu busuk? Apa fungsi kecerdasan jika ternyata digunakan untuk merendahkan orang lain? Aku jelas tidak mengharapkan anakku menjadi orang seperti itu. Apakah kau ingin anakmu menjadi orang yang berjiwa penjahat dan penuh dengki?"

Badrun menggeleng. Kali ini tanpa kata-kata, kemudian ia mengangguk-angguk ringan sambil matanya mengawasi secangkir teh es yang saya pegang.

"Aku pikir ada benarnya juga, ya!" ujar Badrun diiringi tawa yang renyah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2