Analisis

Mengapa Harus Memakai Diksi "Nasionalis dan Religius?

10 Agustus 2018   11:18 Diperbarui: 10 Agustus 2018   11:38 128 2 2

Tanggal 9 Agustus 2018 adalah salah satu hari yang akan diingat oleh masyarakat Indonesia karena di hari itulah kedua poros kekuatan politik Indonesia mengumumkan nama capres dan cawapres yang akan diusung di pilpres 2019. 

Ada kejutan-kejutan yang dibuat oleh kedua pihak itu. Jokowi yang sebelumnya santer diberitakan akan memilih Mahfud MD ternyata malah memilih KH. Ma'ruf Amin.  Prabowo Subianto yang sebelumnya dikabarkan akan menggandeng cawapres dari kalangan religius, malah memilih Sandiaga Uno.  

Apa yang telah diputuskan oleh kedua pihak itu tentu harus kita hormati sebab keputusan itu pasti diambil berdasarkan pertimbangan yang sangat matang.  

Ada sebuah pertimbangan yang sangat diperhitungkan oleh kedua poros politik,  yaitu sosok yang dipilih haruslah dari kalangan nasionalis-religius.  Secara pribadi, saya menilai diksi nasionalis-religius adalah sebuah hal yang sangat keliru untuk dipakai dalam "pertarungan" pemilihan presiden di Indonesia. Setidaknya, ada beberapa hal yang menjadi dasar untuk berpendapat demikian:

  1. Diksi itu keliru karena seorang nasionalis seharusnya adalah seorang yang religius dan seorang religius harusnya adalah seorang yang juga nasionalis.  Kita tahu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan yang maha esa serta menjamin semua penduduknya untuk bebas memeluk dan menjalankan kewajiban agama masing-masing.  
    Di sisi lain, sebagai WNI yang beragama, kita juga dituntut untuk tetap mengobarkan semangat nasionalisme. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak berlandaskan pada satu agama tetapi bangsa yang Pancasila.  
    Lalu,  bagaimana mungkin kita bisa menciptakan sebuah konsep nasionalis - religius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?  Nasionalis-religius itu ibarat satu koin yang memiliki dua sisi.  Atau bisakah kita berpendapat bahwa ada seorang nasionalis tapi tidak religius dan sebaliknya?  Saya yakin kita tidak mungkin dapat menyetujui hal itu.  
  2. Dalam sejarah Indonesia,  tidak ada satu pun pemimpin agama yang berjuang untuk bangsanya demi kepentingan agama atau parpol.  Sekarang ini ada beberapa kalimat yang jadi konsumsi publik.  
    Kalimat itu adalah: "(pemimpin agama kami)  juga turut berperan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia". Dari kalimat seperti itulah,  kemudian para pengikut di masa sekarang mulai sedikit "membanggakan diri" bahwa mereka juga perlu dilibatkan dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.  
    Saya tidak menafikan keberadaan apra pemimpin agama kita dalam memperjuangkan bangsa dan negara Indonesia.  Namun mungkin ada satu hal yang kita lupa bahwa para pemimpin agama kita melakukan perjuangan itu bukan untuk kepentingan agama dan organisasi keagamaan mereka. Namun karena nasionalisme mereka yang sangat tinggi sehingga mereka berjuang.  
    Sekali lagi,  hal ini membuktikan bahwa diksi nasionalis-religius ternyata adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Justru sejarah reformasi Indonesia sendiri mencatat,  bahwa ada satu presiden RI yang berasal dari kalangan religius,  tapi ternyata beliau diturunkan di tengah kepemimpinannya.  
    Beliau adalah Gus Dur.  Sebagian besar orang yang sekarang menggembar-gemborkan nasionalis-religius justru adalah orang-orang yang menurunkan Gus Dur. Bahkan, konon di nisan Gus Dur tertulis "Di sini terbaring seorang humanis". Setahu saya,  dalam sejarah pemilihan presiden dan wapres di Indonesia,  baru pilpres 2019 lah bergema pikiran nasionalis-religius. Sebelum dan sesudah reformasi,  tidak ada satu pun diksi yang membedakan kaum nasionalis dan religius.   

Sekali lagi,  saya tidak ingin membicarakan sosok wapres yang dipilih pak Jokowi dan pak Prabowo.  Demikian pendapat saya.  Jika ada pembaca yang ingin mengoreksi pendapat saya,  maka dengan sangat terbuka dan kerendahan hati saya mohon silakan berpendapat untuk mengoreksi pendapat saya. 

Salam