Mohon tunggu...
Aris Munandar
Aris Munandar Mohon Tunggu... Penulis - Foto : Aris Munandar saat sedang berkunjung ke kantor Kepala Staf Presiden

Berfisik Lokal Bermental

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Deforestasi Meraja Emisi Makin Mengancam

29 November 2019   22:29 Diperbarui: 29 November 2019   22:58 53 0 0 Mohon Tunggu...

DEFORESTASI MERAJA, EMISI MAKIN  MENGANCAM

Deforestasi (penggundulan hutan) menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Tercatat hingga tahun 2019, Indonesia masih menjadi juara bertahan di urutan ke dua.

Menurut data Sistem Pemantauan Hutan Nasional (SIMONTANA) portal media milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dirilis pada awal tahun 2019 ini mencatat bahwa,  deforestasi pada 2014-2015 mencapai 1,09 juta hektar (Ha).

Angka tersebut mengalami penurunan menjadi 0,63 juta ha pada periode 2015-2016, kemudian turun lagi di angka 0,48 juta ha pada periode 2016-2017. Meski mengalami penurunan, tetapi capaiannya tidak sesignifikan yang menjadi target pemerintah yang ditetapkan dalam dokumen Intended Nationally Determined Contribution (INDC) yaitu sebesar 450.000 ha pada tahun 2020, artinya Indonesia masih belum mampu mengatasi tingkat deforestasi.

Hal itu senada dengan Organisation for Economic and Cooperation Development (OECD) bahwa tingkat deforestasi di Indonesia masih tertinggi kedua (setelah Brazil). Adapun OECD mencatat, jika deforestasi di Indonesia terus berlanjut, maka diperkirakan sekitar 9% burung, 27% Mamalia, 3% Reptil dan berbagai spesies lainnya yang tak terhitung jumlahnya akan terancam kepunahannya.

Adapun rincian berdasarkan hasil pantauan hutan Indonesia, pada periode 2017-2018 menunjukkan total lahan berhutan Indonesia seluas 93,5 juta ha, dimana 71,1% atau setara dengan 85,6 juta ha nya berada di dalam kawasan hutan.

Pada  periode ini, deforestasi netto di dalam dan di luar kawasan hutan Indonesia mencapai 440.000 ha. Angka ini berasal dari angka deforestasi bruto sebesar 490.000 ha dikurangi deforestasi sebesar 50.000 ha.

Data di atas tampaknya berbeda dengan Green Peace. Organisasi lingkungan global asal Belanda ini mencatat, dalam kurun periode tahun 2017-2018, terjadi sedikit peningkatan hilangnya hutan primer di Papua di area moratorium. Karenanya, Greenpeace menilai bahwa moratorium bukanlah instrumen yang efektif untuk mengukur tingkat penurunan deforestasi.

Lebih lanjut Green Peace berpendapat selama periode moratorium tahun  2011-2018 menunjukkan bahwa total deforestasi di area moratorium mencapai 1,2 juta ha. Sedangkan total deforestasi Indonesia (di dalam dan di luar area moratorium) mencapai 4,38 juta ha yang berarti bahwa deforestasi di area moratorium setara dengan 27,4% dari keseluruhan deforestasi yang terjadi di Indonesia selama tujuh tahun.

Reboisasi hanya alternatif terakhir, bukanlah solusi atas kehilangan jutaan hektar pohon di Indonesia, namun sebaiknya mencegah pembabatan hutan itu lebih di utamakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN