Kuliner

Makan Pinang di Papua

14 Juni 2018   16:21 Diperbarui: 14 Juni 2018   16:37 1010 1 1
Makan Pinang di Papua
bangka.tribunnews.com

Tradisi makan pinang adalah salah satu tradisi masyarakat Indonesia yang mengunyah buah pinang,  ditambah sirih dan kapur.  Tradisi makan pinang tentu masih kita temukan di sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah Indonesia timur,  seperti Papua dan NTT. Berikut saya tulis beberapa hal menarik tentang kebiasaan masyarakat Papua dalam mengunyah pinang:

  1. Bisa saya katakan, hampir setiap orang asli Papua masih mengunyah pinang.  Makan pinang sangag identik dengan kebiasaan orang yang tinggal di kampung-kampung.  Orang yang tinggal di kota besar tidak lagi mampu memelihara tradisi makan pinang.  Tidak hanya itu, tradisi makan pinang juga sangat identik dengan orang-orang yang sudah sepuh. Sedangkan anak-anak muda sudah merasa risih jika terlihat mulutnya merah karena makan pinang. Hal itu tidak terjadi di Papua.  Orang Asli Papua (OAP) masih terus memelihara tradisi makan pinang.  Dalam berbagai kesempatan dan tempat mereka selalu menyempatkan diri untuk mengunyah pinang.  Bagi orang Papua, tua atau muda,  makan pinang adalah sebuah tradisi yang mampu mempererat persaudaraan.
  2. Cara makan pinang orang Papua.  Cara kami, orang Papua untuk mengunyah pinang pun terlihat agak berbeda dengan daerah lain.  Jika di daerah lain orang mengunyah pinang dengan memakan biji di bagian dalam pinang atau memakan biji pinang yang telah dikeringkan, maka di Papua orang mengunyah pinang dengan hanya membuang kulit luar yang berwarna hijau dan membuang cangkang di bagian ujung buah pinang. Bahkan beberapa daerah di Papua hanya membuang cangkang di ujung buah lalu mengunyah pinang beserta dengan kulit yang berwarna hijau. Selain itu, orang Papua juga memakan pinang dengan memakai batang sirih dan bukan daun sirih. 
  3. Ada pinang yang sering disebut "pinang ojek". Pinang ojek bukanlah nama varian dari buah pinang tetapi adalah sebuah sebutan bagi pinang yang sering dijual di pangkalan ojek. Dengan uang seribu Rupiah, kita sudah bisa menikmati satu buah pinang, satu batang sirih dan kapur.  
  4. Ada peraturan daerah yang khusus mengatur tentang pinang.  Ketika sebagian besar orang Papua masih mengunyah pinang,  maka konsekuensinya akan ada banyak tempat yang dikotori karena ada oknum yang membuang ludah pinang sembarangan.  Di Jayapura,  sangat mudah kita temukan ludah pinang di fasilitas-fasilitas umum.  Untuk mengurangi hal tersebut maka pemerintah kota Jayapura telah membuat peraturan daerah tentang kawasan yang bebas ludah pinang. Perda ini bukan untuk membatasi orang memakan pinang,  tetapi untuk menyadarkan masyarakat akan kebersihan lingkungan dan kebersihan fasilitas umum.  Selain itu,  sedang dirancang perda untuk melindungi dan membina masyarakat asli Papua yang menjual pinang.  Rencananya,  dalam perda ini akan diatur bahwa penjual pinang di Jayapura hanyalah pedagang asli Papua.  

Bagaimana?  Unik kan kebiasaan makan pinang di Papua?  Bagi orang Papua pinang sudah identik dengan identitas sebagai orang Papua. Maka jangan terkejut jika ada orang dari luar Papua yang mengunyah pinang, maka orang tersebut sudah dianggap seperti keluarga oleh orang Papua 

Salam